Gojek, Bergaya Imperialisme ?

sumber gambar : Go-jek.com

Beberapa hari yang lalu ane menemukan sebuah tulisan di salah satu blog yang menganggap bahwa sistem bisnis yang diterapkan oleh PT Gojek Indonesia sudah menyentuh ranah imperialisme, Wow!. Apa iya ? Polemik ini memang menarik bagi ane pribadi, karena jika dikaji melalui perspektif sosial mungkin saja memang sedikit mempengaruhi tingkat rezeki “lapak sebelah” terutama kepada ojek-ojek konvensional. Tapi, ane kira cukup berlebihan jika Gojek dianggap menyentuh paham imperialisme.

“Gojek muncul karena ketepatan waktunya dan kecepatannya yang memang dibutuhkan masyarakat kita. Satu sisi mereka juga ada PT kok, PT Gojek Indonesia dan artinya ini ada badan hukum. Artinya mereka patuh dengan hukum yang ada,” kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Benyamin Bukit.  (Sindonews.com, 2 Juli 2015).

Kita bisa melihat apa yang disajikan Gojek dalam menjaring pelanggan murni sebuah inovasi bisnis. Ya, persaingan bisnis. Jika kita melihat masalah ini dari segi bisnis, Gojek tidak melakukan tindakan “aneh”, bukan ? Mereka melakukan inovasi yang memang bisa dianggap memahami apa yang dibutuhkan pelanggannya. Dengan kata lain, mereka lebih mengerti pengguna layanan jasa ojek ketimbang tawaran yang disajikan oleh ojek konvensional. Apakah ini imperialisme ?

Kembali ke aspek sosial, Gojek mungkin berpengaruh langsung pada bandwith rezeki ojek-ojek konvensional. Namun, bagaimana dengan Gojek yang telah berhasil memahami interest dari konsumennya ? Secara tidak langsung Gojek juga telah berhasil merubah stigma negatif dari ojek, bukan ? Bukan maksud ane merendahkan, namun mari kita lihat lebih detail lagi nilai plus dari Gojek. Jika bisa, monggo lakukanlah riset sedikit, heheh.

Secara bisnis, Gojek telah membuat value baru melalui inovasinya. Ane rasa akan cukup berlebihan jika sistem mereka dinilai menyentuh imperialis. Mungkin jika boleh ane berpendapat, ojek konvensional harus bisa menunjukan daya saingnya. Jika Gojek dinilai salah secara nilai sosial karena “menutup” pendapatan ojek konvensional, lalu bagaimana dengan keberhasilan inovasi mereka (Gojek) dalam memahami “apa maunya” para pengguna jasa ojek atau konsumen mereka ? Jika konsumen puas itu berarti ?

Ya pada intinya, menurut ane pribadi ojek konvensional harus bisa menunjukkan daya saing mereka dalam merebut kembali pangsa pasar mereka. Harus mulai untuk mengevaluasi diri juga, bukan ? Miris juga kalo kita mendengar pemberitaan tentang para ojek konvensional yang melakukan tindak kekerasan dan intimidasi terhadap Gojek seperti ini. Jika tindakan semacam itu benar terjadi, citra dari ojek konvensional juga akan semakin jauh dari hati masyarakat bukan ? Dan juga tindakan seperti itu, baik secara bisnis maupun dari sisi social value itu tentu tidak “lucu”, bukan ? Seperti yang sebelumnya, ojek konvensional harus bisa menunjukan daya saingnya.

Tapi yang jelas, hal pertama yang harus dilakukan ialah dengan mengkoreksi dan mengevaluasi diri. Jangan terus-terusan memakai “otot” dalam mengambil kembali “lahan” bisnisnya. Jika terus-terusan dengan “otot” tanpa mengandalkan sikap inovatif, lalu pihak mana yang lebih cocok dianggap mengadopsi gaya imperialisme ? Jadi menurut ane, persoalan ini hanya murni soal persaingan bisnis terutama dalam memahamai “keinginan” konsumen. Sistem yang diterapkan Gojek saya rasa cukup berhasil dalam melihat kecenderungan pasar. Imperialisme ? Ah, menurut ane itu sedikit lebay alias berlebihan, deh. 

#CMIIW 😀 

| Baca juga tulisan iniSemoga berkenan…

Advertisements

One thought on “Gojek, Bergaya Imperialisme ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s