Dipatuk Spongebob

Aku, Dika, dan Spongebob.jpg
pict: pxhere.com

Akhir-akhir dari beberapa hari terakhir ane “mendekam” numpang di kontrakan kemarin, entah kenapa pola tidur ane yang biasanya macam kalong (kelelawar), berangsur-angsur berubah.

Anehnya, apa yang terjadi itu tidak hanya menimpa ane seorang saja pemirsa. Juga Dika, yang turut terkena sindrom bangun pagi ini. Ini tiba-tiba saja kami anggap tak wajar emang, karena untuk mendapati sindrom ini kami berdua sama sekali tidak mematok niatan secuilpun. Apalagi sampai melalui proses kesepakatan layaknya rapat dan sidang mufakat.

Sindrom ini mulai menyerang dengan gejala-gejala yang tidak kami sadari. Bahkan, langkah-langkah pendeteksian melalui metode identifikasi dari kebiasaan serta aktifitas di hari-hari sebelumnya yang sudah dilakukanpun tidak mendapati titik terang.

Teka-teki lainnya, melihat keseharian kami dengan temen-temen kontrakan yang lain justru tidak ada yang mengindikasikan terdapat perubahan. Yang sering bangun siang, masih bangun siang. Yang sering bangun pagi—sebab diharuskan—masih tetap dengan jadwalnya. Lha, kami berdua? Justru berputar derajat. Patut disyukuri. Tapi, tetap saja ada tanda tanya besar di sana.

Ada beberapa banyak kebaikan bangun pagi yang memang memang tidak bisa dinafikan. Ane pribadi percaya bahwa andil sehat akibat bangun pagi itu ada. Konon, bangun pagi itu bisa bikin rezeki kita nggak dipatok ayam, kata orang-orang tua zaman dulu.

Tapi, tantangan terberat kami berdua menghadapi “sidrom” bangun pagi yang terkesan tiba-tiba ini adalah: kita berdua harus ngapain pagi-pagi begini di saat semua orang pada menikmati masa tidurnya? Syukur-syukur kalo ada jadwal kuliah atau sesuatu dan lain halnya. Ya, mentok memang. Paling nggak kita musti beradaptasi terlebih dahulu. Macam main badminton jaman SD pas minggu pagi, misalnya.

“Weh, udah bangun, Dik?”

“…”

Kamu bangun jam berapa, Har? Barusasn po?

Antara pukul 4 – pukul 8 pagi, begitulah percakapan awal kami saat pagi pagi, dan begitu sebaliknya. Kurang lebih. Tergantung siapa yang terbangu lebih dulu. Tanpa ucapan selamat pagi atau formalitas-formalitas lain, tentunya. Khas!

*  *  *

Jadi, kementokan yang paling kami berdua lakukan ialah menyalakan televisi dan hunting channel-channel yang menurut kami berdua layak untuk ditonton meski haru melewati langkah-langkah diskusi dan kompromi perihal selera tontonan kami berdua yang—tak perlu diperdebatkan—masing-masing berbeda.

Di awal-awal sindrom ini muncul, channel televisi kami bongkar-bongkar dari channel nomor 1 sampai 18. Tak lain tak bukan untuk mantengin program televisi yang dapat lolos dari studi kelayakan untuk dipantengin bareng.

Bukan acara berita, apalagi infotainment yang penuh selebaran gossip. Tapi, kartun. Ya, yang penting kartun. Dan, kartun yang paling diutamakan adalah Spongebob si celana kotak. Ada kesepakatan saat melihat Spongebob (kembali) tayang di salah stasiun tevisi yang ketika masa jayaannya dulu memang terkenal dengan banyaknya suguhan-suguhan kartun. Hasilnya, tidak ada “next” untuk Spongebob saat itu.

Hari-hari selanjutnya, Spongebob pasti kami cari lagi. Kalau belum nongol juga, ya ditungguin. Kalaupun misal, si Kuning sponge itu absen atau jam tayangnya kerburu duluan kelar, masih ada kartun-kartun lain yang masih bisa dijajal. Beberapa kali, Inuyasha, sampai sekaliber Samurai X bisa kami saksikan lagi. Duh, reuni banget dah pokoknya. Hehe…

Alhasil, rezeki-rezeki itu bukan lagi dipatok ayam atau apalah itu. Tapi, dipatok Spongebob dkk, apalagi kalau bukan dipatok sama kegilaannya Spongebob, kekonyolan Patrick Star, kegelisahan Squidward Tentacles, kekikiran Tuan Eugene Harold Krabs, ketangguhan Sandy Cheeks, kelicikan Sheldon Plankton, dan kecanggihan istrinya, Karen Plakton, serta kesabaran Nyonya Puff, sampai kerancuan seekor paus bernama Pearl Krabs, yang kok bisa-bisanya jadi anak dari seekor kepiting Krabs.

Sekarang, ane tanya dengan pertanyaan yang sedikit lebihnya mengutip pernyataan dari salah satu meme yang bisa ditengok di gang-gang jagat maya. Kira-kira begini; bagaimana bisa api unggun nyala dalam air di dasar laut Bikini Bottom?

Sebuah pertanyaan yang sulit, bukan? Lebih sulit daripada misteri-misteri politik di negeri ini. [ara]

Advertisements

9 thoughts on “Dipatuk Spongebob

  1. Saya juga begitu mas. Biasanya klo bangun terlalu pagi malah bingung sendiri mesti ngapain. Soalnya biasanya baca2 sampai malam. Dan bangun agak siangan sebelum berangkat kerja. Tetapi saya juga pingin rutin bangun pagi. Anehnya, justru ketika niat seperti itu malah bangun siang. 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s