Di Luar Kepala yang Sebenar-benarnya

Di Luar Kepala - 7 Februari2018.jpg
pict: pxHere.com

Ada cerita baru dari teman-teman kost-an. Cerita baru ini muncul setalah akhirnya ane punya kesempatan buat nyambangin kost. Memang, beberapa minggu lalu, ane nggak pernah nampakin batang hidung karena masih ada beberapa hal yang sama sekali bukan sesuatu yang lain hal. Di sini, ane lebih prefer buat nge-RAHASIA-innya.

Jadi gini, kesempatan itu memang bukan kebetulan atau intervensi dari hal-hal klenik. Sebenarnya ane menyempatkan diri, supaya tidak dibilang sombong sendiri. Selain itu, sekaligus jadi poin utama adalah; karena si Soni, salah seorang sohib kost-an, baru kembali selepas nikmatin masa liburnya di kampung halaman.

Waktu ane nyambangin kost-an, itu pas dua hari setelah kedatangannya. Itupun malam hari. Sampai di kost, kamar ane—kunci kamar ane sembunyikan di tempat yang sudah dihapal sama temen-temen satu kost-an—sudah terbuka lebar. Di awal-awal, ane kena semprot omelan interogatif sohib-sohib karena dinilai sengaja meninggalkan acara penyambutan. Ya hasilnya, ane bener-bener dibuat kerepotan berdalih dengan alibi; yang lagi-lagi dianggap lemah.

Tapi, seiring waktu hal-hal itu berubah. Update-an terbaru Soni dari segala tetek bengek soal kampung halamannya yang kebetulan juga sama dengan ane—cuma beda kabupaten. Di kamar yang terasa menyempit itu, kita semua ramai-ramai kembali mendengar ceritanya itu. Benar, kecuali ane, yang didapuk sebagai anak baru.

Nah, di tengah-tengah forum, si Ali, salah satu anggota tiba-tiba saja nyeletuk kalo kita harus segera pindah lokasi obrolan. Singkat cerita, tempat kejadian perkara-pun berubah. Ke tempat nogkrong langganan nomor kesekian anak-anak kostan, kali ini termasuk ane. Ya, pilihan kolektif kami jatuh ke Warung Kopi Gandroeng.

*  *  *

Berganti lokasi, berganti juga suasana. Berganti pula dominasi topik dan speaker ke arah yang lebih general. Ane juga bisa lebih sedikit bernafas akibat perubahan ini. Bernafas dari omelan kawan-kawan. Omelan dengan nada becanda itu kadang bikin begah juga. Tapi, karena sudah terbalut dalam satu keakraban, omelan atau hal-hal semacam itu bisa menjadi hiasan yang mestinya biasa. Di luar kepala.

“Hahaha…” Begitulah bunyi tawa lepas kami berlima ketika membahas cerita soal si Boim yang pernah membeli kopi panas ke warung burjo dengan membawa wadah sendiri. Bayangin, bagaimana penampakan si Boim balik ke kost-an sambil nentengin cangkir berisi kopi panas pesenan hasil dari negosiasinya sama A’a burjo. Bagi ane, itu benar-benar jauh di luar kepala.

Jadi, ada apa denganmu di waktu kejadian perkara itu berlangsung, wahai Boim yang sebenar-benarnya? Hehehe…

9 thoughts on “Di Luar Kepala yang Sebenar-benarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s