AI, Tolong Nggak Usah Sok Bikin Njelimet, Deh!

AI

Gara-gara perkembangan teknologi, dunia dan kehidupan kita jadi kayak banyak rintangannya. Banyak banget! Padahal, konsep awalnya itu bikin apa-apa jadi gampang, kan? Kecanggihannya memang bikin kagum, tapi makin kesini kok ya makin belibet gitu.

Semenjak ada hape, kita jadi gampang berkomunikasi jarak jauh. Tapi karena persoalan harga layanan, kemudahan itu jadi makin mudah plus juga murah. Okelah, ini masuk dalam transisi yang josh. 

Cuma, kalau kita lihat jaman sosmed sekarang ini ya monggo tarik nafas perlahan, kemudian hembuskan. Udah bukan keluhan unik lagi kalau sosmed ini tuh makin aneh. Anehnya itu bisa kita jadiin kliping setebal skripsi mahasiswa yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Jujur, sosmed udah mulai bikin saya gerah. Akun yang kepingin baik-baik saja bisa jadi bahan cemoohan netizen. Dan, begitulah dunia kita sekarang ini. Mau dibilang: kita berada di antara belahan nyata dan virtual, agaknya itu terlalu kelewat keren.

Kemudahan-kemudahan yang tercipta oleh teknologi jadi seolah ngebentuk sepotong beruang bumerang. Apa-apa jadi bisa mudah, termasuk haram-halal, atau sampai pada dakwah serampangan dari mulut-mulut netizen, misalnya.

Semua jadi mudah. Mudah diperbudak diperdebatkan.

Lain sosmed, lain pula ruang tekno lain. Kemarin, saya lagi nyari-nyari smartphone bagus, asik! Pencarian ini benar-benar dibutuhkan. Saya butuh tahu tentang smartphone canggih terbaru buat jadi bahan fantasi. Kau tahu, Gaspar? Fantasi itu juga perlu di upgrade. Nah!

Karena tahu kalau dunia sekarang udah canggih, saya tinggal browsing di internet, dong. Gak perlu jalan-jalan ke pasar-lah cuma buat hal sepele macam gitu.

Cuma baru beberapa saat kemudian, rencana awal saya itu tadi pelan-pelan jadi bergeser. Entah karena algoritma otak atau iman yang salah, euke tersesat. Gak ada lagi soal hape-hapean, tiba-tiba layar ponsel kentang saya menampilkan sebuah artikel berita yang untungnya masih nyangkut dalam rubrik teknologi.

Kerennya, artikel itu pake bahasa inggris. Bermodalkan pengalaman sehari di Kampung Inggris pare pas nganterin sepupu, saya penasaran. Paragraf demi paragraf saya simak pelan-pelan. AI That Hides Your Emotions From Other AI, begitulah judul yang tertulis.

Sampai di garis terakhir, fixed saya bingung. Pertama, jelas karena saya sok-sokan akrab sama bacaan aseng, ehem! Kedua, walaupun sudah dibantu dua translator, Google dan Bing, saya malah bingung lagi; kenapa judulnya sesuai sama isi artikelnya? Maunya kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) ini apasih sebenernya?

Isi artikelnya kurang lebih: ada sebuah konfigurasi AIㅡbesutannya para peniliti dari Imperial College Londonㅡyang mulai dipakai buat menyembunyikan isyarat emosional penggunanya. Emosional yang ditutupi itu adalah isyarat yang tersirat dalam suara pengguna pas lagi berbicara dengan asisten virtual (virtual assistant) berbentuk speaker.

Kedengaran keren, cuma masalahnya ada pada fungsi AI ini. Bagaimana ceritanya, AI ngebantu pengguna sembunyikan emosi suaranya dengan speaker pinter yang  dipasangi AI berkemampuan membaca isyarat emosional dalam suara yang diterimanya?

Rasa-rasanya kaya, pertarungan 01-02. Saya nggak terlalu tertarik sama alasan apa yang diusung dari terciptanya “AI vs AI” ini. Dua karya canggih yang semata-mata cuma bikin njelimet buat memperhatikan lanskap teknologi sekarang ini.

Ketika sistem AI dengan kemampuan membaca emosi ramai-ramai dibuat, malah ada AI lain yang jadi tandingannya. Jadi, emosi suara ini mau dibaca atau enggak sih? Ibarat korek api, di dalamnya ada pemantik api pintar tapi ada fitur pintar lain di dalamnya yang bisa mancurin air otomatis pas apinya menyala.

Lama-lama kalau yang beginian terus ada, bukan netizen aja yang beradu bacot. Tapi juga robot-robot pinter jadi ikut-ikutan sok pinter sendiri, terus berantem sama sodaranya sendiri. Masak iya, kelak bakal ada AI yang ngerisak AI lain gegara ngepost sesuatu di Instagram? Kan, lucu…

Jangan-jangan, ini tanda-tanda kalau AI itu memang tidak perlu dibuat kaya kata orang-orang? Cukuplah perdebatan “kloset jongkok vs kloset duduk” aja yang bikin tata cara buang hajat kita jadi ruwet nan njelimet. Gausah sok-sokan, deh!

Jadi, gimana? Diaduk atau enggak diaduk, nih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s