Hampir Munt*h

Napas rasanya benar-benar sudah di ujung. Bibir juga ngeluarin sikap enggan buat berhenti mangap macam ikan yang lagi makan penyetan. Padahal keringat belum sempat mengucur deras keluar kandang. Persetan sama teriakan dan skill identik musuh maupun sohib, ane milih fokus buat kembali bernapas normal. Huhahuhahuaaa… (bukan ketawa).

Alih-alih fokus, konsentrasi ane justru makin buyar seiring waktu berputar. Mata ane yang biasanya normal geliga, kok bisa-bisanya mendadak minus. Muka-muka jelek kelihatan makin jelek. Begitu pula yang ngerasa cakep. Ya, spontan jadi jelek juga. Blur! Hahaha…

Karena capek, sepatu ane copot dan disusul sama kaos kaki panjang. Ane bilang ke sohib-sohib bahwa ane menyerah. Mengibarkan bendera putih polos diiringi bintang-bintang yang berorasi ngelilingin seputar kepala bagian jidat. Mata ane mungkin udah menguning saat itu. Ane menepi, keluar dan akhirnya digantikan.

Malam itu lumayan dingin. Hujan yang udah jatuh-jatuhan sedari tadi, ngiringin ane yang awalnya semangat sampai “udahan” karena ngerasa enggak sanggup lagi. Di pinggiran, ane nganggur. Nengok kiri-kanan, kanan-kiri, dan begitu terus. Mampus, ane cuma bisa telentang tumbang; ngejogrok liatin langit-langit.

Jauh sebelum gejala akibat vakum lama itu terlihat, ane sendiri memang sok-sokan; mendadak semangat nge-iya-in ajakan buat joinan main. Maklumlah, akhir-akhir ini ane emang nggak sibuk. Lebih ke mager-magerin diri sih, sebenernya. Hehehe…

Mungkin ini nih yang buat fisik sama sekali kurang siap buat digenjot habis-habisan. Ditambah lagi sama kurangnya, bahkan sama sekali enggak pemanasan. Yang ada cuma sarapan hasil rangkapan makan malam.

Seolah enggak puas sama langit-langit yang menawan, secara reflek manusiawi ane teringat sama mantan toilet. Kebelet mendadak. Ane beranjak, berdiri, kemudian berjalan sempoyongan macam orang mabuk yang pengecut cari keributan.

Toilet adalah tempat yang menenangkan. Paling enggak ya pas itu. Kebelet ane bakal ditanggapi sangat baik oleh tempat tersebut. Begitu pikir ane, sebelum akhirnya dihancurkan bau semerbak yang bagi ane pribadi—dan segelintir kecil orang-orang—sangatlah tidak sedap. Coba pikir, kenapa ada bau durian di dalam toilet umum?

Oke, sebut saja itu sebagai pengharum ruangan yang paling alami di muka bumi. Cuma nih kesian ane-nya atuh… yang entah kenapa, amat sangat rentan sama aroma tajam dari buah berduri-duri yang selalu didewakan banyak orang.

Lagian nih, ngapain juga aroma durian dipake buat menginvasi bau dan mencederai marwah ‘sakral’ dari sebuah tempat ‘semedi’ paling nikmat itu?

Nah, kebayang enggak kalo si maniak durian ada dalam posisi ane saat itu? Lubang hidungnya bisa-bisa spontan memperlebar diameter dan memperkuat daya hisapannya berulang-berulang dengan estimasi waktu yang… hmm… melebihi normal, heh?

Mungkin aja kan, mereka mempercepat aktifitas bernapasnya hingga berkali-kali lipat dari yang manusia dewasa lakukan sebanyak 12-20 kali per menit dalam situasi normal? Mau nikmatin bau durian dalam toilet, gitu? Siapapun pelakunya, semoga malaikat tidak bingung, tersinggung dan keliru menyampaikan aduan kepada Tuhan.

Dan ingat juga nih, perjalanan ane—bisa dibilang membenci durian melebihi kebencian ane terhadap mantan. Eaaaa… Melipir ke toilet waktu itu tuh pas ane mabuk kehabisan napas—terengah-terengah butuh oksigen. Di sinilah masalahnya, wahai bung Ferguso yang budiman…

Jadi, apa bedanya ane sama pra-kondisi yang dicontohin sebelumnya? Jelas beda, iya. Tapi, kesamaannya tetap ada. Terengah-terengah adalah kondisi di mana aktivitas bernapas otomatis bergerak lebih cepat.

Jangan ngomongin diameter lubang hidung. Saat kejadian, ane bernapas make gaya kombinasi antara hidung dan rongga mulut yang saling serobot giliran.

Oke, duet bau toilet dan durian melakukan perundungan yang begitu kasar. Kedamaian yang selama ini ane anggap kekal di semua jenis dan status kepemilikan bilik toilet, kini usai sudah. Sepotong kulit durian yang bertengger santai di atas wastafel, seolah menandakan koloninya di dalam keranjang sampah tepat di bawahnya.

Kebelet seketika lenyap. Sistem pencernaan bergejolak ingin membalik urutan proses awal. Untungnya, demonstrasi tersebut gagal. Tidak ada sisa makanan yang ane makan satu jam sebelumnya; keluar dengan percuma. Kalau enggak, pelataran yang ada di belakang gawang musuh separingan tempat perut ane melakukan aksi, barangkali sudah dibombardir ama sepiring nasi sayur (tanpa piring tentunya) dengan kuah es teh. Yaeikkk!

“Kenapa e, Har?”
“Ada duren anjir,” jawab ane.
“Di mana?”
Jeda beberapa detik, ane jawab aja sambil nunjukin tempat kejadian ‘terkutuk’ itu.

Nyatanya, ‘durenisasi’ itu sudah ada di mana-mana.

2 thoughts on “Hampir Munt*h

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s