Perbaikan Gizi, Katanya

13649259_572851256225118_1053414272_n.jpg
Makan 🙂

Hal yang rutin buat keluarga ane untuk mengunjungi rumah kakek-nenek (orang tua dari umiq ane) di Lombok Timur, tepat pada hari lebaran. Lebih gampangnya, mudik di hari H lebaran.

Biasanya, bahkan selalu, setelah shalat Ied, ane sekeluarga berkeliling ke tetangga-tengga terdekat terlebih dahulu, dilanjutkan dengan mengunjungi kubur keluarga yang sudah tiada, kemudian diteruskan dengan menunggu tamu yang sekiranya datang ke rumah hingga dzuhur tiba. Begitu seterusnya, dan ba’da dzuhur, ane sekeluarga melakukan touring pendek ke arah timur. Yiiiihaa!

Memang, setiap lebaran tiba, kita mengunjungi tempat asal dari Umi ane di sana. Tak lain, tidak bukan ya buat silaturrahim dengan keluarga-keluarga di sana.

Hal yang paling ane siapin tadi, ya perut. Karena kalo udah nyampe di sana itu mesti kerjaan cuma bertamu – makan – bertamu – makan. Tapi, gapapalah, sesekali buat perbaikan gizi setelah melakukan hal-hal yang mirip dengan kisah klasik anak kossan seperti yang pernah ane ceritain kemarin. Pikir ane, tadi sebelum berangkat.

Sesampainya di lokasi, salam-salam ama semua keluarga di sana pasti diakhiri dengan makan. Pergi lagi ke tempat keluarga yang lain pasti sesudahnya makan lagi. Setiap sesudah usai dengan santapan, pasti pamit buat ke tempat sodara yang lain. Nah, ketika dirasa udah semua destinasi wisata kuliner itu dikunjungi, ujung-ujungnya balik kanan, pulang. Dan, acara nginep 1-2 hari pun gak ada. Sama aja ama yang tahun-tahun kemaren.

Hal itu memang udah semacam budaya ya, jadi gak perlu dirumitkan. Hehehe. Ane sih bukan rakus atau apa. Tapi, murni tujuannya buat silaturrahim, dan makan-makan itu semacam bonus saja. Toh, kalo pun mau nolak bilang “udah kenyang” yang ada malah diomelin ama sodara-sodara di sana. Duh! Belum dipaksa-paksa lagi, mau nggak mau, ya harus mau.

Sebenarnya, nggak di sana, nggak di Mataram, pas lagi lebaran gini memang harus pinter-pinter nyiapin perut. Nikmat kenyang itu jelas terjamin, dan berbanding sama. Tapi, kadang-kadang kita jadi lengah, kalau apa-apa yang berlebih-lebihan itu nggak baik. Rezeki harus disikapi dengan bijak, iya toh? Jangan seperti ane tadi, udah niat silaturrahim, malah kelolosan, karena saking “takut mubazir—nya” suguhan ucapan selamat datang yang disiepin di sana. Dan hasilnya? bolak-balik toilet dari tadi. Bahkan, baru sampe di rumah aja, langsung nyariin toilet lagi. Astaga…

Pasca keluar dari Toilet, ane sempet kepikiran ama acara bukber bareng temen-temen SMK kemarin. Secara langsung, ane ngerasa ketampar lagi, bahwa semua yang berlebih-lebihan itu tetep nggak baik. Meski, untuk perbaikan gizi sekalipun. Perbaikan gizi apanya? Lagi-lagi, ane berpikir ulang di sini. Acara makan-makan ane di sana tadi, hanya berpusat pada kuantitas saja alias yang penting kenyang, yang penting banyak. Alhasil, untuk sementara ini, ane jadi akrab sama toilet. Ampun deh!

Gegara kebablasan, atau istilah sasaknya itu, “Ndeq kasaq angen,” serta lupa sama kecukupan, bukannya perbaikan gizi malah jadi kerepotan sendiri. Besok, gak lagi-lagi deh. Makan secukupnya saja, nyicip-nyicip aja bolehkan? H+1 lebaran besok dan seterusnya, mesti lebih terkontrol lagi, nih. Hehehe.

*  *  *

Akhir kata, Selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin 🙂

Advertisements

7 thoughts on “Perbaikan Gizi, Katanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s