Petak Parkir di Gang Mungil

Lahan Parkir Yudha-1.jpg
‘Penampakan’ si Gang Mungil – pict: @sanchenzfaf

Di mana ada gula, di sana ada semut. Jika kita mengibaratkan gula itu adalah destinasi, seperti tempat belanja misalnya, di situ sudah pasti ada lahan parkir yang tersedia.

Seperti yang terlihat di salah satu rumah karib ane di bilangan Punia, Mataram, dimana halaman kediamannya ia gunakan sebagai lahan parkir bagi para pengunjung sebuah toko yang tepat berada di depan rumahnya.

Karena pengunjung toko yang berkendara cukup ramai, serta letak toko dan kediaman sohib ane ini saling berhadapan ―dipisah gang mungil, akhirnya inisiatif kawan ane muncul untuk menjadikan halaman kediaman rumahnya yang cukup luas, sebagai lahan parkir. Selain persoalan lokasi, ide tersebut muncul supaya gang mungil yang menjadi jalan utama warga itu tidak tersendat (hanya) karena para pengunjung toko yang kebingungan; mesti parkir di mana.

Melihat fakta di lapangan, sebelum lahan parkir itu dibuka, para pengunjung toko ramai-ramai memarkir kendaraannya di sisi gang. Alhasil, lebar gang yang sudah memang mungil, makin mungil sehingga mengganggu aktifitas warga yang melewati gang penghubung menuju jalan besar Abdul Kadir Munsyi, Punia itu. Kemudian tanpa perlu banyak prosedur dan jalinan komunikasi dengan owner toko menghasilkan kesepahaman, akhirnya ide tersebut terealisasi. Bahkan, berjalan sampai saat ini.

 

Sebuah Tanggung Jawab

“Parkirnya di dalem aja ya, mbak-mas,” begitulah kata-kata yang sering diucap untuk menyapa para pengunjung toko yang membawa kendaraan. Sedikit bingung juga kikuk, respon mereka tak selalu mulus. Ada yang manggut langsung mau, ada juga segelintir orang yang “iya, cuma bentar ajja, kok” dan tidak menuruti. Ya, lagi-lagi nih, perlu sabar untuk ngasih tahu lalu-lalangnya para pengunjung toko.

Tapi, ketika pengunjung toko yang tanpa aba-aba langsung berinisiatif masuk ke areal parkir yang disediakan, itu rasanya bahagia banget. Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang memang sudah sering mampir ke toko itu sebab sudah tahu dan paham mesti markirin motornya di mana. Sederhanya, pelanggan yang berhasil tergoda buat balik belanja ke toko, bakalan nggak perlu digiring-giring lagi.

Kawan ane yang notabene sebagai pegatur di areal parkirnya terkadang kerepotan, terlebih jika lapak toko di depan kediamannya ‘ntu sedang ramai-ramainya. Dari mulai ngerapiin posisi motor, memberi petunjuk bagi para pengunjung awam untuk parkir di tempat yang sesuai, sampai ngerogoh saku soal duit kembalian. Duh, hebatnya, dia ngelakuin hal itu sendirian. Ane yang kebetulan nyambangin tempatnya kemarin, jadi tersadar bahwa aktivitas seorang penjaga lahan parkir tidak sesederhana kelihatannya. Di luar status pekerjaan dan itikad pribadi, secara langsung maupun tak langsung, penjaga lahan parkir (menurut ane) ialah suatu bentuk tanggung jawab yang memberi “ruang” bagi hedonisme sosial yang kadangkala; agak sedikit kalap ―memarkir motornya menyerupai lapak-lapak dagangan kaki lima.

Lahan Parkir Yudha-2.jpg
Lahan Parkir – pict: @sanchezfaf

Tidak cuma itu, dari sisi pemilik toko yang langsung mengiayakan ide lahan parkir tersebut secara tidak langsung, juga ikut andil dalam meretas potensi terganggunya si gang mungil tempat tokonya berdiri. Bayangkan, jika pengunjung ramai dan motor-motor yang “nongkrong” nungguin sang majikan berbelanja di pinggiran gang. Apa yang terjadi? ―meminjam istilah tokoh komik si Juki― Ruwet mirip jalanan ibukota! Sebab volume kendaraan yang bisa ditampung, meleber dan memakan ruas gang.

Di balik sisi bisnis yang dijalani, pihak toko juga bertagung jawab dengan kenyamanan warga komunitas di sekitarnya. Begitu juga dengan para pengunjung, meski bayar ongkos parkir, setidaknya pulang-perginya terjamin, bukan? Lagi, bagaimana jika kita membayangkan bila lahan parkir itu tidak ada saat ini, kemungkinan besar suara-suara klakson pertanda “pindahin motornya, gue mau lewat” bakalan akrab di telinga warga sekitar. Dan, berbalik lagi ke para pengunjung toko karena harus merelokasi “peliharaannya”. Duh, repot bukan main, kan? Lagi asik belanja malah digangguin ama bunyi klakson. Jadi, setidaknya, dengan adanya lahan parkir, kita sudah diberi akomodasi ―meskipun kadang harus ngerogoh kocek― untuk tidak ngeganggu kenyamanan sesama pengguna jalan dengan memerankan diri sebagai kontributor kemacetan. Dalam hal ini, sepanjang gang di salah satu kawasan kota.

Advertisements

5 thoughts on “Petak Parkir di Gang Mungil

      1. semacam assesoris DKK yang dikhususkan buat wanita, mbak. Rata-rata tuh, cewek-cewek yang dateng. kalopun ada cowok, paling si cowok nunggui di parkiran dan “main monopoli” bareng temen2 ane yang ngejaga parkiran.

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s