Korban Kemacetan Kota di Jumat Malam

Korban Kemacetan Kota

Kalo sohib-sohib sekalian masih inget anget, ane pernah cerita dikit tentang Bimo beberapa waktu silampau. Ya, si Bimo ini merupakan sohib ane yang emang rada-rada, hmm… ya gitu lah, ya.

Kalo penasaran, saudara-saudara sekalioan bisa mengumpulkan kesimpulan dengan menengok postinga-postingan lawas ane. Salah satunya ini. Itupun kalo berkenan dan punya kesempatan waktu senggang, sih. Hehehe…

Jadi,  begini… Bimo lagi-lagi ngajak ane buat nimbrung nongkrong bareng. Malam itu, Jumat 19 April 2019, adalah malam Sabtu. Ada kejadian yang memprihatinkan sekaligus menggelikan. Ya, tepat di malam jumat itu.

“Nongkrong, kuy!” Begitu sapanya lewat pesan WhatsApp. “Bareng anak-anak, nih. Mereka udah pada ready.”

Ane sendiri menanggapi sekenanya saja. Ayo, kemudian bersiap-siap membersihkan badan, dan nggak lupa juga pake deodoran beserta sejumput muncratan parfum dari kaleng yang udah mulai nunjukin tanda-tanda ‘pensiun’.

Kebetulan si Bimo lagi di ujung penuntasan jatah liburannya di Jogja. Jadi Video Editor itu berat, Dilan yang sok tangguh itu mana mungkin sanggup, katanya. Jogja dipilihnya sebagai pelepas rindu masa-masa pertarungannya dahulu. Apa lagi kalau bukan jadi mahasiswa nomaden yang kost-kostannya cuma dipake buat nginepin barang-barang(?)

Malam itu, kost-an lagi rame-ramenya sama hajatan PUBG dari komplotan kawan-kawannya si Inos. Harus ane akuin, mereka rada bising. Hahaha…

Tapi, ini bukanlah alasan buat ane: kenapa ane minggat dan mengafirmasi ajakan si Bimo buat acara tandingan di Loko Coffee, Cafe yang berada di salah satu sudut semenanjung dekat parkiran Abu Bakar, Malioboro, sono.

Satu-satunya alasan kenapa ane mengiyakan ajakan tersebut karena jadwal liburan Bimo sudah di ujung akhir pas itu. Tiga hari setelah kejadian ini, ia kembali bergulat dengan jalanan macet ibu kota dan deadline. Terakhir kali ane kontak dia lusa kemarin, dia udah minta bahan postingan feed Instagram-nya lagi. Ckck…

Ane nungguin jemputan sambil mainin gim NBA Live andalan ane kalo pas lagi suntuk. Ini biasa. Dan, ane anggap ini wajar walaupun banyak teori bijak mengatakan bahwa lakukan hal-hal produktif selama menunggu.

Tapi, nih… ane pikir apa yang ane lakuin itu sungguh produktif. Kenapa? Ya, karena senang. Potensi depresi bisa turun sekian persen. Tahu kan, kalo menunggu itu tidak pernah menyenangkan?

Gim yang ane mainin itu benar-benar membedakan diri dari riuhnya suara mabar PUBG di kost-an. Malam itu, seperti biasa, dan yang sudah-sudah. Jemputan kemudian datang setelah ane ngelarin beberapa set game.

Bimo datang sendirian pake motor pinjaman punyanya si Izha. “Cepatlah, nam. Mey, Iwin udah pada nunggu nah,” ucapan salamnya sambil ngelepas helm butut yang kelewat lengang untuk kepalanya yang rapat. Wkwkwk…

*  *  *

Kami; Ane, Bimo, Iwin, dan Meyda berangkat nyusulin Septri (akronim: Septian dan Tri) yang udah ngejogrok duluan di lokasi. Kita berempat terbagi dalam dua tim. Bimo dan Meyda berboncengan. Semenara ane satu tim sama si Iwin. Ada cerita masa lalu yang bkin komposisi ini terbentuk, khususnya Bimo dan Iwin. Nah, untuk detailnya, mohon maaf, kita rahasiakan saja, oke?

Masing-masing tim terbagi dalam dua motor, berangkat beriringan dengan ‘pasangan’ Bimo-Meyda yang memimpin perjalanan. Sementara ane sama si Iwin mengekor. Suasana lalu lintar dari jalan Selokan Mataram sampai bilangan Malioboro malam itu macet blass! Padahal, malam minggu masih sehari lagi.

Ane rada kerepotan sama manuver si Bimo. Liukan demi Liukannya sulit buat ane imbangin. Beberapa kali, tim ane kehilangan jejak sang leader resek itu. Ane yang ngeboncengin Iwin yang penuh omelan dan kekhawatiran di jalan, makin nakut-nakutin ane buat terpaksa nekat bermanuver seperti kejadian lawas beberapa waktu lalu.

Dan, derr! Duet Bimo-Meyda tiba-tiba jatuh dari motor yang melaju di kemacetan kota. Tepatnya di jalan sebelum perempatan Galeria Mall. Bukan kecelakaan tunggal melainkan tabrakan. Tabrakan kecil. Tidak parah. Walaupun kecil, teknik jatuhnya sedikit merugikan seorang Meyda.

Kuku jempol kaki kanan belio ngeluarin ‘mukjizat’. Hehehe… Semacam cairan seperti air, yang sayangnya berwarna merah. Cairan itu mengucur, tapi syukurnya tidak deras.

Sementara, ane sama Iwin yang berjarak dua motor dari lokasi kedua sohib itu jatuh, mau tidak mau harus berhenti. Ya kali kalo mau tega-tegaan ya, kan… Ngebantu keduanya dan sesosok pria yang terlibat dalm adegan yang membuat si Iwin mendadak rempong.

Ya, ane nggk mau cerita detail soal bagaimana kecelakaan itu terjadi atau siapa yang benar dan siapa yang salah. Intinya nih, tidak terlalu parah. Kalean tenang aja. Benturannya masih terbilang ringan kalo menurut ane. Rada-rada gemesin juga sih sebenarnya.

Silahkan berimajinasi sendiri bagaimana bentuk pola adegannya kalo emang sempet dan nggak ada kerjaan. Tapi dengan syarat nih, jangan libatkan Polantas, ya… Karena pihak berwajib yang dilibatkan hanya dua orang security hotel. Ane lupa nama hotelnya apa. Hehehe…

*  *  *

Setelah dua motor diamankan ke pinggir jalan, kondisi Meyda masih bisa senyum. Agak gila! Sedangkan Bimo ngelus-ngelus motor Meyda yang ditungganginnya bermanuver layaknya Valentino Rossi yang dikejar-kejar penagih utang.

Ane kembali stay duduk di atas motor, sembari menjinakkan si Iwin yang ngomel-ngomel dengan nada yang ngedumel. Ane bingung, belio ini kok malah ngomelnya ke ane itu, lho! Duh.. duh…

“Kamu tug, liat temen kecelkaan, nggak mau kek cepet-cepet nyusul terus bantuin coba,” salah satu dari sekian banyak jejeran ‘anggota’ kalimat omelan Iwin.

Yaellah, aman kok itu, Win. Mereka enggak kenapa-kenapa itu, lho,” jawab ane yang sebenarnya pingin bilang kalo: kita, harus akur karena perantau sedaerah. Tapi, jelas itu bukan solusi yang pantas dan sangat tidak berkorelasi.

Di saat yang laen nih, Bimo ngebanun obrolan (ada sedikit tendensi demi melunakkan si Meyda yang biasanya meledak-ledak) dengan Meyda. “Mey, kamu enggak apa-apa, kan?”

Aman, cuma kakiku rada keseleo juga deh kayanya,”

Cukup sigap nih, Bimo megang kaki yang dimaksud, kemudian nyeletuk, “Ini kakimu bengkak atau emang karena lemak, sih?”

Ane-Iwin ngakak mampus denger ucapan tersebut. Meyda pun sempet ketawa sebelum akhirnya bila si Bimo raja tega. Terus? Hmm… jangan tanya mamas yang terlibat dalam kecelakaan itu. Pasalnya, beliau cuma nontonin kita berempat doang dari tadi. Terpaksa kali, yah?

*  *  *

Kalau soal klise pasca kejadian, ane cuma mau bilang kalau proses damai antara kedua belah pihak kita buat jadi tidak ruwet dan penuh drama. Tidak ada adega ngotot-ngototan, perang urat syaraf khas sinetron, atau sampai adegan peluk-pelukan ala-ala drakor. Negosiasinya berlangsung aman. Justru Septri yang tidak aman, karena jelas blass; mereka udah kebanyakan make waktu menunggu. Kering di lokasi janjian.

Omelan lagi deh… pas sampai lokasi. Kesian Meyda jalan agak pincang-pincang. Tapi, kita percaya bahwa, dia itu kuat. Yeaaay!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s