Kenangan Ember Keresek

Oktober 2017 - Kenangan Ember Kresek.jpg
Barisan ember ‘sok’ imut di kost-324

Helikopter kost-an ane, seperti biasa sedang bersiap-siap terbang sekitar pukul 6 kemarin pagi. Tepat setelah (kebetulan) ane baru kelar menjalankan misi buang air kecil (BAK) dari kamar mandi, salah satu sohib kost-an kedapetan sedang bersiap memulai penerbangannya. Alasannya masih klasik, apalagi kalo bukan kebelet mandi akibat jadwal kuliah paginya hari itu.

“Bed, habis airnya nih, nyalain ya!?” Sambutnya ngagetin ane ketika keluar dari kamar mandi sembari merapikan resleting si ijo pendek kesayangan.

“Oh, nyalain dah, Om. Udah pas juga skejulnya, nih,” jawab ane rada kaget. Dan, otomatis jelas, harus mau nggak mau kudu siap nyimakin bising teriakan maskot kebanggaan itu beroperasi. Ya, rada nggak ikhlas juga sih; menyetujui ‘si calon pilot’ tadi. Duh!

*  *  *

“Nguuuuuuuuuuuuuung!” suara mesin mulai kembali memecah keheningan pagi. Ketika mendengar gaung khas mesin tersebut, ane milih ngelamun lugu menantang telinga di dekat spot mencuci pakaian yang juga bersebalahan dengan sumber suara si helikopter. Di sana, ane mikirin dua pilihan yang sok memiripkan diri dengan dilema punya Septian yang sempet ane ceritain di postingan sebelumnya. Apa ane harus beranjak dari mager untuk mencuci tumpukan baju kotor yang ngejogrok garang di pojokan kamar, atau malah keep sok cool menundanya karena merasa (masih) kurang banyak dan butir-butir pertimbangan soal efisiensi deterjen cuci yang ikut-ikutan?

Melihat 3 biji ember yang berbaris manis, awalnya ane saklek buat nyuci. Mumpung lengang waktunya nih, ketimbang bengong (ngerusak gendang kuping), kan? Tapi sayangnya, pas nengok ngejenguk nasib ketiga ember gede yang imut-imut itu, ternyata semua embernya dalam kondisi penuh dengan rendaman warna-warni pakaian yang entah punya siapa. Sial! Imut-imut tapi malah php. Dan, alhasil, terkurunglah niatan anti-mager waktu itu. Kalau diperhatikan seksama, roman-aromanya; 3 ember php itu belum sempat berganti “pemandangan” selama beberapa hari terakhir. Ane? Memilih pasrah juga maklum. Ya, namanya juga kost-an pejantan tangguh ya, jadinya sudah biasa untuk seringkali terjadi—sebagai tragedi. Fix, niatan ane untuk mencuci: tertindih fix juga oleh faktor situasi. Uuuuulala!

Dari ketiga ember sok imut yang emang tersedia secara resmi sebagai fasilitas umum kost-an itu, mengingatkan ane kembali pada sebatang kenangan yang pernah terjadi tentang kegiatan mencuci pakaian di kost-an lama, sebelum akhirnya ane menjadi bagian ‘hierarki’ kost-324 yang masih tercinta ini.

Sedikit cerita, di kost lama ntu, ane menjadi penghuni tunggal setelah si Toni resmi hengkang terlebih dahulu ke kost-324. Sebelum akhirnya, ane ikutan menyusulnya setelah 6 bulan waktu berselang.

*  *  *

Saat itu, situasinya hampir mirip, ember di kost-an penuh kepake semua. Kenapa penuh? Karena ember kost-an ane yang lama (statusnya) digabung pakai ama ibu kost. Berbeda dengan kost-324 yang terasingkan tanpa dampingan bapak/ibu kost, kost-an lama ane ini bergabung dengan rumah ibu kost. Jadi, meski status ane sebagai penghuni tunggal, ember di kost-an lama nggak selalu ready buat ane. Nah, kalopun kita pingin make ember, harus seijin beliau dulu. Biar ditahu tuh, katanya. Tunggal tapi tak kesepian, itulah suasana zaman api; peradaban awal ane di kota Jogja.

Lanjut, karena rencana mencuci kala itu tersendat, bingunglah ane. Tengah hari itu adalah minggu, dan besoknya Senin, di mana hari itu adalah jadwal “upacara apel” UTS dimulai pukul 8 pagi, dan pakaian khusus buat ngampus kotor plus bau asem semua. Ya, masa’ ane maksa buat make kaos oblong? Yang bener aja, bukannya kelihatan keren, yang ada malah kena “penggal” Om satpam. Mentok, ane harus berpikir menemukan ide untuk mensiasati situasi itu. Mau nggak mau, cucian ini kudu kecuci, terjemur, dan kering sempurna (tanpa setrika, karena emang nggak punya, bahkan ampe sekarang).

Setelah beberapa saat berpikir tegang dengan urat-urat kepala yang ber-ereksi, ide gila pun muncul! Singkat cerita, ane jadiinlah keresek besar yang (bukan kebetulan) ane simpan di kamar kost-an untuk menggantikan peran ember sebagai wadah merendam cucian ketika itu.

*  *  *

Akhirnya, bergeraklah ane buat pilah-pilih baju mana yang akan dicuci. Turut pula dengan tumpukan kresek yang jumlahnya nggak sedikit itu. Semacam casting atau audisi pencarian bakat, ane mencari kecocokan di antara kedua sesi pemilihan; yakni untuk para baju dan wadah perendaman mana yang cocok untuk mengakomodir para wakil pakai-pakaian kotor yang layak lolos seleksi untuk segera dieksekusi.

Tidak sulit ane menjadi juri dalam tahap penyeleksian, sebab memang nggak bikin poros pikir tersesat. Satu pakaian bernia, dan 3 biji (maaf) semp*k berbeda warna menjadi pilihan personal buat dijodohin bareng sebiji keresek merah “jomblo” ukuran besar, berbahan tebal, dan cukup kaku; yang diduga cukup ideal merepresentasikan sosok ember yang kebetulan sedang berhalangan hadir akibat jam terbangnya yang begitu padat.

Singkat cerita, ember kresek ane cukup meyakinkan menjalankan peran daruratnya. Pakaian kotor dan larutan deterjen bubuk berhasil masuk ditampungnya. Ane aduk-aduklah rendaman nekat itu macam adonan bakwan, terus menaruhnya bersama batu-bata sebagai tanggul perlindungan “anti gempa” versi dadakan di tepi kotak wilayah khusus penghuni kost-an mencuci. Sembari menunggu rendaman itu “mendidih-mengembang,” ane ngelipir ninggalin adonan eksperimental itu ke kamar. Membiarkannya dalam kesendirian. Sendirian. Ya, biarkan saja perjodohan itu berjalan membentuk hasil adonan asmara yang natural. Uhuk…!

Cukup lama waktu berselang dan fokus perhatian yang bercabang (inget, besoknya UTS) dalam tunggu, ane keluar kamar ngeliatin nasib cucian itu. *tepok jidat* ealaaaaahdalllaaah! Ane kaget. Entah kenapa kresek merah kekar itu jatuh salto meleberkan air rendamannya berserak kemana-kemana. Pemandangan yang terlihat hanyalah kekacauan layaknya suasana pasca perang yang menyisakan buih busa pengharapan. Kereseknya tersungkur, komponen tanggul terseret banjir, baju yang paling diharapkan setengah menjulur keluar dari keresek, dan salah satu dari 3 (maaf lagi) celana dalam ane hampir ditelan: lubang saluran pembuangan.

Mendadak dari juri audisi, ane berubah jadi sosok lifeguard di sebuah kolam busa deterjen cuci. Saat kejadian, ane nggak berpikir soal penyebab kekacauan itu terjadi. Fokus ane hanyalah menyelamatkan asa. Akan tetapi, ketika postingan ini sedang ditulis, ane berpikir kembali. Mungkin nggak? “Adonan perjodohan” itu nyatanya masih belum cukup disebut ideal. Si Kresek merah yang terpilih; tidak cukup kuat menggantikan peran sang ember dalam menopang beban asmaranya. Mungkin juga ada perdebatan yang tak bisa selesai antara kresek dan baju yang ditampungnya atau bahkan, ada faktor eksternal yang ngeruntuhin perjodohan tersebut. Orang ketiga misalnya? Apa mungkin tanggul batu-bata yang ane utus sebagai pendukung itu; iri dan cemburu? Tentu sangat banyak kemungkinan yang perlu dicari.

*  *  *

Karena gagal merampungkan asa, akhirnya ane bilas sekadarnya. Muka sewot rada ngenes, ane (terpaksa) menikmati prosedur pembilasan yang konon mesti dilakukan sebanyak 3 kali berulang. Kelar, penjemuran pun dimulai setelah mengasingkan kresek rendaman tadi ke tong sampah. Pada akhirnya, jemuran ane bergantung seksi di antara jemuran-jemuran punya orang di tempat penjemuran wajib kost-an —yang tulen kekurangan “vitamin M.” Harap-harap cemas, tentu belum selesai sampai di situ.

Besok harinya, kekhawatiran ane nyatanya masih berlaku. Meskipun belum benar-benar kering, ane tetep maksa buat ke kampus mengenakan kaos polo biru yang status kebugaran fisiknya itu; masih di seperempat kuyup. Aseli nggak nyaman, lembab-lembab geli gimana… gitu. (ara)

Advertisements

5 thoughts on “Kenangan Ember Keresek

      1. 😂😂😂 aduh, ember sya dikos saja empat Mas. Kalau ga darurat ga mau nyoba. Tp saya pernah nyuci tanpa ember. Jd detergen lngsung tuang dibaju. Tp ga maksimal jg sih

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s