Pamer Sexy di Samping TV

Two whte cups with espresso

Sepulang dari acara kongkow bedua bareng si Ali di Gandroeng Kopi, Yogyakarta, kemarin malam, membuat ane mengingat-ingat kembali sebuah cerita nostalgia di tempat yang sama pada medio November tiga tahun yang lalu. Saat itu, ane ada janji. Sebuah janji bertemu untuk sekedar ngobrol-ngobrol berdua bersama Shinta, seorang teman yang ane kenal di pusat kawasan kampus UMY, Bantul ketika masih numpang tinggal karena belum menemui kost-kost—an di sekitaran kampus tempat ane nguliah.

Janjian ane dengan Shinta kala itu berada di rentang waktu setelah isya’ tiba. Tapi karena dering notifikasi Whatssapp di HP Symbian ane tidak berhenti bunyi sejak tadi, ane ngerasa bahwa kedatangan ane sedang benar-benar ditunggu. Benar saja, ternyata Shinta sudah tiba lebih dulu di lokasi janjian dan menyuruh ane datang segera. Alhasil, setelah merapikan sejadah dan kain sarung, ane bergegas melipir meninggalkan kost-an untuk menyusulnya.

“Cepetan, ih! Kamu ni lama banget. Aku tunggu di dalem ya!? Di bagian belakang. Jangan lupa uang parkirnya,” serunya, melalui pesan Whatssapp yang dikirimkannya.

Setelah ane sampai di lokasi dan membayar parkir sesuai peringatannya, ane masuk dan mencari sosoknya di tengah keramaian orang-orang yang  ane duga, masih sesama Mahasiswa. Tepat di bagian belakang dari tempat tongkrongan ini, ia terlihat bertengger duduk di kursi—meja dekat tembok. Cukup mudah menemukan temanku ini, karena hanya dia sendiri yang duduk sendirian di tengah ramai meja-meja yang penuh terisi.

“Yow, udah lama, Ta? Enak nunggunya? Hehehe.” Sapa ane singkat sedikit canda ejekan.

Ia hanya tersenyum mandangin ane. Setelah ane duduk, ia menunduk tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Alhasil ane pun ikut diam melihat dua cangkir kopi yang masih penuh bergeletak di meja. Ane pegang salah satu cangkir yang ternyata sudah menghangat suhunya.

“Eh, yang itu punyaku. Ini punyamu, Kopi Tanggung. Udah aku pesenin tadi.” Tiba-tiba dia berucap demikian sembari memberikan satu cangkir yang lain ke arah ane. “Iya, sama-sama,” lanjutnya lagi, menyindir.

“Iya, makasih. Maaf, aku datengnya lama. Tapi Ta, aku bersikeras kalo aku masih belum terlambat dari rentang waktu janjian kita yang kamu tentuin ini,” jawab ane, siap menyeruput kopi favorit ane di tempat ini.

Ane lihat Shinta tersenyum. Namun, masih menunduk sibuk dengan Blackbaerry-nya. Dingin.

“Tapi, yang ngajak ketemuan kan kamu? Supaya balance, aku yang nentuin waktunya. Impas, kan?” ungkapnya, datar.

“Jadi?” Tanya ane singkat, sambil mendekatkan jarak wajah dengan wajahnya.

“Gimana kamu sama Tuti (bukan nama sebenarnya)?”

“Di ambang batas.” Jawab ane. “Kenapa tiba-tiba kita ngebahas ini? Ada topik yang lebih bermartabat sedikit gak?” Ane protes dengan pancingannya agar ane sedikit menggelar sesi curhat.

“Terang-terangan kek gini justru lebih bermartabat, Har. Ketimbang kamu nggak sadar kalo kena sama pancinganku lagi kek yang sudah-sudah, kan?” Dengan ucapannya itu, ane mematung. Kalah telak. “Baiklah.” Ucapku dalam hati.

Obrolan kami berdua terhenti. Sedangkan meja-meja di sekitar kami masih ramai dengan para pengunjung yang lain. Gelak tawa mereka sedari tadi seakan menelan kalimat yang ane dan Shinta keluarkan. Masing-masing Handphone kami tergeletak di Meja. Dua cangkir kopi tadi juga masih bersisa. Kami saling memandang satu sama lain, melihat-lihat sekitar, memandangi tepian sawah di samping kedai. Lama, kami hanya saling terdiam.

“Har, bisa kita lanjut? Dari tadi aku nungguin kamu ngerangkai alur cerita dari curhatan yang bakalan kamu sampein, lho.” Jleb, keheningan tuntas dengan ucapannya. “Yang benar saja,” dalam hati ku berucap. Dia memprediksi itu, dan benar.

“Oke. Iya, aku udah putus. Lebih tepatnya dia memutuskan status pacaran yang dibuatnya sendiri secara sepihaknya itu.” Kata ane.

“Hmm… Maafin aku.”

“Lah, maksudnya? Kenapa kamu yang minta maaf?” Ane terheran.

“Iya, saranku yang kemarin nyuruh kamu pasang namaku di status WA-mu itu hal yang riskan sebenarnya. Maksudku kecepetan,” ia menjelaskan. “Aku minta maaf soal itu.” Lanjutnya.

“Udah nggak apa kok, Ta. Mungkin itu udah waktunya. Thanks malah. Kamu udah mau dengerin ceritaku.” Ane, santai seperti di pantai.

“Luka, atau bahkan bilur.”

“Dia punya pada akhirnya. Aku juga punya pas awalnya. Aku pikir seimbang. Meskipun, bisa dibilang nggak pantes. Dia juga sahabatku, Ta. Bilur juga elegi akut pasti ada. Tapi, aku percaya kita (Ane dan Tuti) berdua bisa ngesampingin ‘luka-luka’ itu pas ketemu. Santai, Ta. Kejamlah sedikit. Dia juga tahu kalo status temen itu masih berlaku.”

“Status? Apa itu kamu copas dari kata-kata yang ditulisnya diakhir pesen WA ini?” Shinta nunjukin riwayat obrolan ane dengan Tuti yang mutusin ane. Sedari tadi, dia memang ngebuka Symbian ane sambil dengerin ane bicara. Dia melanjutkan bahwa kata-kata “status teman” itu hanyalah bualan. Paling banter tidak akan saling bermusuhan namum tidak akan seakrab dulu.

“Canggung bakalan merdeka ngebikin pager di antara kamu sama dia.”

“Hmmm, kita lihat aja kedepannya seperti apa. But, jujur. Apa yang kamu bilang itu masuk akal juga, sih.” Ane jawab, santai. Berharap obrolan ini lebih mencair lagi.

“Ya, Oke.” singkatnya, ia mengangguk.

Obrolan kami berdua kembali terhenti. Sedangkan meja-meja di sekitar kami mulai sepi dengan suara para pengunjung lain. Gelak tawa mereka sedari tadi seakan ditelan kalimat-kalimat yang ane dan Shinta keluarkan. Masing-masing Handphone kami kini dikuasai Shinta. Dua cangkir kopi tadi juga sama-sama masih bersisa. Tentu kami saling seyap satu sama lain, Shinta melihat-lihat sekitar, juga memandangi tepian sawah di samping luar. Berbeda dengan ane yang kini berfokus pada sebuah televisi besar yang berada di sudut. Di samping TV itu, ada satu meja yang masih diduki empat orang pengunjung, keempatnya adalah wanita yang sedang seru bermain kartu.

Lama, setelah perbincangan perihal Tuti itu, kami lagi-lagi hanya saling terdiam. Mematung. Hanya saling lirik sesekali saja. Ane rasa saat itu, kita berdua saling sibuk mencari topik bahan obrolan. Tapi, ane yang memandangi televisi agak sedikit teralihkan dengan keempat orang yang berada di samping benda yang menayangkan saluran Glob*al TV itu dan ane tahu Shinta mengetahuinya. Jujur, mereka berempat di meja itu menarik. Berpakaian sexy? Iya. Tapi, ane tidak sampai melototi mereka. Televisi masih tetap menjadi tameng yang utama.

“Kenapa kita nggak bawa Uno tadi ya? Lumayan buat varian” Tanya ane basa-basi

“Hati-hati, mereka tuh tahu kalo kamu nyuri-nyuri pandang ke mereka.”

“Lah, eh? Iya, po?”

“Iyalah, aku yang merhatiin kamu dari tadi aja pasti kamu nggak tahu. Kamu ngelirik ke aku beberapa kali, pas kan ketemu? Hayoloh, mati loh.”

“Nggak ya, aku lihatin tipi kok dari tadi.” Ane melanjutkan dengan mengecilkan suara, “cewek itu kayak pamer sexy di samping tipi. Apalagi dua orang yang duduk ngebelakangin itu.” Ane mengelak, membela diri.

“Mungkin kamu ada benernya. Menurutku, itu lumrah. Hmmm..” Ia tidak melanjutkan perkataannya.

Membenarkan apa yang dibilang Shinta, ane berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain. Bisa dibilang, berhenti mencuri-curi pandang pada keempat wanita yang sedang bermain kartu di sana.

Namun, selang beberapa saat. Salah satu anggota dari keempat wanita itu menghampiri kami. Ia menyapa Shinta terlebih dahulu. Semacam asking permission, wanita itu meminta ijin untuk melakukan “kekonyolan” akibat kalah bertaruh dari permainan kartu yang mereka mainkan sejak tadi.

“Maaf mbak, aku kan kalah main kartu barusan nih. Terus, hukumannya tuh harus kenalan sama cowoknya mbak. Nggak apa-apa kan ya?” Pintanya, sambil duduk di samping Shinta.

“Oh, iya silahkan. Aku yang kenalin atau mau kenalan sendiri, nih?” Jawab Shinta merespon. Aku terpaku, kikuk sekaligus gagu.

“Hukumannya sih harus kenalan sendiri.”

“Oh, yaudah. Silahkan, mbak. Nggak-papa. Monggo”. Ane tahu Shinta nyengir girang ketika itu.

“Mas, aku Mawar (bukan nama sebenarnya). Pacarnya cantik loh, mas.” Dengan senyum cengenges, ia mengatakannya.

“Oh, Iya. Hari. Congrats ya buat kekalahannya” Sambil berjabat tangan, perkenalan itu dimulai.

“Iya, mereka mainnya curang tuh, mas.” Jawab wanitu itu. “Monggo deh, dilanjutin lagi. Sorry aku jadi ngeganggu e.” Dia pun ngeloyor beranjak dan kembali ke asalnya. Kulihat mereka tertawa-tawa kecil terkesan ditahan-tahan. Ane cukup Gerang.

“Cieeee, aku cemburu loh, Har. Cieee”

“Asyem, kejem kamu tuh. Tapi, kok tangannya dingin, ya?”

“Helleh, bilang aja doyan. Salaman lagi gih, sana.”

“….” Aku terdiam. Entah refleks atau apa, secara spontan ane mandangin Shinta dan tersadar. Bahwa dia benar-benar cantik malam itu. Tiba ane terpaku melihatnya. Mungkin sedikit leba. Tapi ane terpukau tiba-tiba. Riasannya terlihat natural seperti biasanya. Penampilannya juga, manis sesuai dengan gayanya seperti biasa. Rambut panjangnya terurai, T-shirt abu-abu dan kalung salibnya seolah menyatu dengan celana panjang putih yang mengikutsertakan sneaker putih yang dipakainya. Tapi, entah mengapa malam itu —dia begitu BERBEDA.

Sekejap, ane memandangi wanita di meja samping TV yang masih betah dengan kartu mereka. Lalu, ane mengarahkan pandangan ke wajah Shinta lagi. Ane melihat, Shinta tersenyum. “Kamu memang cantik, Ta. Beneran cantik,” mendadak, kata-kata itu terngiang di benak ane seakan menyetujui pujian untuk Shinta tadi

Melihat ane bengong memandanginya, “Oy, malah bengong. Ngopi, geh. biar. Nggak kejang.” Ane denger, Shinta agak terbata mengatakannya, namun senyumnya masih ada.

“Iya, lagi dikit nih. Segelek lagi juga abis, kok”

“Har, itu punyaku. Kok error terus sih dari tadi?”

“Hehe, ya mangap. Aku mana tahu. Lupa, e.”

“Dari tadi juga, cangkirku kan di situ terus!?” keluhnya. “Lagian kamunya sih aneh. Tumben-tumbenan ngambil cangkir pake tangan kiri. Sok kidal, gemeter lagi pas ngangkatnya.” Panjang lebar Shinta ngomelin ane. Lagi-lagi, dengan spontan entah kerasukan apa, ane meraih tangannya dan bilang “Kamu beneran cantik. Shinta.”

“Emang dari lahir kok, Har,” Mendengar jawabannya itu, ane pikir sungguh konyol apa yang ane lakuin barusan.

“Udah yuk, anterin aku balik. Udah jam sebelas juga, nih. Soalnya, mesti bobo cyantiks.”

Anepun mengiayakannya tanpa banyak bicara. Gugupnya ane masih bermekaran dalam pikiran. Salah tingkah, bingung harus berbuat apa dan menuntut suasana untuk kembali normal sediakala. Kala itu.

*  *  *

Ane ingat, setelah mengantarnya (lebih tepatnya mengiringinya, sebab dia juga membawa motor) kembali ke “sarangnya” di sebuah rumah kontrakan, pesan Whatssapp-pun masuk menggetarkan kantong kanan celana panjang andalan ane ketika masih berkendara menuju jalan pulang —seinget ane itu di kawasan jalan Kusumanegara.

“Cieeeee……” dua orang teman satu kontrakannya yakni Venta dan Mbak Irene, mengirimi pesan yang isi pesannya kembar serupa tak ada beda. Kompak, pikirku. Ane membalas keduanya dengan singkat sedikit lebih panjang, “Ampun. Janji nggak lagi-lagi deh.” Motor ane geber lagi menuju arah Timoho menembus Gowok.

*  *  *

Sesampainya ane di pembaringan paling sempurna yaitu kasur angin tercinta, dering handphone ane lagi-lagi berbunyi, menotifikasi. Sumringah, pesan —kali ini sms— datang dari Shinta. “Makasih waktunya. Nite, sayang.” Akhiran emotikon big hug, menjadi penutup yang indah malam itu.

Namun, karena kebetulan pulsa ane tidak mengijinkan untuk ber-SMS ria, akhirnya ane membalas pesannya melalui layanan Whatssapp yang waktu itu, masih support di HP (Nokia E63) canggih jadul kepunyaan ane. “Oke, nite juga, Ta. Baek-baek tuh. Tidur ‘cantiknya’ jangan ngorok, loh. Di kampus besok kurang-kurangin gilanya, ya. Hehe,” terkirim dengan tanda centang dua berwarna biru yang menyusul segera.

“Besok tuh Minggu, tauk?! Kurang-kuranginlah begoknya dikit, say.” Balasnya segera dengan sms, lagi.

WA ane nggak mau kalah, “Eh, iya yak. Tadi malem minggu, tah? Hehehe, maapin lah. Maklum nerpes, soalnya. Btw, trims loh kopinya”

“Iyadeh iya. Inget bulannya aja. Selebrasinya fleksibel aja.” Walapun agak kurang nyambung, ane mengerti maksud pesannya tersebut.

*  *  *

Semenjak itu, selembar sticky note kuning yang sudah bertuliskan nama lengkap Shinta; beserta “8/9 November 2014,” tertempel di cermin kamar kost-an ane selama 8 bulan —ya, kurang dikit sih. Walaupun “pertempuran” antara SMS dan WA itu (menurut ane) sebagai sinyal-warning, ane inget banget karena kisah itu cukup memorable buat ane —juga Shinta yang berberapa kali sempat berkabar dan masih berhubungan baik dengannya. Bahkan, ane sempatkan meminta ijin via Whatssapp untuk membawa-bawa sosoknya ke tulisan ini.

Gandroeng dengan ramai pengunjungnya hingga kini, berhasil ngebawa ane kembali mengingat-ingat, terutama si Mawar yang ane rasa saat itu lebih berperan seperti Cupid, si Dewa Cinta dalam mitologi Yunani daripada “pesaing televisi.” Gegara si Ali juga sebenarnya, make ngajakin ane ke tempat historis itu lagi (kemarin).

Selain trigger-trigger  itu, Nokia Symbian ane masih bisa hidup dan sanggup menunjukkan riwayat-riwayat nostalgia sebagai bahan-bahan tulisan ini terbentuk. Meskipun tanda-tanda penuaan sudah (banget) terasa pada zaman layar sentuh dan gadget hybrid sekarang ini, namun karena HP tua itulah “Pamer Sexy di Samping TV” ini bisa lahir sebagai judul yang membingungkan karena kesan tidak nyambungnya kemungkinan terlihat sehingga para pembaca bisa saja tidak percaya dengan true story-nya.

Advertisements

14 thoughts on “Pamer Sexy di Samping TV

      1. Nah, loh…. hayoloh…. *tanda-tanda puisi baru bakal lahir nih* hahaha. | Udah ah, bang. ngeri kalo ada kata “menunggu.” | Sebenernya ada sepotong ‘clue’ yang ane tinggalin di postingan ini. anjaaaaaaaay… -_- *mendadak detectif [K]onan.

        Liked by 1 person

      2. Tidak, bukan kebetulan dua minggu lalu sobat ak yg kebetulan mmlk nama sama, sdng mencari kosan n ak cb bantu. Kalau dari latar waktu sama angkatan symbian haha.

        Nah, entah di mana clue itu. Ak sdh terlanjut terjebak sprtnya.

        Liked by 1 person

      3. Angkatan 2014 po, Bang? | Symbian itu ane pke pas semester 1, di semester 2 berduet dengan satu Android, dan pertengahan semester 3 resmi tersingkir akibat Android baru. | Ane gk pasang ranjau loh, bang. kok bisa kejebak itu loh.. ??

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s