Helikopter

IMG_20170909_084040.jpg
Ini penampakannya?

Dini hari hingga pagi itu, kebetulan ane begadang karena lagi-lagi nggak bisa melelapkan mata. Mungkin karena kebanyakan asupan kafein kopi sachet yang ane minum sebanyak dua gelas sekaligus dalam satu wadah ―sendirian, tanpa riasan gula.

Sepanjang waktu terjaga kaya’ satpam komplek di pos ronda, ane berjaga sendirian. Cuma ditemenin ama alunan daftar putar “Tidur” yang hampir semua musik yang menjadi anggotanya bergenre entah ane nggak tahu. Namun yang jelas, rata-rata, lagu-lagunya bertempo selow dan nggak bikin bising karena takut ngeganggu anak-anak satu kost-an yang udah tepar.

Ceritanya, ane kepingin “balas dendam” sedikit. Pinginnya nyetel musik yang rada nyantai buat semangat pagi. Toh udah pagi juga, kan? Ane prediksi, anak-anak udah mulai berjuang melek dan siap mengerjakan rutinitasnya, yakni mandi. Biasanya, jam 6 pagi udah ada tuh yang mulai ngubek-ngubek air buat “nyiksa” diri nantangin dingin, dikeroyok gigil dan ngeluarin bunyi gemericik dari dalam salah satu —dari 3 biji jumlah total bilik kamar mandi di kost-324 (nama kost-an ane). Jadi, kegiatan “balas dendam” ini agaknya realistis untuk segeran ane rayain. Ya-Ha!

Ane lihat keluar pintu yang sedari acara begadang tadi, ane biarin kebuka lebar. Tampak silau sinar matahari sudah terang seolah memberi tanda bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengganti daftar putar yang diisi oleh sekumpulan musik tidur dengan musik-musik nyantai yang ane banget buat didengerin ketika pagi. Salah satu soundtrack dari film yang sedang booming sementara ini, sudah siap ane klik dan memutarnya via streaming yutup pada jam-pukul pagi tadi. Sialnya, apa yang paling ditakutkan plus bikin mood runtuh saat menyetel musik atau ketika sedang tidur nyenyak-pun terjadi.

“Helikopter!” Teriak panjang sang Pilot mengucapkan tanda peringatan “siaga bising” dari helikopter yang bersegera Take Off. Bunyi Helikopter yang sedang lepas landas memaksa ane untuk menunda dendam. Niat ane muterin musik dengan volume yang (sedikit) lebih besar, seketika musnah! Ya, musnah, sebab helikopter kost-an mendadak lepas landas. Ngiiiiiiiiiinng…! Nyaring bunyinya memecah kedamaian pagi.

“Waduh, siapa lagi yang jadi pilotnya ini?” Reaksi umum sohib-sohib ketika mendengar bunyi desing maskot “kebanggaan” kost-an ane tersebut. Bahkan, ane juga yakin, bisingnya itu bikin para tetangga menyertakan dua keping daun kuping “empati” pada hunian kami sembari ngomel sana-sini (dalam hati). Apalagi buat nyang kebetulan sakit gigi, makin nyeri lagi. Duh, ngeri!

*   *   *

 

Pernah Minta Ganti

Akibat noise  yang ditimbulkan oleh desing Helikopter tersebut, temen-temen satu kost-an pernah beberapa kali membuat petisi secara kolektif ke Pak Kost-an. Tapi sayangnya, memang masih belum terealisasi sampe sekarang.

Menurut Bang Adam, salah satu “sepuh” di kost-an pernah bilang, selain berisik, Helikopter itu juga memang sudah cukup berumur sehingga ada kans untuk diganti. “aku tuh, masuk tahun 2009, helikopter yang sekarang itu ada pas 2012 sampe sekarang ini,” ungkapnya saat ditanya; di sela waktu ngobrol-nongkrong di jalan depan kost-an, 25 Agustus 2017.

Bila dihitung-hitung, kurang-lebih, usia maskot itu sudah berusia 5 tahun, atau setara dengan usia anak-anak yang baru duduk di bangku Taman Kanak-kanak (TK). Bahkan, perkiraan itu bisa saja kurang dari usia aslinya. Artinya, terdapat kemungkinan kalau usia mesin tersebut melebihi angka 5. Siapa yang tahu kalau helikopter itu termasuk barang seken, sebelum akhirnya “mendarat” sebagai maskot di kost-an? Nah!

Dari pantauan ane, mulai awal masuk pada 6 Juni 2016 sampai 31 agustus 2017, Helikopter itu rata-rata melakukan lepas landas sebanyak dua kali sehari. Biasanya, penerbangannya dilakukan pada pagi hari dan sore menjelang petang hari, dengan kisaran estimasi waktu penerbangan-pendaratan selama 1 jam. Dengan kata lain, jumlah total bising bunyi helikopter tersebut rata-rata terdengar selama 2 jam/hari. Itupun belum termasuk hitungan dengan situasi dan keterpaksaan di waktu-waktu mendesak yang lain. Seperti kebutuhan jumlah “bantuan” air —sebagai tugas utama si helikopter— yang tiba-tiba membeludak, misalnya. Hal ini biasanya terjadi jika semua penghuni kost lagi betah-betahnya eksis di kost-an.

Alhasil, dengan mempertimbangkan faktor-faktor tadi, tidak berlebihan jika sikap kolektif dari para penghuni satu kost-an merekomendasikan penggantian mesin air yang dijuluki sebagai Helikopter itu dilakukan. Bahkan, kolektifitas itu pun masih mendapatkan intervensi dari temen-temen di luar keanggotaan kost. “Ganti aja udah, sayangilah kuping dari bising,” salah satu bunyi hasutan mereka.

IMG_20170909_084030.jpg
si “Helikopter”

 

Tembok Penghalang

Meskipun berkesan adanya unsur kepentingan politis seperti layaknya isu revitalisasi gedung dan penambahan anggaran anggota dewan yang menimbulkan polemik, alasan rekomendasi tersebut setidaknya mempunyai hal yang lebih terang dan tidak mengada-adakan pertimbangan yang tidak ada, atau belum perlu.

Pertama, faktor pendorong penggantian helikopter tersebut disebabkan oleh bising yang dihasilkan dari suara mesin itu ketika menyala menjalankan tugas. Belum dapat dipastikan seberapa jauh jangkauan ketidakramahan suara bisingnya dapat terdengar. Yang jelas, bunyi desingnya tidak hanya mencakup seluruh area kost-an yang memiliki 16 kamar ini saja, tapi juga areal di sekitarnya. Semisal para tetangga yang merupakan rumah-rumah warga dan kost-kost-an lainnya.

Kedua, helikopter tersebut diduga sebagai penyokong utama membengkaknya tagihan listrik kost-an. Seperti yang dilansir dari laman Kreditgogo.com, mesin air dikategorikan sebagai salah satu dari beberapa benda elektronik yang umumnya; membuat boros penggunaan listrik sehingga menguatkan keinginan untuk mengganti helikopter lama dengan helikopter baru yang lebih irit memakan listrik.

Namun, karena adanya beberapa hal yang menjelma sebagai tembok penghalang, membuat peluang penggantian helikopter tersebut semakin kecil. Harga mesin baru yang cukup mahal menjadi poros persoalannya. Rata-rata, kisaran harga barunya berada pada rentang angka 500 ribu rupiah ke atas. Itupun belum tentu diikuti dengan kualitas dan bunyi mesin yang tidak bikin pening. Selain itu, Pak Kost yang berada di luar Yogyakarta, turut membebani proses negosiasi dan lobbying, sehingga langkah realisasi “mengganti helikopter baru” menjadi tidak seefisien dan seefektif manuver-manuver politik seperti kebanyakan politisi di suatu negeri (ini).

Melihat kendala-kendala yang terlihat, membuat ane dan kawan-kawan di sini terdorong untuk bersikap legowo saja dengan apa yang ada sekarang. Kalaupun ingin dipaksakan, kembali, Bang Adam ngejelasin, harga sewa kost senilai 1,5 juta/tahun saat ini diprediksi akan kembali dinaikan. Kenaikan tersebut akan memberi kesulitan lain, sebab harga sewa yang terbilang murah itu memang sedari awal sudah repot dengan keterlambatan “klasik” iuran listrik per individu setiap bulannya. “Kalaupun diganti, harga kost per tahun pasti naik. Dari dulu juga gitu setiap ada perbaikan. Jamanku pertama masuk, sewanya 900 ribu/tahun, terus naik sampai harga sekarang ini,” terangnya.

Menurutnya, perihal helikopter ini bisa disikapi secara cerdik. Bunyi bising, lanjutnya, biasanya akan diikuti dengan tiap penghuni yang seiring waktu akan beradaptasi menyesuaikan diri. “Diajak santai aja, kalaupun tetangga marah, ya biarin aja. Wong ndak pernah protes juga, kok. Paling cuma ngedumel sendiri, mirip kita di kost-an,” ujarnya disertai tawa. “Kalau nggak, mesinnya, kan bisa ditutup tuh, buat ngeredam suaranya,” lanjutnya.

Jika dicermati, penggantian mesin tersebut tidaklah terlalu mendesak. Terutama perihal dugaan membengkaknya tagihan listrik tiap bulan. Setiap penghuni kost sebenarnya bisa mensiasati dengan cara berhemat alias meminimalisir penggunaan listrik yang tidak perlu, baik itu penggunaan masing-masing pribadi maupun penggunaan fasilitas umum yang tersedia di kost-an. Meski diaukui, butuh kesadaran pada masing-masing individu untuk meminimalisir pemakaian listrik. “Intinya, jangan manja kayaq pejabat,” tutupnya.

Advertisements

4 thoughts on “Helikopter

  1. Wah klo udah dirasa menganggu mesti buat petisi ke pak kos buat segera diganti. Itupun seharusnya gak membuat harga kost naik. Karena klo udah bising sekali termasuk fasilitas yang buruk dan justrubisa menurunkan harga kostnya 😀

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s