Sudah Jarang Malam Mingguan

 

dscn3429
sumber gambar: lombokinsider.com

Ketika banyak orang menyambut antusiasme lebay rayakan malam minggu, salah dua teman dekat ane sudah jarang, bahkan bisa dibilang tidak pernah lagi menselebrasikan itu. Alasanya ? Berdagang. Bicara dari pandangan tren, seumuran mereka yang masih di angka 20 tahun, jelas masih relevan untuk menikmati malam minggu. Layaknya muda-mudi lainnya, bukan ?

Hampir 6 bulan lamanya, mereka tidak sesering dulu menyambut malam minggu. Berjualan membuka warung kebab di salah satu sudut lokasi dengan jam buka dari sore hingga pukul 11 malam, membuat mereka tidak sempat lagi menikmati waktu malam minggu. Selain itu, setelah memasang tanda “tutup”, mereka mengestimasikan waktu sekitar 30 menit hingga 1 jam untuk membereskan sisa-sisa jualan. Mulai dari beres-beres, cuci piring, memasukkan gerobak yang beratnya nyebelin, sampai pembukuan income /hari yang tak boleh dilewati. Prosedur yang sudah (biasa) jadi rutinitas klasik. Kemudian, sebelum pulang, sisa bahan-bahan dagangan lainnya juga mesti dikembalikan terlebih dahulu ke pemilik usaha kebab (baca: bos) tempat dua kawan ane ini berkerja. Dan, setelah benar-benar tutup, hanya rasa lelah yang menghinggap di badan.


Malam minggu(an) ?

“Sudah jarang malam minggu, orang tiap malam minggu tetep buka stand, kok.” Ujarnya, saat diwawancarai secara tidak langsung. Lebih tepatnya, dia tidak sadar kalau sedang diwawancarai.

Seketika itu, ane jadi kebayang bagaimana rasanya. Tahulah, tren sosial perihal malam minggu model begini yang bakalan menganggap kita itu tidak gaul, atau bahkan dikira JOMBLO apabila kita memilih untuk tidak berbondong keluar malam pas ‘satnight’ tiba. Hmm…

Apalagi soal JOMBLO, istilah inilah yang tidak pernah “rukun” dengan namanya ‘malam minggu’.

Beberapa waktu terakhir ini, ane sempatkan diri ikut-ikutan mereka berlapak. Untuk sekedar “mengganggu”, tentu tanpa gaji. Tepat di malam minggu, nyata pemandangan provokatif berlalu-lalang di depan lapak dagangan itu. Dari muda-mudi yang beramai-ramai mirip geng motor, muda-mudi berboncengan mesra karena dirundung kasmaran, sampai sosok muda-mudi yang (diduga) berstatus jomblo pun memaksa nampakkan diri. Jadi, jangan tanya rasanya seperti apa. Ketika semua pergi senang-senang, dua kawan ane malah memilih repot berjualan melayani pesanan para pelanggan.

Tapi, di sebelah sisi, ini salah satu pilihan yang hebat, bukan? Ketika kebanyakan sebaya-sebaya kita yang “latah” pada tren sosial seperti ini, mereka (baca: kalian) justru membentuk sebuah pembelotan untuk memanfaatkan peluang. Daripada memanfaatkan pasangan, iya kan? hahaha.

Dulu, tiap malam minggu, ke sana dan kemari. Kini menetap pada lapak jualan demi menantang keuntungan untuk datang. Kini, jelas sudah jarang. Atau, kalau ingin dibilang sudah tidak pernah, ya boleh saja. Sebab, ane juga sering ngebuntutin ke lokasi lapak saat sabtu malam. Dan, mereka sendiri juga mengaku begitu, kok.

Ane pribadi, sebenarnya juga tidak terlalu antusias terhadap malam yang dimana keesokannya cuma hari libur yang seterusnya senin ini. Bahkan, itu terjadi sudah dari jaman sebelum negara api menyerang. Hahaha. Malam mingguan jelas pernah. tapi tidak ane anggap sebuah kewajiban yang “fardlhu ‘ain” harus dilakukan atau dirayakan. Bukan anti atau menganestesikan rasa terhadap malam minggu. Tapi, kecut saja bila melihat perayaan malam minggu yang selalu flat, begitu-gitu saja.

Advertisements

2 thoughts on “Sudah Jarang Malam Mingguan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s