Seremoni Klasik Menjelang Ramadhan

0952386image3780x390
(sumber gambar: Kompas.com)

Mungkin sudah banyak yang mengetahui jikalau bulan Ramadhan sebentar lagi bertamu. Ya, mungkin kira-kira tanggal muda bulan depan, lah. Tentu sebuah kebahagiaan tersendiri khususnya bagi masyarakat muslim yang sebentar lagi disapa bulan yang penuh berkah tersebut. Bagi ane pribadi, salah satu berkah yang berharga dari bulan ramadhan ialah, liburan semester. Bagaimana tidak? Mahasiswa perantau seperti ane tentu rentan sama yang namanya Homesick, bukan? Ya, pulang kampung adalah salah satu momentum ane ketika Ramadhan tiba. Lah, kok ane malah curhat, yak? Hehehe 🙂

Oke, saatnya serius! Yang ane pingin omomongin kali ini soal “hiasan ironis” yang menjadi sosok pengacau atmosfir Ramadhan. Ya, banyaknya aktiftas negatif seperti tempat mesum, minuman keras, dan perjudian yang bereksistensi masih saja menjadi ancaman bagi keindahan Ramadahan. Contohnya di bumi Nusa Tenggara Barat, fenomena itu masih saja menghantui menjelang Ramadhan. Dikabarkan pada Jumat kemarin (6/5/2016), Polda NTB melalui operasi “Pekat Gatarin 2016” sudah mengungkap puluhan sarang aktivitas negatif masyarakat itu.

Hasil yang terlihat melalui operasi tersebut menjadi cerminan untuk mempersiapkan ketentraman masyarakat dari penyakit masyrakat menjelang Ramadhan. Tentu langkah ini perlu kita apresiasi dan didukung penuh karena hal ini juga sejalan dengan fungsi dan peran kepolisian sebagai penegak hukum dan regulasi.

Tapi terlepas dari itu semua, ada hal lain yang semestinya kita sadari untuk mengentaskan kegiatan negatif tersebut. Operasi yang dilakukan aparat semestinya tidak hanya gencar disaat menjelang, atau ketika Ramadhan saja. Pasca Ramdhan juga sangat diperlukan. Bahkan, langkah ini harus terus konsisten diberlakukan tanpa ada waktu atau saat yang khusus saja. Kontinuitas dalam mendeteksi lokalisasi seperti itu perlu, demi efektifitas yang ditargetkan.

 

Jadwal Klasik dan Efektifitas Semu

Operasi menjelang Ramdhan sejenis ini bukanlah hal yang baru lagi. Beberapa tahun lalu operasi serupa juga digencarkan di seluruh Indonesia. Namun, efektifitasnya di masa mendatang dipertanyakan karena siklusnya terlalu monoton dan terlalu mudah ditebak oleh pihak-pihak yang menjadi sasaran operasi. Mudah ditebak karena siklusnya terlalu “klasik”. Kalau bukan menjelang hari khusus yang penuh momentum, kemasifan operasi terkesan menjadi “kurang galak”. Ada yang ngerasa kek gitu gak, ya?

Rasanya sia-sia saja jika operasi yang terkesan lekat memiliki jadwal klasik dipertunjukan. Hasilnya akan berkurang karena “jamur-jamur” sasaran telah kembali mekar karena jadwal serangan sosok berwenang yang bagi mereka adalah hama tidak lagi kembali datang di hari-hari biasa. Jadwal klasik ini yang dirasa memberikan sebuah sign bagi para jamur untuk mengantisipasi. Bukankah, semakin ketahuan strategi dan taktik aparat, siasat para jamur dalam mengeksploitasi kesempatan (baca: melanggar) akan semakin inovatif?

Selain itu, bulan-bulan lain yang akrab dengan Ramadhan bisa-bisa cemburu karena perhatian aparat hanya berfokus pada ‘si Ramadhan’. Ini mah diskriminasi namanya! Hehehe. Maaf, kalo candaannya garing. Paragraf ini jangan diseriusin. 🙂

Kontinuitas dan konsistensi ini yang harusnya ada sehingga hasilnya terlihat nyata. Apalagi jika operasi menekan penyakit ini dilakukan secara mendadak dengan variasi waktu yang variatif nan terjaga kerahasiaannya alias tidak bocor dan meleber kemana-mana. Sehingga ruang gerak para “jamur” dalam mengantisipasi “hama” versi mereka menyempit. Buat mereka kerepotan dan bosan mensiasatinya. Bukan tidak mungkin ini akan mereduksi tingkat kemasifan aksi yang mengganggu kesehatan moral masyarakat itu.

Operasi seperti ini seharusnya bukan seremoni(al) yang hanya terdengar ketika waktu-waktu momentum tertentu saja.

Selain hasil yang nyata, rekomendasi ini juga bisa dijadikan sebagai strategi komunikasi aparat kepada publik bahwa aparat mencoba konsisten dan berusaha keras dalam menghilangkan “jamur” yang dianggap sebagai penyakit masyarakat itu. Jika dilihat dari perspektif komunikasi, bukan tidak mungkin akan berimbas positif bagi institution image penegak hukum. Jadi, supaya bukan “keluhan” soal razia lalu-lintas saja yang menjadi Top of Mind publik.

#CMIIW 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Seremoni Klasik Menjelang Ramadhan

    1. Iya, ane juga ngerasa seperti itu. Eksistensi “Penyakit” itu begitu kompleks, klo gak dilawan cara yg relevan ya bakalan sulit. Hehehe… Itikad.a udah bagus dan patut diapresiasi. Makin salut lg kalo hasil.a terlihat nyata, bukan?

      Btw, trims udah berkunjung di blog sederhana ane, Hastira 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s