Ini (Mungkin) Reunian

Selepas kepulangan yang mendadak karena acara pernikahan abang ane nomor tiga, salah satu perjanjian tanpa embel-embel dadakan akhirnya terlaksana.

Ketika tren acara hangout bareng berada di antara polaritas: spontan dan terjadwal, ane mungkin lebih condong ke kaum-kaum yang merencanakan acara agar terjadwal dengan baik. Bahkan, bisa dikatakan; ane benar-benar benci hal-hal yang dadakan.

Cukuplah kejutan ulang tahun yang begitu. Begitu juga kecoa terbang layaknya spiderman yang mengagetkan aktivitas kontemplasi dalam kamar mandi.

Tadi malam, lebih tepatnya seminggu setelah kabar mendadak dari abang ane yang (akhirnya) mutusin masa lajangnya itu, ane kembali berhasil memenuhi janji nongkrong bareng di salah satu spot tongkrongan di Mataram.

Karena lagi di Mataram, otomatis ane mesti, dan mau nggak mau harus berstatus free agent dari segala urusan di Yogyakarta, termasuk persoalan kampus yang dipenuhi ghibah dan makalah. Sialan! Hahaha…

“Si Gaspar gimana, Fy?” Tanya iseng ane ke Alfy, salah seorang sohib yang kini menyibukkan diri sebagai wartawan dari salah satu media. Kebetulan belio di tempat-tugaskan di Mataram untuk mengawal sebuah “agenda”. Sebuah misi klasik para reporter. Hehehe…

Lewat pesan WhatsApp, ia menjawabnya bahwa salah satu dari empat novel paket diskonan-nya itu, belum sempat ia baca. FYI aja nih, paket novel buruannya itu didapatnya dari Moj*k Store. Paket itu bernama: “Paket Valentine”. Harganya? Rahasia, ya.. Hehehe…

Berkat keisengan itu, Alfy tiba-tiba ngebikin agenda. Sebuah ajakan nongkrong. Menurut ane pribadi, inisiatifnya ini merupakan hal yang monumental.

Cenderung fenomenal, karena kita berdua enggak pernah ketemu—sekadar “say hi!” dan tatap muka pun enggak pernah sama sekali—pas masih di Jogja.

Perjanjian dibuat dua hari sebelum ajakan nongkrong ini terealisasi. Alfy, kembali dengan inisiatifnya, ikut ngelibatin si Vani. Vani sendiri adalah sohib satu sekolah kita berdua di masa-masa SMP dulu.

Ane, Alfy, dan Vani akhirnya sepakat untuk merealisasikan rencana. Jam tujuh selepas maghrib, adalah waktu yang ditentukan. Alfy sebenarnya sosok yang paling dominan dalam penentuan waktu dan tempat pertemuannya.

Ane dan Vani, ya ngangguk setuju-setuju aja karena memang sama-sama sempet. Beda ama si Alfy yang lagi ruwet-ruwetnya ama agenda liputannya akhir-akhir ini. Makanya, Alfy terplot jadi decision maker seutuhnya.

Vani, syukur bisa ketemu sama ini makhluk. Kemarin-kemarin, belio ini sibuk berkarir di Sumbawa. Pas di lokasi tadi, dia ngasih tahu kalo udah pindah ke Mataram dan bergelut sama kerjaan yang sejalan sama jurusan kuliahnya, Analis Kesehatan. Asek!

* * *

Nongkrong bareng mereka betul-betul di luar perkiraan. Sudah lama banget nggak ketemu, obrolan masih bisa klop juga. Padahal, semasa SMP dulu kita bertiga terbilang nggak akrab-akrab banget.

Ane yang dulu pendiam, Alfy yang menurut ane rajin, dan si Vani yang entah selalu—seorang spesialis—bikin rame di bangku barisan belakang. Enggak pelak, pas ketemu tadi (22/3/2019) malem itu sempet nyinggung cerita-cerita lawas jaman silam.

Nah, yang bikin nongkrong tadi terkesan baik itu pas ngebahas novel, termasuk paket valentine-nya si Alfy. Selain itu, tuker pinjem jilid sekian antara ane ama si Alfy terjadi lagi.

Novel Pasung Jiwa besutan Okky Madasari, ane minta balik sebelum akhirnya si Vani tergoda akibat badai spoiler nanggung keluar dari si Alfy.

Alhasil, novel yang tadinya pingin ane ambil, dipinjem lagi ama si Vani. Makhluk yang punya goldar, serta bulan dan tahun lahir—Oktober 1996—yang sama dengan ane ini ternyata suka baca juga. Rada kaget sih, tapi virus baca itu emang mesti menyebar!

Senada ama si Alfy, Vani juga ogah ama spoiler. Ane yang kepingin bahas Pasung Jiwa sama si Alfy jadi tersendat. Diskusi jadi bisik-bisik, nanggung, dan gak lengkap. Tapi, topik-topik lain juga keseret kok. Kesan tetap baik, flat enggak.

Selain novel, soal-soal yang menyangkut jomblo, galau, sampai ngebahas jadwal hujan yang mulai rutin pun ikut masuk di dalam topik ngalor-ngidul kita bertiga malam itu.

Malam larut, lagi-lagi sukses membubarkan acara. Dari TKP, kami masih bisa ngeliat jelas gerbang sekolah kita dulu. Di sebelahnya, ada SMA-nya si Vani. Gerbang SMAN 3 Mataram itu lebarnya masih sama aja kayak jaman ane SMP dulu.

SMPN 13 Mataram juga sama, deng. Gerbangnya masih sama. Enggak tahu dalemnya udah macam apa sekarang. Entah, catnya sudah ganti pake Nipp*n Paint atau belum. Hahaha…

* * *

Kita semua balik kanan dengan motor masing-masing. Ane nugasin dua sohib ane tadi buat segera melumat bacaan barunya. Vani sama Pasung Jiwa, sementara Alfy ane ‘tugasin’ buat ngabisin Rumah Kertas karangannya Carlos Maria Dominguez.

Ane(?) mah nyantai… kumcer dari si Alfy aja belum habis-habis ane baca gegara… Hmm… Ya, gitu deh pokoknya. Hehehe.

Ya, ini mungkin reunian. Tapi versi lite-nya. 🤣

Advertisements

One thought on “Ini (Mungkin) Reunian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s