Anti “Bisik-Bisik Tetangga” ala Setnov

Anti Bisik-Bisik Tetangga ala Setya Novanto - 18 November 2017.jpg
sumber: qerja.com

Menurut kabar yang ada, 11 kali panggilan yang sudah dilayangkan KPK untuk Setya Novanto. Total itu adalah panggilan pemeriksaan terhadap ketua DPR-RI tersebut baik sebagai saksi maupun tersangka. Namun, alih-alih kooperatif, Setnov justru meliak-liuk melakukan banyak manuver sehingga terkesan lari dari kasus yang disangkakan kepada beliau. Bahkan, cenderung membangkangi dan menunda-nunda proses hukum.

Masifnya perhatian pada sosok Setnov merupakan hal yang tak berlebihan. Bukan kebetulan jika kasus yang membelitnya ini merupakan kasus hukum yang paling dibenci. Ini ditambah dengan pesaingnya, KPK yang notabene merupakan lembaga yang masih menjadi kepercayaan publik.

Akibat pergerakan licin beliau, bisik-bisik dugaan publik kian ramai mengiringi setiap jurus-jurus berkelitnya. Banyaknya model jurus yang diperlihatkan, membuat level suuzon itu semakin masif.

Dari banyaknya reaksi dan desakan masyarakat selama dipertontonkan manuver-manuver khas tersebut, tak terlihat sama sekali indikasi Setnov untuk menuruti. Sekian banyak jumlah masyarakat yang mendesaknya “keluar sarang.” Dan, berapa banyak jenis model pengamat yang mengkritisi setiap langkahnya? Bahkan, Akbar Tandjung, politisi senior partai Golkar pun sampai menyarankannya untuk mempertimbangkan opsi mundur kepadanya dari posisinya yang juga menjabat sebagai ketum partai pohon beringin tersebut.

Maka tak heran, internal Partai Golkar ikut merasakan efek domino dari timpaan kasus korupsi yang membelit ketua partainya itu. Bahkan, selain saran mundur, Golkar juga dikabarkan sedang gencar membahas kejelasan posisinya sebagai ketua umum partai.

Hal itu menunjukkan bahwa ada kekhawatiran sehingga menimbulkan kegaduhan di internal Partai Golkar sendiri. Jika berkaca pada apa yang pernah menimpa Partai Demokrat ketika diderap rentetan kasus korupsi berantainya waktu lalu, pantas apabila gejala penurunan public trust menunjuk Golkar sebagai target gilirannya.

Menurut hasil survei dari Center for Strategic International Studies (CSIS), elektabilitas Golkar tahun 2017 ini merosot ke angka 10.9%. Secara peringkat, Golkar  berada diatas partai Demokrat yang menempati posisi keempat dengan perolehan hasil 6.4% dari survey yang dilakukan pada 23–24 Agustus 2017 tersebut.

Namun, kecurigaan publik beserta kegaduhan di tubuh parpol yang diketuainya itu tetap saja tidak membuat beliau memperlihatkan kejelasan. Hanya dianggap angin.

Sangatlah pantas, apabila prinsip “anti bisik-bisik tetangga,” dianggap benar-benar dipegang teguh oleh Setnov sepanjang beliau menerapkan manuver-manuver egoisme politiknya dalam menghindari kepentingan KPK. Kepentingan publik Indonesia.

Pada Akhirnya, ketika kabar kecelekaannya Pak Setnov mencuat, secara tak langsung publik mendapat kejelasan. Alih-alih mendapatkan simpati dari publik, musibah tersebut justru dinilai sebagai perekayasaan fakta. Bukan menunggu sembuh, publik malah memberi kesan mendesak. Mendesak untuk segera sembuh.

Tapi yang jelas, musibah kecelakaan tunggal yang menimpanya itu menimbulkan pertanyaan lain. “Apakah kecelakaan itu adalah lakalantas murni atau memang termasuk dari ujung perjalanan anti bisik-bisik tetangga ala Setya Novanto?”

Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Jawabannya, ya hanya Tuhan dan Setnov yang tahu.

Advertisements

8 thoughts on “Anti “Bisik-Bisik Tetangga” ala Setnov

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s