Ujian Buat si Mbah

danu-isi-yogyakarta-e1507962794192.jpg
pict: @danupratama001

Siang hari itu, bertempat di kontrakan Septian sepulang jumatan, salah seorang sohib ane diusik dengan suara merdu petikan gitar yang dimainkan Mas Tris. Petikan yang meniru intro dari salah satu tembang lagu yang berjudul “Buaian” milik Danilla itu secara tak sengaja mengalihkan perhatian seorang Danu yang sedang asyik berusaha menyejukan badan gemuknya di depan kipas angin karena sempat diserang habis-habisan oleh panasnya matahari.

Mas Tris yang saat itu sedang menunggu detik-detik jadwal aktivitasnya sebagai wartawan dari salah satu surat kabar harian di Jogja, awalnya terlihat iseng memainkan gitar kesayangannya si Danu. Lebih terkesan asal-asalan daripada melakukan stem, padahal Mas Tris bisa dibilang mampu untuk memainkan gitar walaupun nggak sejago si Mbah (panggilan akrab Danu). Tapi, tiba-tiba, bunyi gitar itu berubah sesuai dengan gaya permainannya seperti biasa.

Danu yang sedang asyik selonjoran menghalangi jalan di ruang tengah, seketika saja bereaksi. “Wuih, bagus tuh, Mas!” Serunya, sendiri. Mas Tris yang memegangi gitar langsung dimintai mengulang petikannya. “Coba lagi Mas, aku pingin denger yang barusan”. pintanya.

Dan, hal yang sangat jarang pun terjadi. Ia mencoba menirukan nada. Karena beberapa kali merasa belum pas, pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya, benar-benar ada. Danu yang selalu diminta untuk mengajari Mas Tris, kini berbalik. Dari yang biasanya lebih mirip macam guru les musik, ia berubah peran menjadi murid. Dengan kata lain, hari itu, presumsi yang selama ini terdengar bahwa ‘roda itu berputar,’ tegas mengacungkan jari sebagai satu buah aksioma.

Bagi seseorang yang sangat akrab dengan musik, Danu seringkali memperlihatkan gelagat-gelagat yang aneh—menurut orang-orang awam yang kurang berdekatan dengan musik seperti ane. Namun, sebenarnya itu adalah bentuk bakat dari seseorang yang kesehariannya memang sangatlah erat dengan hal-hal yang berbau musik. Ia merupakan salah satu dari sekian orang yang memiliki kepekaan “ekstrim” terhadap nada-nada.

Tak heran jika ujian musikalitasnya dengan Mas Tris hari itu: tidak boros waktu. Mas Tris hanya sekadar mencontohkan saja.Dan, dengan beberapa kali “remedial” saja, Danu sudah bisa menirukannya. Itupun, pertanyaan tentang “apa kuncinya” tidak pernah terlontar selama sesi les itu berlangsung, melainkan keinginannya untuk menjadikan intro lagu tersebut sebagai bahan gitar-gitaran di waktu-waktu senggangnya.

Pernah setiap kali ketika dia mencoba untuk terlelap, ane atau temen-temen yang lain memutar musik. Jika suara musik yang kita putar masih terdeteksi oleh jangkauan inderanya, tidak jarang ia mengeluh karena merasa terganggu. Kadang mengkritik, kadang memuji-muji lagunya. Mulai dari menebak-nebak kunci nada sampai gestur-gestur “ganjen” ketika mendengar musik. Pada waktu-waktu normal, seringkali kita bakalan dikejutkan sama tingkah musisinya ini, dan itu masih mending. Namun, saat ia sedang dalam sleep mode: ia lebih mirip seperti patung semar yang mengigau! Satu-satunya cara untuk menyalamatkan diri adalah: dengarkan musik menggunakan earphone supaya tidak ada pertempuran nada antara suara musik melawan ocehan mantra milik si Mbah Danu.

Separah itukah “cobaan” manusia-manusia yang diberi anugrah kecerdasan tipe-jenis ini? — pikir ane. [ara]

One thought on “Ujian Buat si Mbah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s