Hanya Kurang Waspada

ezra-walian-nyanyi_20170817_234100.jpg
Ezra Walian #10 (sumber gambar: tribunnews.com)

Kekalahan timnas sepakbola Indonesia di ajang SEA Games 2017 pada laga semifinal melawan Malaysia di Stadion Shah Alam, Selangor Malaysia, pada Sabtu, 26 Agustus 2017 kemarin, menuai hasil mengecewakan bagi timnas Indonesia. Evan Dimas DKK harus mengakui keunggulan Harimau Malaya dengan skor tipis 1-0 melalui gol tunggal yang dicetak oleh Thanabalan Nadarajah di menit ke-87 usai meyambut umpan sepak pojok dengan sundulan kepala.

Akibat kekalahan tersebut, Indonesia harus puas melanjutkan laga di partai perebutan medali perunggu menghadapai Myanmar yang juga takluk secara dramatis dari Thailand. Sementara Malaysia akan menantang Thailand pada laga puncak penentu perebutan medali emas. Kedua pertandingan puncak tersebut akan dihelat pada tanggal yang sama pada lusa (29 Agustus 2017) besok.

Di menit awal-awal permainan, Malaysia memang terlihat mendominasi dan cukup memberikan kekhawatiran. Dengan skema 4-4-2, pemain Malaysia terlihat jelas mengurung Indonesia dengan menerapkan pressing untuk menghambat para pemain Indonesia membangun permainan. Walaupun penjagaan para pemain Malaysia tidak seagresif skema yang menjadi ciri khas Vietnam ketika dalam posisi bertahanan, namun dengan memajukan sedikit garis pertahanan hingga hampir separuh lapangan membuat jarak antar pemain mereka terlihat mengumpul di bagian tengah sehingga mampu menutup ruang gerak garuda muda yang menggunakan susunan 4-2-3-1 dalam mengkreasikan pola serangan.

Namun, karena lemahnya konsistensi Malaysia menerapkan skema tersebut, Indonesia  berhasil lepas dan menciptakan momentum yang kemudian berlanjut hingga memberi perlawanan. Mulai pada menit ke-20 hingga menit akhir babak pertama, tim asuhan Luis Milla terlihat lebih berani menyerang dan menekan pertahanan Malaysia yang kerapatan jarak player support mereka mulai mengendur. Beberapa peluang pun berhasil tercipta dan mengancam gawang Malaysia yang dikawal oleh Muhammad Haziq bin Nadzli di babak pertama.

Terbebas dari kurungan menjadikan pemain Indonesia kian percaya diri dalam memburu kemenangan. Dengan angka ball posesion 60% berbanding 40%, Indonesia berhasil mendominasi tim tuan rumah Malaysia. Begitu juga dengan presentase keakuratan passing, Indonesia unggul tipis dengan 75% melawan 72% milik Malaysia di sepanjang paruh pertama pertandingan.

Di Babak kedua, tensi pertandingan mulai berubah. Malaysia mulai gencar menyerang melalui kedua sektor sayap mereka. Mengandalkan serangan balik cepat, Indonesia sempat kewalahan sehingga memaksa banyak melanggar dan memberikan peluang-peluang melalui situasi set piece pada Malaysia. Umpan-umpan crossing juga sempat beberapa kali memaksa Satria Tama yang berada di bawah mistar timnas Indonesia jatuh-bangun mencegah gawangnya dari kebobolan. Dilansir dari situs bolasport.com, Para pemain timnas hanya 8 kali memenangi sundulan dari 23 total jumlah duel udara, menunjukkan kelemahan Garuda Muda menghadapi duel-duel udara. Terbukti, gol kemenangan Malaysia pun datang dari tandukan yang luput dari kesigapan pemain-pemain belakang Indonesia.

 

Head-to-Head di Second Line

Jual-beli serangan yang terjadi sepanjang babak kedua membuat dominasi Indonesia pada babak pertama menurun. Terbukti dari dominasi penguasaan bola, Indonesia mengalami penurunan walaupun masih unggul. Sementara Malaysia justru menunjukkan efektifitas serangan yang lebih baik dengan total attempts sebanyak 13 dan mendapatkan 7 kali tendangan penjuru sepanjang 90 menit.

Skuad Indonesia bukannya tanpa peluang, salah satu peluang terbaik datang dari kaki Ezra Walian. Mendapatkan umpan terobosan, unjuk tombak bernomor punggung 10 ini lepas dari posisi offside. Sayangnya, ia gagal mengonversinya menjadi gol setelah berhasil digagalkan dua pemain belakang tuan rumah.

Kegagalan Garuda Muda mencuri gol ditengarai oleh koordinasi tim yang belum maksimal ketika menyerang. Ezra yang bertugas sebagai target man seringkali terlihat bekerja sendirian. Striker naturalisasi asal Belanda ini jarang mendapatkan suplai bola dari lini tengah. Evan Dimas dan Septian David yang bertugas mengalirkan bola seringkali dipaksa bermain lebih ke dalam oleh serangan-serangan Malaysia sehingga menciptakan jarak antara lini depan dan lini tengah Indonesia.

Meskipun mengandalkan kedua sayapnya, Second Line Malaysia terlihat lebih dekat membantu dan meng-cover penyerangan. Berbeda dengan Indonesia yang terlambat maju ketika melakukan transisi dari posisi bertahan ke penyerangan. Bola seringkali terlepas dari kaki Ezra Walian yang notabene sebagai striker pemantul bola dan pembuka ruang bagi pemain-pemain lain di lini serang kedua dari kubu Indonesia, terlambat naik. Umpan-umpan direct dan holding ball yang lemah juga kerap kali mudah diintersep oleh para pemain Malaysia memperlihatkan jarak antar pemain Indonesia terlalu jauh. Pergerakan dua winger cepat Indonesia yang diisi Febri Haryadi dan Yabes berhasil diminimalisir lini wingback lawan dengan baik. Dengan kata lain, dapat dikatakan pemain yang membawa bola kerap kali dibiarkan berjuang sendiri. Pergerakan tanpa bola kurang sigap mensupport atau menjaga jarak umpan pendek untuk melakukan penetrasi lebih ke jantung pertahanan lawan.

Ditarik keluarnya Walian dan memasukkan Osvaldo Haay pada menit ke-70 oleh Luis Milla seperti membuat semacam pertaruhan dengan mengorbankan “pengubek” kotak penalti lawan dengan menerapkan peran false nine demi meningkatkan aktivitas di second line. Keputusan Milla dinilai tidak sepenuhnya salah. Karena cederanya Septian David di menit ke-60 sendiri juga kian turut andil mengganggu performa tim skuad muda Indonesia dalam berupaya memburu gol.

*  *  *

Kalah postur dan kerapatan jarak antar pemain, menjadi faktor utama takluknya Indonesia atas Malaysia. Walaupun secara statistik dari kedua tim imbang, Malaysia pantas unggul karena kolektivitas dan pemanfaatan keuggulan postur fisik yang kontinyu dalam melancarkan serangan serta memecah konsetrasi skuad kita. Akan tetapi, hasil itu bisa saja berbeda jika Indonesia mampu unggul terlebih dulu ketika masih memegang momentum jalannya pertandingan di babak pertama.

Selain itu, jika dilihat dari tensi pertandingan, bobolnya gawang Indonesia di penghujung akhir adalah hal yang tentunya sangat mengagetkan —apalagi bagi para pendukung Garuda Muda di tanah air— karena hanya kurang waspadanya penjagaan dan kesigapan menghalau bola. Sepantasnya bila perseteruan laga “musuh bebuyutan” tersebut dapat berlanjut ke babak perpanjangan waktu. #CMIIW

Advertisements

2 thoughts on “Hanya Kurang Waspada

  1. Ulasan yg sangat menarik, ternyata Anda analis spk bola yg baik.

    Betul, itu hnya mslh kurang waspada. Pdahal itu dari set piece..

    Akhirnya, walaupun sangat mengecewakan, kita hrs ttp menerima kekalahan ini dg legowo, huhu…

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s