Tak Mudik Juga Punya Derita

Mudik – Foto: Media Indonesia

Lebaran syudah di depan mata. Saking deketnya nih, sebagian besar golongan perantau mungkin sudah kelar nuntasin prosesi mudik yang terkenal sakral. Selesai dengan penderitaan-penderitaan ketika sedang dalam perjalanan.

Memilih mudik berarti setuju sama konsekuensi yang ada. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita mesti menggerutu legowo. Mulai dari penderitaan repotnya persiapan, lebam bokong kelamaan duduk di perjalanan, sampai keterusan ngalami hal-hal klise lainnya.

Tapi, yakinlah bahwa penderitaan-penderitaan itu belum sepenuhnya usai. Selepas tiba menapakkan kaki di kampung halaman, kepenatan yang cenderung menyerang fisik itu berganti. Tukeran dengan ujian-ujian yang lebih condong menggerogoti mental hati dan hela nafas yang amat spirituil.

Kemudian, pemudik-pemudik ini bakal merasa terdesak. Ingin sekali rasanya mengutip kata-katanya Antonio Jose Bolivar Pronao dalam Novel Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta (hal. 31) besutannya Luis Sepulveda yang bertuliskan: “Orang-orang udik itu memaafkan apa saja, kecuali (yang mereka anggap) kegagalan.

Untuk itulah, terlihatlah sukses ketika sampai tujuan, lurr! Hahaha…

Tapi, tunggu dulu, wahai Romeo yang pas-pasan. Jangan pikir kalau tidak mudik itu tidak punya derita. Bukan cuma mudik saja yang terhempas oleh kehampaan-kehampaan itu. Asik!

Ketika para perantau berhasil mengubah statusnya menjadi pemudik, mereka ini bukan sekedar bisa berkumpul temu—kalau kata Fiersa Besari sih memecahkan celengan rindu—saja.

Melainkan juga, sekaligus berjibaku dengan pertanyaan-pertanyaan interogatif dari sanak famili, tetangga, kawan-kawan lama, hingga mantan yang kemungkinan ngajak balikan. Pertanyaan seputar kapan, kapan, dan kapan ini jauh lebih susah dari soal-soal ujian CPNS.

Seyogyanya, mudik atau tidak adalah dilema. Bagi seekor mahasiswa perantau newbie macam aku ngene ki yo podo ae. Ono semacem realitas bahwa mudik adalah anjuran yang diwajibkan.

Sementara, tidak mudik adalah keapesan nasib yang seringkali disalah artikan oleh ‘anggapan egois’ mulut-mulut segelintir anggota keluarga, tetangga, bahkan konco-konco yang acara bukbernya tak (sempat) kita hadiri.

Ngene lurr, aku ini ndak mudik karena suatu alasan utama. Jatah libur yang tersedia begitu nanggung. Pasca lebaran nanti, UAS udah siap-siap ngebegal pake muka garang.

Begitu naifnya sampeyan apabila nasib ini hanya dipandang sebagai kesombongan atas kampung halaman di seberang sana.

 

Mendadak Maba

Ada yang hilang secara perlahan. Seiring mendekati lebaran, kost-an yang penuh adegan kebersamaan, bebakaran dan bukber dadakan, kini berubah jadi perpecahan. Kawan-kawan kost kena dampak polarisasi antara tim mudik dan tim tak mudik.

Semua terjadi di penghujung akhir bulan ramadhan. Memilih masuk tim tak mudik berarti sama saja menjadi maba kembali. Terasing. Kesepian ditinggal pulkam. Mau keluar nyamperin teman-teman rasanya bakal sama saja. Waktu seolah berputar kembali ke masa-masa awal daftar jadi cah kuliahan sing polosan.

 

Apa-apa Tutup

Mau apa-apa sussyah. Apa-apa tutup. Warung makan murah tutup. Laundrian tutup. Hampir semua titik daur kehidupan anak rantauan ini langkanya minta maap. Kalaupun ada, itu adalah peristiwa yang amat langka. Untung-untung kalau jaraknya bisa ditempuh sambil kayang.

Misalnya, warung Burjo yang biasane akeh, pelan-pelan lumpuh sementara. Masa-masa lebaran gini hampir dipastikan kelangkaannya sudah selevel dengan BBM atau nyamuk yang kena aksi genosida lewat alat fogging.

Suasana minim aksesibilitas seperti ini seakan menjadikan kalender bersikap keukeh nunjukin istilah tanggal tua. Banyak uang, tidak menjamin. Ngandelin Ojol, driver juga ikut-ikutan langka—hampir punah malah. Aku tuh bingung kemana harus menghamburkan duit. Beli baju lebaran? Misqueen e, ndessh!

 

Rindu Rumah

Rindu itu berat, seperti kata Dilan. Rindu rumah ini adalah tantang yang mesti dihajar. Kasur empuk, remot AC, pasokan air es di kulkas, serta bau opor lebaran masakan Umi di rumah. Apalagi pelecing kangkung, duh… Pokoke musti sedia kuota internet buat Video Call dan bersiap untuk menghadapi “kapan, kapan, dan kapan” tadi.

Masalah percintaan biasa ikut merangsek masuk. Kaum LDR yang tidak mudik perlu waspada sama bayang-bayang mantannya si doi. Celah yang kau tinggalkan itu sungguh lengang, bung! Kawanan Jomblo sing ono bribikan tekan kono yo sabar ae. Ketikung yo ra mesti dipermasalahke to, dabss?

Lalu, meratapi postingan story instagram yang… Ah, sudahlah. Yang jelas, masih banyak derita yang bisa dijabarkan. Panjang-lebarnya tergantung masing-masing orangnya. Tiap orang kan beda-beda, Bang Toyib tuh contohnya.

Jadi, di musim mudik lebaran kali ini kalian tim mana? Tim mie kuah opor ayam atau mie goreng rendang lontong garing campur ketupat?

Selamat mudik bagi yang sedang dan sudah selesai menjalankannya. Semoga (terlihat) sukses selalu! Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s