Tentang Sebiji Rencana

peresmian-transmart-mataram
Peresmian Transmart Mataram. (lombokita.com)

Di zaman millennial sekarang ini, kalau tidak ke Mall, disebut enggak gaul. Bagi anak-anak muda generasi ini, sebuah keharusan untuk bepergian ke pusat-pusat perbelanjaan. Tak lain, eksistensi dan narsisme ialah karakteristik yang mendayangi fenomena ini.

Nah, karena kebetulan ane terbilang masih cukup muda untuk jadi orang gaul, sepertinya ane harus menyusun rencana liburan ke Mall. Liburan ke Mall? Ya, tidak salah, bukan?

Rencana liburan itu, ane rasa cukup bagus. Tidak beli apa-apa, muter-muterin tiap toko layaknya orang kaya, dan modal? Cukup bawa uang senilai tarif parkir saja. Eh, tongsis jangan lupa deng, hahaha. Tujuannya murni, demi menuhin syarat masuk sebagai anggota; tingkat “kegaulan nasional” yang sedang mengakar di benak kita, akhir-akhir ini. Ya, KITA.

Setelah lebaran ketupat, 2 juli kemarin, ane nggak kemana-kemana, stay cool dengan kegiatan-kegiatan yang biasa ane lakuin, nulis. Rada bosen juga sih, udah hampir sebulan di Lombok ini, masih belum juga pergi liburan ala-ala kekenian. Sesekali nggak apa-apalah, sekalian liburan pasca lebaran ketupat, pikir ane. Toh, kalopun di Jogja, sulit banget buat liburan ala-ala, karena jadwal nguli-ah bikin males kemana-kemana. Meskipun, akomodasi di sana juga (lebih) bejibun. Haaaaazzeg!

*  *  *

Berapa banyak pusat perbelanjaan atau mall di Lombok? Di Mataram, setidaknya bisa dihitung ada tiga, yakni Mataram Mall, Lombok Epicentrum Mall, dan Transmart. Kalau bergeser sedikit ke bagian Narmada, ada Lombok City Center Mall. Totalnya, sudah ada empat mall besar yang mencengkram Lombok. Wow!

Karena Mataram Mall, LEM, dan LCC udah sempet ane kunjungin, pilihan liburan pasca lebaran ketupat jatuh kepada, eng ing eng… Ya, Transmart Mataram! Pas banget, kan? Ini mall masih fresh! Sebab grand opening―nya aja baru dilaksanain sebelum lebaran, tepat tanggal 23 Juni kemarin. Denger-denger juga, kata si mantan, tempatnya cukup bagus, instagramable tingkat menengah mewah―lah, katanya.

Memang, letaknya memberi perbedaan yang kontras dari sebelum bangunan itu muncul sebagai yang tertinggi di sekitar sana. Pas jalan pulang dari Lombok Timur kemarin, ane sempet tuh, lewat di depan gedungnya, di jalan Selaparang, sebelah barat persimpangan Sweta, Mataram. Yaps, terang-terang silau. Itulah kesan pertama ane, ngeliat bentukannya. Kalo diinget-inget, malah mirip sama silaunya Indom*ret Point. Hehehe.

Selain karena belum pernah ngunjungi interiornya, pendorong ane milih ini tempat, karena dinilai sebagai pemicu titik kemacetan. Saking ramenya kali, yak? Ane cukup setuju pas ane lewatin jalannya, bisa dibilang; padat merayap, padahal saat itu adalah malam di hari Lebaran. Itu berarti, gedungnya bener-bener seductive banget buat masyarakat. Dalam hal ini, Transmart bisa jadi warning buat mall-mall lain. Cieeeee!

Well, ngomongin soal macet, memang rada bikin kesel juga, ya? perempatan Sweta, Mataram sudah seperti perempatan Gejayan, Yogyakarta, yang dimana mirip seperti Lippo Plaza di Jalan Laksda Adisucipto. Titik kemacetan paling ngeselin ada di saat-saat jam pulang kerja. Aseli, mirip. Dari yang keluar-masuk, kendaraan-kendaraan yang berparkir ria di bahu jalan, sampai antrian kendaraan yang nungguin transisi lampu merah ke warna hijau, dan… boom! Bedanya cuma jarak antara Transmart―nya ke lampu rambu lalu lintas penghias persimpangannya. But, overall, kondisinya tetep gak jauh beda.

Ruas jalan dengan volume kendaraan yang lalu-lalang terlihat timpang. Sehingga, enggak lebay, kalau siaran kabar dari Lombokita.com, perihal rekomendasi Dishub Kota Mataram kepada pihak Transmart untuk memperluas lahan parkirnya 3 Juli lalu, sempet “hangat dibicarain”. Layaiyalah, hangat. Lha wong, inisiatif dari rekomendasi tersebut, memang berdasar pada banyaknya keluhan masyarakat (termasuk ane) yang berasumsi bahwa, keberadaan pusat perbelanjaan itu sebagai titik pemicu kemacetan yang terjadi.

Tapi, lagi-lagi, ane tetep keukeh buat nyobain tempat baru itu. Soal macet, pihak Transmart, mungkin aja kaget sama sambutan masyarakat yang bisa dianggap “lebay banget,” semenjak mereka mulai mendeklarasikan tanda “BUKA”. Ketika akomodasi lahan parkir yang disediakan dinilai kurang, itu berarti, jumlah pengunjung berkendara yang terlalu banyak berdatangan.

Maka dari itu, ane datengin tempatnya besok (kapan-kapan, deng). Tapi, kira-kira masih macet nggak, ya? Kalo masih macet, alhasil, deh. Ane jadi termasuk dalam bagian yang berpartisipasi di acara “pesta macet perempatan,” dong? Duh, kok jadi bingung gini, sih? —dateng nggak, ya? Dateng, deh. Siapa tahu, di sana ada bahan tulisan yang bisa dikarungin. Nah, biar tenang, besok ane ke sana jalan kaki, atau mungkin, pakai bemo kuning. MUNGKIN.

Advertisements

4 thoughts on “Tentang Sebiji Rencana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s