Malam, Ketika Mati Lampu

Ketika Mati Lampu - 11 Oktober 2017.jpg
pict: @nanangrahmats

Anak-anak kost, rata-rata pada keluar semua untuk ber-malam-minggu ria. Dari semua yang mempunyai acara malming, di kost hanya menyisakan ane dan 2 teman ane yang dari selepas isya’ tadi menjaga ‘sarang’ masing-masing saja. Kami bertiga memilih menghabiskan malam itu dengan dunia di kamar sendiri- sendiri: secara terpisah. Ane melanjutkan game “pokemon” di laptop, sedang Dolli, sohib tetangga persis sebelah kamar ane—terdengar dari suara speakernya—syahdu mantengin lanjutan season terbaru dari film “Game of Throne”, dan teman yang satunya lagi entah mengerjakan apa di kamar bagian lorong utara kost-an miliknya. Akibatnya, malam minggu itu kost-an kami menjadi kekurangan awak untuk menyaingi terpaan “badai” di luaran sana.

Kost-an begitu sepi tanpa sunyi; dari ketiga kamar yang kali ini sedang tidak meminggukan malam, kamar Dolli-lah yang dapat dikatakan paling hidup di antara kamar ane dan kamar Opek di bagian lorong seberang. Suara ‘Jon Snow dkk’ pada film dengan volume speaker yang dipantenginnya itu cukup merepresentasikan adanya tingkat peradaban tertinggi di tengah gempuran angin malam mingguan.

Lama sibuk dengan game, ane yang merasa kelewat bosan akhirnya merapikan bantal-kasur untuk segera terpejam tidur. Menyerah kepada waktu yang terasa lambat jalannya malam itu. Dolli masih dengan film-nya, Opek masih juga tanpa tanda-tanda suara kehidupan, dan di antara itu semua, ane memilih opsi berbaring mengantuk-ngantukan diri—menyepi pada yang sedang sepi.

*  *  *

Playlist lagu andalan pengantar tidur saat itu sudah merdu bersuara melalui output speaker yang tersambung laptop. Lampu utama kamar resmi ane “bebastugaskan” dan digantikan lampu tidur mungil yang remang. Namun, baru sekejap saja mencoba memejamkan mata, tiba-tiba saja, jleb! Secara mendadak listrik mati. Gelap gulita pun langsung memadamkan suara musik sehingga menginterupsi tidur ane seketika. Wajar saja, karena sejak kecil ane sendiri memang “kurang nyaman” kalau harus tidur gelap-gelapan total. Ane-pun dipaksa tegap; merogoh-rogoh sesuatu yang bisa memberi secercah penerangan untuk membuka pintu kamar—mengharapkan cahaya bulan sebagai pertolongan pertama.

Karena mata yang tak bisa melihat apa-apa dalam gelap, terpikirlah untuk menggerayangi korek api di rak buku-buku pojokan kamar. Demi sedikit terang serta ‘males banget’ ama gelap, perburuan itupun berlangsung rusuh menimbulkan diktum bunyi yang begitu kasar.

Setelah berhasil membuka pintu kamar, indikasi “kehidupan” dari kamar Dolli terdengar lebih jelas. Ia jauh lebih santai menyikapi gelap dengan bernyanyi-nyanyi diiring suara dari film tontonannya sedari tadi. Bergeserlah ane menyapa sarangnya.

“Woet!”

“Oey, masa mati lampu, ni?”

“Ayi, hep, tapi ana ndak percaya juga sebenarnya ni,” tak langsung masuk, ane justru memilih buat ngecek sekering kost-an, apa bener mati listrik? Atau cuma kesalahan teknis macam musibah jegleg seperti biasanya.

Opek pun muncul dari ujung lorong—depan kandang mesin air kost-an. “Kulkasnya woy, kulkas,” ujarnya sembari mendekati pintu kamar Dolli.

“Tulen mati lampu ini, Pek,” sahut ane menyusulnya masuk ke sarang yang dari tadi menunjukkan daya hidup paling tinggi, siapa lagi kalau bukan kamar seorang Dolli.

“Wellah, beneran mati lampu ni, Bed?” ucap Opek bernada memastikan. “Padahal, aku nggak ngapa-ngapain dari tadi,” lanjutnya.

Setelah meyakinkan Opek kalau saat itu benar-benar mati lampu dan bukan jegleg atau hukuman “putus listrik” karena kost-an belum membayar tagihan, secara tidak terencana, kami bertiga akhirnya berkumpul membuka tenda pengungsian di kamar Dolli. Kami duduk berbaris rata menghadap laptop sang tuan rumah. Layaknya api unggun, hanya pancaran cahaya layar laptop itulah yang menjadi satu-satunya penerang bagi perkumpulan tiga dedengkot yang sok keep calm menunggui kost-an pada malam itu.

*  *  *

Sebenarnya, tak ada obrolan serius di sepanjang gelap tumben-tumbenan tersebut, melainkan hanya sekadar canda-tawa di tengah kegelapan kost-an—tempat kami sama-sama menitip asa di tanah rantauan. Di awal saat listrik masih menyala, kost-an begitu sepi karena masing-masing kami sibuk menyendiri di sarang masing-masing. Namun, saat mati (listrik) lampu ini, tanpa direncanakan kami berkumpul. Entah, di samping faktor-faktor seperti rasa takut, bosan atau tingkat kenyamanan dalam beraktivitas saat listrik mati yang menurun drastis, sepanjang waktu yang penuh gulita tersebut seolah-olah mendorong kami keluar dari sarang masing-masing dan berkumpul membentuk interaksi satu sama lain.

Di balik semua anggapan buruk pada pemadaman atau padamnya listrik, tentu jika kita melihat dari sudut kepentingan provider (dalam hal ini kita sebut saja PLN), tentu memiliki pertimbangan dan alasan tertentu. Namun, apabila lebih jauh lagi kita melihat, bahkan ada hikmah dan sisi positif lain yang—secara eksplisit maupun implisit—ikut-ikutan turut serta. Dan, dari interaksi itulah, ane pribadi sempat berpikir: jika pola “ketika mati lampu” itu adalah skema tuhan dalam mempersatukan kami yang terpecah akibat sibuk menyendiri; sendiri-sendiri ketika kost-an masih berhiaskan terang lampu-lampu bohlam.

*  *  *

Obrolan kami di sepanjang mati lampu, lebih cenderung mengarah pada keluh-kesah ketidaknyamanan yang diakibatkan padamnya listrik. Mulai soal keluhan gelap-gulita, sampai gawai yang belum sempat di-recharge menjadi topik bahasan kami. Bahkan, kisah-kisah horror pun sempat mendapatkan waktu khusus selama listrik masih dalam keadaan mati.

“Heh, ngomong-ngomong ini, lama sekali nyala lampunya ni,” seloroh Opek yang kebetulan banget, langsung disambut listrik yang kembali menyala. “Alhamdulillah…..!” Sorak kami bertiga, serempak. Ya, bubar serempak. [ara]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s