Ledakan, Kecemasan, dan Sentuhan Magis

359760_baku-tembak-polisi-versus-pelaku-peledakan-bom-sarinah_663_382
Baku Tembak Polisi vs Pelaku Teror Bom Sarinah, (Viva.co.id)

Baru beberapa hari yang lalu kita dikejutkan oleh peristiwa peledakan bom di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat. Tak luput, insisden inipun mendadak menjadi perbincangan populer publik. Media Massa seakan berlomba-lomba memberitakan peristiwa ini, tidak hanya media Lokal-Nasional, media internasional juga tidak ketinggalan mengambil bagian. Dikabarkan bahwa tragedi (14 Januari 2016) ini memakan korban, termasuk beberapa diantaranya ialah sosok yang diduga sebagai pelaku.

Dilansir dari laman Liputan6.com, Ada enam ledakan yang terjadi di depan Starbucks, dekat pusat perbelanjaan Sarinah, Jakarta Pusat. Berdasarkan surat edaran dari Polda Metro Jaya, kejadian ledakan tersebut terjadi pada pukul 10.00 WIB yang berasal dari bom rakitan.

Diawal ketika insiden ini masih berdengung keras, banyak asumsi-asumsi yang bertebaran baik dari motif, identitas pelaku, sampai teori-teori konspirasi yang seringkali dikait-kaitkan. Mungkin hinga saat ini, dugaan-dugaan itu masih bertebaran.  Tapi, bagaimana ya? Entahlah, yang jelas perkiraan soal implikasi yang disebabkan oleh insiden inilah yang paling bisa diprediksi (predictable), bukan ?

 

Kecemasan

Terorisme ? Kabarnya sih seperti itu. Satu hal, aksi-aksi yang menjurus kepada aksi teror semacam ini kemungkinan besar akan menjadi atensi publik. Ya, kemudian menghasilkan kegeraman publik terhadap sang pelaku. Eh, Kegeraman atau kecemasan, ya? Tentu, geram karena ledakan tersebut bersifat MERUSAK hingga menelan korban jiwa. Juga cemas. Apakah sudah aman, ya ? Dibayang-bayangi rasa tidak aman itu jelas tidak nyaman, bukan ?

Kita mungkin ingat betul dengan tragedi Bom Bali 1 (Oktober 2002) dan Bom Bali 2 (Okober 2005)  yang memberikan kerugian yang cukup besar bagi indonesia, khususnya Bali pada waktu itu. Bali langsung terkena imbasnya, berupa anggapan isu keamanan yang menganggap bali tidak aman lagi ketika itu. Kecemasan publik dunia pun bermunculan terhadap destinasi wisata andalan itu. Terbukti dari Travel Warning yang diberlakukan beberapa negara yang kemudian meruntuhkan citra Bali sendiri. Bom 1 saja udah memicu efek, apalagi ditambah dengan bom susulannya. Tentu makin sulit memulihkan semuanya, bukan ?

“Keamanan adalah daya tarik wisatawan nusantara dan mancanegara untuk mengujungi suatu destinasi tak terkecuali Indonesia”. Ujar Anggota DPR RI Komisi XI, H. Willgo Zainar. (Lombokpost.net, 18 Januari 2016)

Atau, mungkin kita lebih ingat dengan tragedi ledakan bom yang terjadi di Hotel J.W Mariott dan Ritz Carlton pada 2009 silam, yang membuat salah satu Club Liga Inggris, Manchester United membatalkan lawatannya ke Indonesia setelah mengetahui kabar tersebut. Fans The Red Devils di Tanah Air tentunya “sedikit” bersedih kala itu.

Begitu juga dengan tragedi bom Jakarta baru-baru ini. Pasca ledakan itu, membuat kondisi Jakarta dinyatakan berstatus siaga I. Aparat mulai bermanuver gesit membentuk pengamanan sehingga memantik beberapa Mall harus tutup yang berefek tertutupnya kran omzet perhari mereka. Kemudian, pasar modal rupanya cukup shock dan sektor pariwisata diprediksi juga ikut terhanyut. Bahkan, beberapa negara sudah kembali mematok travel warningYa, Isu keamanan kembali mencoba “menggoda” situasi keamanan negeri.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) pada penutupan sesi pertama Kamis 14 Januari 2016, makin anjlok dan turun 1,72 persen, atau 77,85 poin di posisi 4.459,32. Analis dari Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, mengatakan anjloknya IHSG hari itu, salah satunya disebabkan oleh sentimen negatif pasar terhadap teror bom yang terjadi di kawasan sarinah, Thamrin Jakarta. (Viva.co.id, 14 Januari 2016).

 

Sentuhan Magis

050436700_1453277828-20160120-penjagaan-ketat-pantai-kuta-bali-afp1
Anggota Brimob saat berpatroli di Pantai Kuta, Denpasar, Bali, Rabu (20/1).(Liputan6.com, 20 Januari 2016).

 

Namun, Asumsi terkait isu keamanan yang diprediksi di awal itu rasanya tidak terlalu masif memperlihatkan diri, setelah melihat beberapa kabar baik dari media. Kecemasan publik seakan bisa teredam dan bertransformasi menjadi sikap tenang. Sentimen negatif pasar modal juga tidak berlangsung lama justru terlihat membaik. Sektor pariwisata juga masih menunjukkan situasi normal yang belum mengkhawatirkan. Wah, sepertinya ada sentuhan magis nih!

Merujuk pada peristiwa teror pada periode-periode sebelumnya, Wajar apabila aksi teror bom kemarin diprediksi akan mengeluarkan efek domino yang menciptakan kepanikan dan terancamnya reputasi status level keamanan Indonesia, yang tentunya tidak bisa pulih dengan sekadar “mengkarungkan” pelaku “Dead or Alive”. Namun itu tadi, ada sentuhan magis yang saya rasakan, lebay ya ? hehehe.

Sentuhan magis yang dimakasud datang dari banyak lorong. Pertama, bisa kita rasakan ketika pasca peristiwa, aparat dan pihak-pihak terkait langsung bersiaga memberi keamanan hampir di seluruh wilayah negeri sebagai tindakan antisipatif, hmm.. tindakan yang sigap! Kedua, langkah pemerintah melalui Presiden RI, Joko Widodo yang menghimbau dan meminta masyarakat untuk tetap tenang atas peristiwa aksi teror di Jalan Thamrin, Jakarta. Ketiga, selang beberapa saat setelah himbauan Presiden menggema, netizen yang bergema bersama tagar #KamiTidakTakut juga cukup membantu menciptakan persepsi optimisme publik indonesia. Keempat, aksi heroik warga sipil dan keberanian yang sedikit nekad dari para pedagang yang menyempatkan diri berlapak di sekitaran lokasi juga memberikan sign bahwa “It’s Ok, guys! Tidak usah takut”. Mungkin ada point tambahan dari teman-teman pembaca ? Oh, ya.. yang pada selfie di lokasi kejadian juga lumayan tuh. hihihi.

“Negara, bangsa, dan rakyat, saya kira kita tak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini,” kata Jokowi di Rumah Kerang, Jalan Ki Ageng Tapa, Cirebon, Kamis, (14/1/2016). (Tempo.co, 14 Januari 2016).

“Jakarta aman, bagi warga yang ingin bepergian silakan bepergian,” kata Kepala BIN, Sutiyoso di lokasi kejadian, Kamis (14/1/2016). (Liputan6.com)

Dari beberapa point tersebut, saya rasa jelas ini akan memberikan “obat” bagi kecemasan publik baik indonesia maupun dunia. Kecemasan publik karena adanya persepsi atau ancaman reputasi keamanan yang biasanya terlihat pasca insiden teror bom, bisa cepat diredam dengan sentuhan magis Indonesia yang dapat meyakinkan publik agar keep calm kembaliTentu ini situasi yang patut disyukuri. Semoga kondisinya bisa cepat kembali membaik.

#CMIIW 😀

 

Advertisements

2 thoughts on “Ledakan, Kecemasan, dan Sentuhan Magis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s