Angka 20 Untuk si Wisely

Sebuah lagu hits yang hampir selalu menjadi pengiring seremoni penuaan mulai bergema riuh sejak siang tadi. Hari itu adalah hari pertama ane di Jogja, kota rantauan di edisi April 2019 ini.

Sebelumnya, sekitar pukul 7 pagi ane berhasil menapak di tanah kost-324 setelah menempuh waktu selama sejam dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta. Seperti biasa, pagi merupakan detik-detik peradaban kost-an ini menjelma layaknya kuburan. Sepi!

Inos yang sekarang menjadikan kamar yang berposisi sebagai ujung tombak: dijadikannya basecamp untuk jadwal-jadwal perkumpulan teman-teman kampusnya. Kamar itu seperti titik pengungsian pagi itu.

Sejumlah anak manusia—anggota perkumpulan—masih kompak tidur membentuk pola yang khas. Mirip ikan asin yang tengah berjemur di bawah terik matahari. Jejeran simetris mereka menyimbolkan garis imajiner Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ane bakal ngegrebek mereka semua, Inos, Benny, Billy, dan Safa. Tapi itu nanti, setelah ane selesai memenuhi panggilan alam yang amat sangat darurat. Mules. Kemungkinan gegera jalan kaki dari shelter TransJogja (selatan AMPLAZ) sampai kost-an yang lumayanlah…

Selepas masa yang panjang di bilik renungan, ane pindah menuju bilik barisan orang yang masih pulas itu. Dengan sambutan yang seadanya, mereka melanjutkan tidur. Dengan damai. Dengan damai pula ane mainin gim di pojokan ruang yang menyisakan space buat selonjoran. Santai.

Salah seorang dari perwakilan mereka akhirnya sukses memenuhi jatah tidurnya. Berdasarkan durasi waktu saat nge-game, Beni bangun disertai mata yang masih sembab setelah 12 menit berlalu—menit dihitung dari ane duduk hadir di ruangan ini.

Lima orang itu, termasuk ane duduk benar-benar ‘hidup’ dan berkumpul mulai sekitar pukul 9 pagi. Tiga orang masih bertampang kembaran karena mata sembab mereka. Hanya Beni yang sudah pulih dan ngelihatin muka aslinya sehari-hari.

Ane sama Beni sudah bisa membangun obrolan. Tidak jauh-jauh seputar keadaan Lombok, kapan nyampe di Jogja, dan persoalan oleh-oleh tentunya. Logistik sudah dihitung.

Oleh-oleh diterima dengan gaya aneh si Inos yang senyum-senyum jijik penuh syukur. Entah kenapa, saat-saat itu adalah saat di mana ane merasa seperti menjadi juru selamat buat keempat karib ini.

Lauk-pauk buatan umiq ane agaknya jauh lebih ditunggu ketimbang ane yang males sama bawaan berat. Bukannya apa-apa nih, ane tuh khawatir kalo mesti bayar bagasi pesawat yang udah gak ada geratisan sama sekali. Duitnya kan lumayan tuh buat manjangi masa survive sampai awal bulan depan.

Kemudian, acara serah-terima berubah. Tidak ada bahasan rumit. Tidak juga tentang pemilu 17 April besok. Kami berlima kemungkinan bakal golput karena persoalan administratif. Bukan murni golput. Kita semua sudah punya pilihan capres-cawapres dan caleg juga kok sebenarnya. Atas nama demokrasi, kami berucap: “Maafkan kami, Indonesia”.

Proses mendapatkan hak pilih di luar daerah kelahiran bikin males. Tidak ramping, repot kita orang ngadepin antrian panjang. Cukuplah kita ruwet dulu sama tugas-tugas dan server database kampus down pas KRS-an. Tidak ada pledoi selain kata maaf untuk absennya kami bersuara di bilik suara nanti.

Benar-benar ringan. Obrolan kami hanya sebatas game online yang sempat diwacanakan untuk berganti status menjadi Haram. Bukan tentang fatwa, melainkan strategi bagaimana cara ngedapetin chicken dinner hari ini. Mereka mabar, ane justru main sendirian. Gim ane beda sendiri. Cuma gim bergenre olahraga, kok.

Alhasil, perkumpulan kami tidak segaduh dunia maya. Kami menunduk dengan damai dipersatukan oleh gim. Walaupun—berpotensi dinyinyirin netizen gegara dicap antisosial—berbeda gim, kami masih duduk teracuni oleh layar ponsel masing-masing di satu ruangan yang sama.

Suara berisik dari keempat sohib ane ini bersanding harmonis dengan sahutan suara tembakan gim yang mereka mainkan. Riuh rendah bunyi-bunyian dari ruangan itu keluar dengan cara yang damai, meski bikin telinga yang dengar: sedikit sakit. Wkwkwk…

Suara tembakan barbar gim mereka saling hormat dengan suara teriakan penonton menyaksikan ane ngegerakin pemain-pemain sekaliber Russel Westbrook, Devin Booker, Gordon Hayward, Jaylen Brown dan Patrick Ewing nge-dunk guncangin ring.

Tidak sampai berjam-jam akut, kami rehat nge-game. Game berganti menjadi nunduk, masih sibuk dengan hp masing-masing. Ngobrol dengan orang jauh. Kami tidak bisa memungkiri racun-racun sosmed itu adalah candu yang begitu bangs*t.

Namun, dari sosmed itulah si Inos menemukan sebuah fakta sejarah seseorang. Nyatanya, 11 April 20 tahun lalu seorang jomblowan bernama Billy William Wisely lahir ke dunia.

Fakta yang diperoleh, langsung mendorong kami menyanyikan lagu itu. Lagu yang berhasil mengancam kedigdayaan lagu ‘Happy Birthday to You”. Terik siang hari di luar merupakan waktu yang pas buat nyanyi-nyanyi fal[e]s. Sungguh takdir yang pas.

Menambah bising dunia dengan salah satu lagu milik Zamrud untuk memperingatkan bahwa Billy menua dan waktu menuju kematian mendekat. Billy senang, namun juga mendadak puyeng. Ia diberi ucapan selamat, tapi juga dipalak. Pungli memang ada di mana-mana, bung! Ckckck…

Waktu makan siang dan sebuah traktiran karena sebuah momentum monumental adalah waktu yang pas. Acara makan-makan mendadak terlahir dari inisiatif Billy yang tengah berulang tahun. Teraktiran Billy tidak mahal, tidak sampai hura-hura hedon ke kafe-kafe—nge-request lagu yang itu entu diputerin, dan lampu digelapin.

Ingat cerita ane soal lauk-pauk buatan umiq ane sebelumnya. Juru selamat untuk level keuangan Billy yang mengkhianati term awal bulan. Badai akhir bulan masih belum lepas mengganggu keempat sohib ane itu, termasuk Billy.

Alhasil, traktiran Billy jatuh sebatas nasi putih tok 5 bungkus dengan banderol Rp 3000/bungkus. Nggak lupa, bongkahan es batu dan tiga sachet minuman instan rasa jeruk jadi pelengkap menu pilihan. Mabar nge-game bertransformasi jadi mabar dengan maksud lain. Ya, “Makan Bareng”.

Siang kenyang. Acara peringatan berlanjut malam. Pesta peringatan gelombang kedua dirancang supaya mengejutkan. Ajeng dan Rike bertugas membawa kue.

Tepat di ujung malam sebelum esok, sebongkah kue khas perayaan ulang tahun berhiaskan nyala api lilin yang susah mati: tiba disusul Aldi yang datang bertelanjang dada dari tempatnya bersarang.

Selamat Ulang Tahun. Angka 20 ente turut berhasil ngingetin: kalau ane itu lebih tua dua tahun. Der!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s