Berwujud Game, Maka PUBG (Sudah) Salah

PUBG Mobile

Seorang sepupu saya sedang kebingungan. Sebiji kabar tidak sedap sempat menghantuinya beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak? Sebagai salah seorang yang rutin memainkan gim Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG), dibuat garuk-garuk kepala ketika gim tersebut mulai masuk proyek fatwa dari MUI.

Sepupu saya itu tentu tidak sendirian. PUBG sendiri merupakan gim yang sedang hype. Di tanah air, PUBG sukses mencaplok sebagian (besar) dominasi dari salah satu gim MOBA, yaitu Mobile Legend.

Jadi, bisa dipastikan kalau tetangga rumah, pegawai-pegawai hotel dekat warung burjo langganan, temen-temen kost-an, dan satpam kampus saya ikut terkena badai kalut yang sama.

Kedigdayaan PUBG memang tengah terancam oleh kabar-kabar miring. Bukan cuma di Indonesia, India juga sudah mulai ikut ‘gaya’ China yang mempermasalahkan game bergenre battle royale ini lebih dulu. Tapi, masalah China agaknya cuma persoalan bisnis aja, deh. Beda, kok… beda…

PUBG seakan diteror oleh anggapan-anggapan negatif. PUBG itu ‘berbahaya’. Banyak mudaratnya, dan  tidak berfaedah. Fixed, ini tuh mainan haram! Kabar sedap? Tentu tidak bagi para jomblo yang punya kerjaan sampingan sebagai player PUBG akut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) selaku inisiator atas gawean untuk mengharamkan salah satu gim online terpopuler tersebut. Ini betul, sejumlah ulama yang mewakili MUI tengah mengkaji premis yang pas untuk menelurkan fatwa haram. Sungguh semangat yang layak tiru.

Keinginan untuk mengharamkan PUBG begitu getol. Para player agaknya perlu menyalahkan aksi teror di Christchurch, Selandia Baru pada 15 Maret lalu. Pasalnya, tragedi yang menewaskan lebih dari 40 orang itulah yang memunculkan kajian: haram-tidaknya game favorit satu ini.

Terserah korelatif tidak, berhentilah mainin PUBG. Kalau sudah haram, saudara-saudara sekalian, pasti nggak bakal ikhlas juga kalau tiba-tiba disebut antek-antek kafir, kan? Bayangin aja, lebih dari 100 juta pengunduh (data tahun 2018) berpotensi kena hit-damage sama tuduhan tersebut.

Seorang pelaku teror di Selandia Baru sana, disebut-sebut terinspirasi, sekali lagi, terinspirasi oleh gim PUBG. Nah, ditambah lagi sama senapan serbu yang dipakai buat ‘praktik’ ngebantai total berkisar 50 jamaah shalat jumat di sana, adalah senjata yang populer di kalangan anak-anak PUBG. Saudara-saudara sekalian seharusnya malu! Dasar!

Tapi begini, para pegiat PUBG dipersilahkan bingung dan merasa terintimidasi. Bagaimana bisa kiblat keasyikan anda-anda semua ini dinilai mendorong umat manusia yang memainkannya untuk melakukan kekerasan, bahkan aksi teror yang lengkap sama akun medsos dan kuota streaming-an?

Yang jelas gini, gak mungkin juga lah saudara sekalian nggak pernah ngebacot pas lagi maen. Betul tidak? Mungkin aja ya kan, si pelaku frustasi karena kagak pernah nge-kill di gimnya, atau murni karena stress kehabisan kuota. 

Makanya, dunia nyata terpilih jadi pelampiasan. Paham, kan, dapetin chicken dinner itu udah kayak lapangan kerja zaman sekarang? Susah, tauk!

Saya jelas tidak bisa membela. Maap-maap kata nih, saya sendiri bukan pemain PUBG. Saya masih terdaftar sebagai player aktif NBA Live. Kalau mau nih, tuntut aja game besutan EA Sport itu supaya adil untuk sama-sama merasakan. Hehehe…

Toh, game yang saya mainkan ini sama-sama buatan aseng juga, kok. Mirip-mirip ungkapannya Rene Descartes yang bilang: cogito ergo sum, yang artinya “aku berpikir, maka aku ada”.

Dilihat dari bentuk dan asal lahirnya saja PUBG sudah salah. Karena terkategori sebagai sebuah game, maka: PUBG itu salah. Mana ahirnya dari kekuatan asing lagi. Hmm…

Dan, biar kita sama-sama mempertanyakan; apa yang salah sebenarnya? Betulkah, adegan 15 Maret itu disebabkan oleh PUBG? Kenapa bukan Free Fire, Fortnite Battle Royale, Counter Strike, atau Point Blank? 

Mungkin yang salah ini TikTok Dota 2 karena salah seorang kakak tingkat saya di kampus, terhambat wisuda gegara keranjingan sama game yang menginspirasi kemunculan ML, AOV dan gim-gim MOBA yang laen.

Salah satu game yang pernah membuat saya terkena masalah adalah game konsol PS1 jaman saya SD dulu. Itupun karena gim Super Shot Soccer. Karena saya menang-menang terus ketika duel bareng temen, kita pun berantem, dan nggak saling sapa sampai jeda waktu bulan depan yang saya lupa sampai kapan.

Kalau MUI mau lebih jauh lagi, HAGO juga punya titik lemah. Itu game rentan banget sama perselingkuhan, saling tikung, dan gombal-gombalan maut yang naudzubillah menjijikan sekali buat saya. Jelas, ya?

Jadi, betulkah PUBG harus bertanggung jawab sendirian? Iya, betul! Benang merahnya itu sudah jelas. Kesimpulannya juga pas. Saya ngawur? Iya, emang analisisnya nggak ngawur apa? Duh… Dek… Terus terang aja nih ya, gemulaimu itu, lho.

Kesian PUBG. Nasibmu sudah macam banjir dan kemacetan Ibu Kota. Pembenaran dan kesalahannya seolah datang dari satu sumber yang sama. Ya, pemerintah. Komprehensif? Peduli amat. Pokoknya gitu, deh.

Lalu, teroris salah siapa? Pemerintah atau dalih-dalih keagamaan? Terus, PUBG salah siapa? Ya kamulah, bego! Ngapain pula mainin game yang banyakan mudharatnya begitu. Ish!

Antara memilih menuruti fatwa, atau lanjut saja. Saya menyarankan untuk hijrah ke pesaing terdekat PUBG saja, yakni Fortnite Battle. “Tapi, bukannya sama aja ya jatuhnya?” Genre dan gameplay-nya saja kembaran. Paling nggak, begitulah reaksi sepupu saya itu.

Jadi, uninstall saja! Sebelum semuanya berstatus rata dan setara. Mainin game, maka teroris ada. Begitulah kesimpulannya. Tapi, yang sekadar berlagak jadi teroris; juga ada sih sebenarnya. Hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s