Libur Lebaran, Rinjani Dipadati Pendaki

(sumber: rinjaninationalpark.com)

Data Balai TNGR yang menyebut sejak Minggu (25/6) hingga kemarin (29/6), jumlah pengunjung Rinjani mencapai 4.724 orang. Angka ini dipastikan terus meningkat hingga akhir masa liburan Minggu (2/7). Jumlah tersebut melebihi data pada tahun 2016 lalu yang menyentuh angka 1000 orang lebih. (Lombokpost.net, 1 Juli 2017)

Bagi para pendaki, libur lebaran, sudah menjadi momentum yang tepat untuk melakukan pendakian, sehingga jumlah pengunjung bisa meningkat lebih dibanding hari-hari biasanya. Hal ini berlaku juga terhadap gunung-gunung pendakian lain di Indonesia.

Apabila masa libur lebaran tiba, Gunung Rinjani akan dipadati wisatawan yang mendaki sehingga tak berlebihan jika ada potensi peningkatan jumlah total pengunjung di tahun 2017 ini. Prediksi tersebut juga cukup realistis, seiring tren jumlah pendaki yang terus meningkat setiap tahunnya.

Berdasarkan data dari Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) yang dilansir dari Okezone.com, jumlah wisatawan yang melakukan pendakian, selama tahun 2015, baik mancanegara maupun nusantara, sebanyak 70.705 orang (wisman 27.186 orang dan wisnu 43.519 orang). Jumlah ini meningkat 14,61% dibanding tahun 2014 yang memeluk angka 9.013 orang.

 

Membawa Berkah

“Di tiga hari paska lebaran memang ada peningkatan. Angka registrasi pendaki mencapai di atas seribu lebih. Didominasi oleh pendaki lokal,” kata Kepala Balai TNGR, R. Agus Budi Santoso, dikutip melalui Lombokpost.net, 1 Juli 2017

Memang, pada H+2 pasca lebaran, pengunjung yang memadati Rinjani terlihat lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa. Berdasarkan statistik tahun-tahun sebelumnya, puncak peningkatan biasanya akan mulai berakhir pada H+7 pasca lebaran.

Peningkatan ini, tentu membawa berkah yang cukup berpengaruh bagi pihak lainya. Selain para porter Rinjani yang kecipratan karena menumpuknya jumlah pendaki, rental penyawaan alat dan perlengkapan pendakian juga mendapatkan peningkatan omset dari tren tersebut.

Savana Petualang Lombok, misalnya. Rental penyawaan alat dan perlengkapan pendakian yang berlokasi di Lingkungan Banjar, Ampenan, Mataram ini, langsung mendapat dampak peningkatan pendapatan, bahkan sebelum lebaran hingga H+2 lebaran, stok barang sudah mulai diburu para pendaki.

Beberapa barang yang paling dibutuhkan biasanya, tenda, sleeping bag, tas carrier, headlamp, hingga kompor portable. Bahkan, perlengkapan yang jarang diminati seperti tracking pole, dan kursi (portable) gunung pun, ramai diincar pendaki.

Menurut pihak Savana Petualang sendiri, selain jumlah wisatawan yang kian meningkat, kecendrungan konsumen yang lebih selektif dan sadar akan fungsi produk juga membuat pesanan perlengkapan semakin bertambah dan variatif, baik dari brand, fungsi, paket harga sewa, maupun jenis-jenis perlatan yang dibutuhkan para pelanggan.

Selain para pendaki gunung Rinjani, rental perlengkapan mendaki seperti Savana Petualang Lombok juga tak luput dari kebanjiran pemesanan oleh pendaki yang memilih spot pendakian alternatf lain, semisal Bukit Nanggi dan Pegasingan yang juga terbilang cukup banyak.

 

Tindakan Antisipasi

Sementara itu, dari peningkatan jumlah seperti ini, selain memberi dampak yang positif, peningkatan jumlah wisatawan Gunung Rinjani juga mempunyai dampak buruk yang perlu diantisipasi. Secara otomatis, mengharuskan petugas bekerja ekstra dalam memantau dan mengantsipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Seperti yang diungkapkan Kepala Resor Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Sembalun, Zainudin, mengungkapkan, setidaknya ada lima pendaki yang dievakuasi petugas selama kurun libur lebaran kali ini.

Tidak mampu diperkirakan, apakah hal-hal serupa akan kembali terjadi atau tidak, pada suatu waktu. Sehingga menuntut semua pihak untuk sama-sama mempersiapkan tindakan antisipatif baik dari petugas, maupun tak terkecuali, para pendaki. Hal tersebut diterapkan untuk meminimalisir kejadian serupa.

Sehubung dengan itu, untuk mengantisipasi adanya kecelakaan atau hal yang tidak diinginkan lainnya, pihak TNGR sendiri telah menyiapkan beberapa upaya antisipasi, seperti mengoptimalkan pemantauan dengan kamera CCTV. Meski begitu, perlu tindakan inisiatif lain yang perlu dilakukan, karena kamera pengawas dirasa masih belum cukup jika menyangkut masalah pencegahan lain.

Inisiatif pengunjung tentu tidak terlepas untuk menjaga keselamatan serta konservasi lingkungan. Untuk itu, agar pendaki juga terdorong untuk mengikuti aturan yang ada, himbauan terkait keselamatan mendaki serta aktivitas mitigasi status gunung melalui pihak petugas, diminta untuk terus diperkuat.

Dengan pertumbuhan jumlah pendaki yang kian memadati TNGR, perlu adanya pengakajian seberapa idealnya jumlah pendaki yang semestinya berada di kawasan TNGR. Jika jumlah pendaki melebihi kapasitas angka yang pantas ditampung, dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan pendaki, seperti lebar trek, pos peristirahatan, hingga kebutuhan primer, seperti letak mata air yang seringkali mengalami antrian panjang dari para pengunjung yang membutuhkan air dalam kegiatan pendakian, misalnya. Itu dilakukan guna mensiasati ketimpangan jumlah pendaki dengan akomodasi alami yang berada di kawasan Rinjani.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s