Tonks, Terlahirnya Seekor Harapan di Ambang Punah

Foto: Science News

Seekor harapan berjenis kelamin betina terlahir di Denver, Amerika Serikat pada Sabtu (8/8/2018) lalu. Ia lahir dengan mata bulat dengan tumbuhan bulu-bulu yang jarang, dan cakar yang sangat kurus. Di tempat kelahirannya itu, sebagaima dihimpun dari laman People, ia merupakan harapan baru yang ke-24 dari sebagian kecil harapan yang telah lebih dulu hadir.

Tonks, begitulah panggilan yang disematkan untuk salah satu dari sekian harapan endemik dari pulau Madagaskar yang baru lahir itu. Ia sendiri termasuk sebagai nokturnal. Meski dari wujudnya lebih mirip pengerat, sebenarnya Tonks adalah primata yang lebih aktif di malam hari dan beristirahat di siang hari.

Di sebuah kebun binatang bernama “Denver Zoo”, Tonks terlahir sebagai seekor aye-aye, sama seperti kedua orang tuanya, Smeagol dan Bellatrix. Sang induk, Bellatrix lahir pada 2007. Sementara Smeagol, sang ayah, kelahirannya menyusul pada tahun 2010.

Menurut staf kebun binatang Denver, petugas harus turun tangan membantu Bellatrix dalam mengasuh Tonks di awal-awal kelahiran. Petugas kebun binatang mengajari sang induk cara merawat bayi di minggu pertama setelah Tonks lahir.

1. Tonks, Seekor Harapan di Ambang Kepunahan

Foto: Denver Zoo

Bayi adalah harapan. Mungkin begitu pula yang terbesit dari kehadiran aye-aye mungil tersebut. Tidak hanya Tonks, melainkan 23 aye-aye lain di kebun binatang itu. Seluruh aye-aye yang berada di tempat itu adalah harapan untuk menyelamatkan jumlah populasi mereka di alam liar. Setidaknya, dengan lahirnya Tonks, harapan itu masih ada.

Tidak ada yang tahu persis berapa banyak jumlah mereka saat ini. Namun, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukan aye-aye sebagai hewan yang terancam punah. Separuh dari jumlah populasi mereka diperkirakan telah musnah dalam tiga dekade terakhir. Lebih dari separuh ‘keluarga besar’ Tonks sudah jauh berkurang.

 

2. Mitos dan Penyebab Klise Kepunahan

Foto: Science Alert

Seperti kebanyakan spesies yang berstatus: terancam punah lainnya, merosotnya jumlah primata nokturnal yang bernama latin Daubentonia Madagascariensis ini disebabkan oleh hilangnya habitat dan perburuan liar yang begitu masif. Bahkan, IUCN juga memprediksi setengah dari jumlah mereka di alam saat ini akan ikutan hilang dalam dua dekade mendatang lho, Plukers.

Ada juga alasan lain yang menyebabkan keberadaan aye-aye tergerus. Di habitat aslinya di Madagascar sana, aye-aye dipercaya sebagai hewan pembawa pertanda buruk oleh beberapa suku, termasuk suku Sakalava. Bahkan, aye-aye dianggap sebagai hewan jelmaan dari roh jahat atau setan. Dalam bahasa setempat, aye-aye mempunyai arti: “mata-mata”.

Kepercayaan setempat inillah yang turut mengganggu keberadaan mereka. Aye-aye seringkali dibunuh oleh penduduk lokal karena adanya anggapan mitologis tersebut. Perburuan ‘tradisionalis’, ditambah lagi dengan kerusakan habitat, secara langsung mengancam populasi aye-aye di ambang punah sehingga saat ini mereka dilindungi oleh hukum.

3. Primata Berpenampilan Aneh

Foto: Joel Sartore, National Geographic

Sebagai hewan nokturnal, aye-aye memang tampak seram. Mata besarnya yang terlihat menonjol keluar dengan kedua telinganya yang berukuran lebih besar dari kepalanya, memang membuat penampilan aye-aye unik dan terkesan aneh. Hewan ini mempunyai gigi seri yang biasanya mirip denga hewan-hewan pengerat.

Nah, yang membuatnya diklasifikasikan sebagai primata adalah spesiesnya yang berdekatan dengan lemur dan bertubuh layaknya monyet berukuran mini. Aye-aye identik dengan jari tengahnya yang lebih panjang dari jari-jari mungilnya yang dilengkapi dengan cakar. Jari-jari itu digunakan untuk aktif memanjat dan bergelantungan di pohon.

Untuk mencari makanan, aye-aye memanfaatkan jari mereka yang super sensitif dalam mendeteksi setiap getaran pada batang pohon yang mereka pegang. Aye-aye akan mengunyah batang kayu dengan giginya dan mengambil makan atau hewan buruan di dalamnya dengan bantuan jari tengahnya yang panjang. Dan, mata besarnya adalah fitur andalan mereka berupa kualitas penglihatan dalam kegelapan.

4. Hidup di Antara Pohon Demi Pohon

Foto: National Geographics on Pinterest

Apabila Tonks berada di alam liar saat ini, ia akan tinggal di ketinggian pepohonan hutan hujan (rain forest) Madagaskar yang merupakan habitat asalnya. Sama seperti aye-aye lain, Tonks mungkin akan sangat jarang turun untuk bermain di permukaan tanah. Sebagian besar hidupnya akan lebih banyak dihabiskan di atas pepohonan. Pada malam hari begadang mencari makanan, dan ia akan beristirahat saat siang hari di sarang yang dibuatnya di antara cabang-cabang pohon.

Terlahir menjadi betina, Tonks baru bisa berkembag biak ketika sudah berusia tiga sampai empat tahun. Setiap dua sampai tiga tahun sekali setelah usia ideal berkembang biak itu, Tonk akan melahirkan seekor anak. Nah, karena Tonks saat ini masih bayi, ia akan menyusu pada Bellatrix, ibunya sampai tujuh bulan setelah lahir. Tonks harus menunggu sampai berusia dua tahun terlebih dahulu, sebelum akhirnya mampu membuat sarang dan hidup mandiri.

*  *  *

Nah, Plukers, semoga Tonks maupun aye-aye lain di alam liar sana masih bisa bertahan dan mampu melewati jurang kepunahannya, ya. Harapannya, langkah konservasi yang tengah dilakukan terhadap primata nokturnal tersebut sejauh ini bisa membuahkan hasil yang signifikan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s