Kita, dan Pagar Oranye Malioboro

lalin_jhdfhdh_20160104_142107
Pagar oranye di sepanjang jalan Malioboro, (Tribunjogja.com)

Siapa yang tidak kenal atau mengetahui Jalan Malioboro? Jalan yang menjadi ikon kota Yogyakarta ini selalu menjadi primadona bagi semua kalangan masyarakat. Hampir semua kebutuhan kita, Malioboro hampir bisa mengakomodasi semuanya, mulai dari kuliner, destinasi belanja, hingga yang hanya sekedar bersantai sambil menghitung jumlah bule yang “berkeliaran”, ini juga ada. Hehehe.

Namun akhir-akhir ini, tempat yang identik dengan Yogyakarta ini (kembali) mendapat sorotan. Bukan soal kemacetan yang sering terlihat atau kabar tentang aktifitas di kawasan pedestrian ini tetap normal pasca teror bom di Jakarta kemarin. Tapi karena ada pemandangan yang sedikit mencolok yang tersuguh di tempat tersebut. Mungkin para pembaca yang “bermarkas” di Yogyakarta, sudah dapat menebaknya, bukan? Ya, Malioboro dengan hiasan pagar oranye di sepanjang Jalan Malioboro. Nah, pagar portable berwarna oranye setinggi 1,5 meter yang terpasang di sisi jalan itulah yang sedang menimbulkan sorotan dari berbagai pihak.

“Secara tata kota, pagar besi jelek secara visual,” kata Ketua Kelompok Bidang Keahlian Perencanan Wilayah, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Widodo Dwi Pramono, (Metrotvnews.com, 18/1/2016).

Pagar portable yang kabarnya menelan dana keistimewaan sekitar 500 juta ini dinilai sedikit kurang sedap dipandang juga kurang ramah bagi sejumlah penyandang disabilitas. Selain itu, Menurut Ketua Komisi B DPRD Kota Yogyakarta, Nasrul Khoiri, yang dilansir dari TribunJogja.com, pagar itu tidak sesuai dengan gambar desain awal penataan Malioboro sebagai kawasan pedestrian.

 

“Sign” dan Efektifitas Portable

Pagar yang berbaris rapi di sana bukannya tanpa alasan. Dari beberapa kabar yang terdengar, terpasangnya pagar oranye tersebut dimaksudkan untuk memunculkan ketertiban lalu lintas di kawasan Malioboro agar para penyebrang jalan tidak menyebrang sembarang melainkan melalui Zebracross. Alasan lain, barisan pagar itu ditujukan untuk mengendalikan penyalahgunaan kawasan sebagai tempat parkir. Nah, loh…

Jadi, kita (seharusnya) bisa mengartikan kedatangan barisan pagar di Malioboro itu sebagai tanda atau sign agar kita menyadari sebuah ketertiban lalu lintas, “mengakrabkan” diri dengan zebracross, dan kawasan parkir mana yang seharusnya dan tidak seharusnya. Dengan kata lain, pagar oranye tersebut sebagai “kode sindiran” yang ditujukan untuk kita.

Oke, mungkin kita sudah “peka” dengan pesan kode dari pagar oranye itu. Tapi bagaimana dengan yang di luaran sana ? Nah, muncul pertanyaan lagi yang sedikit mengarah pada efektifitas barisan “pasukan oranye” itu. Ketika pagar itu datang, ketertiban yang menjadi tujuan awal bisa seirama. Tapi, bagaimana jika pagar itu tidak lagi berbaris ? Menurut ane, zebracross (mungkin) akan kembali ditinggalkan, lahan parkir kembali berekspansi di setiap sudut. Sama dengan pagarnya, efektifitasnya juga portable. Ya, bisa dilepas (baca: terlepas).

 

Membuat Pagar itu Terlepas

Ane rasa perlu siasat lain untuk menjadikan tujuan terpasangya pagar itu memperlihatkan efektifitas yang tidak portable. Melalui pagar, masyarakat terkesan dipaksa, yang hasilnya masyarakat “terpaksa sadar” bukannya tersadar dan paham dengan pesan dari “sign oranye” itu. Ya, mungkin dibutuhkan cara lain, seperti langkah taktis yang bisa mendorong masyarakat tersadar dengan pentingnya terciptanya tujuan atau pesan dari pagar oranye itu.

“Dialog (anggapan) yang muncul di masyarakat karena tidak memahami tujuan dari pemasangan pagar tersebut. Kebijakan tersebut transisional, permanennya karena grand design. Kita nanti akan umumkan ke masyarakat, terkait grand design Malioboro sebetulnya,” ujar Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Malioboro, Syarif Teguh, (TribunJogja.com, 22 Januari 2016).

Jika kita sudah mengerti maksud dari “barisan oranye” yang masih menghiasi jalan Malioboro ini. Yuk, kita buat pagar itu terlepas. Bukan dengan cara merusak, tentunya. Melainkan dengan mengikuti instruksi dari sign yang terdapat pada pagar oranye tersebut. Karena jika kita memperlihatkan suguhan yang tertib seperti “akrab” dengan zebracross misalnya, itu sama dengan kita membantu meredam (setidaknya menurut saya ada) 2 problem yang diakibatkan oleh kemunculan pagar oranye itu.

Pertama, kita sudah membantu efektifitas sign itu tadi berhasil tersentuh karena budaya tertib sudah terlihat sehingga barisan pagar berwarna oranye bisa “membubarkan diri”, hmm… lebih tepatnya “dibubarkan”. Dana pengadaan barisan pagar oranye itu cukup besar, lho. Kedua, keluhan dan sorotan publik terhadap pagar itu bisa hilang. Karena secara visual, Malioboro kembali berjodoh dengan gambar desain awal penataan Malioboro sehingga tidak ada lagi keluhan-keluhan yang “menggandeng” cerita “Kita dan Malioboro”. Ya, setidaknya judul kisahnya bukan “Kita, dan Pagar Malioboro”.

#CMIIW 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Kita, dan Pagar Oranye Malioboro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s