Hidayah dan Regenerasi Perokok

Akhirnya, ane bisa kembali memposting setelah “sok” sibuk dengan kewajiban “berperang” melawan Ujian Akhir Semester (UAS) pekan lalu, begitulah siklus kehidupan mahasiswa. Ya kali ini, ane pengen bahas masalah klasik dari Rokok, kebetulan juga, tulisan ini udah ane serahin ke dosen sebagai tugas UAS. Tapi, ane sudah menyederhanakan isinya supaya tidak menyakitkan mata para pembaca nantinya. Sebelum mulai, ane ingin mengucapkan terima kasih pada soheb ane, Topek Setiawan yang telah berkenan berkolaborasi dengan ane dalam penyusunan tulisan ini. 😀

Persoalan Rokok memang sudah tidak asing lagi dengan telingan kita, tentunya. Indonesia sendiri juga tengah berjuang untuk mengurangi tingkat eksistensi rokok itu sendiri. Itu terlihat dari banyaknya kampanye-kampanye “anti” Rokok yang dilaksanakan, baik oleh pemerintah maupun pihak-pihak di luar pemerintahan. Namun, apakah bisa dibilang efektif ? Apakah penyebaran pesan “anti” Rokok itu berhasil ?

Menurut Ketua Badan Khusus Pengendalian Tembakau dan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Widyastuti Soerojo, Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok terbanyak se-Asia Tenggara dengan jumlah perokok 51,1 persen dari total penduduknya. (Antaranews.com, 6 Februari 2015).

Nah, dari data diatas menunjukkan sebuah “prestasi”, bukan ? Kita tahu kampanye Anti Rokok dimulai sudah sejak lama bahkan “sebelum negara api menyerang”, hehehe. Tapi, pertanyaannya adalah, apakah efektif ? Sebenarnya apa yang membuat jumlah perokok semakin bertambah tiap tahunnya ? Bisa dikatakan bahwa Rokok sudah sangat akrab dengan masyarakat indonesia.

Menurut saya yang menjadi akarnya ialah, upaya dalam mengentaskan pesona rokok ini. Kita bisa melihat bagaimana komitmen yang diperlihatkan khususnya oleh pemerintah dalam memerangi rokok. Ya, yang paling baru itu adalah iklan yang menghadirkan penderita kanker tenggorokan. Bagaimana dampaknya ? Saya rasa hampir semua perokok mengetahui apa bahayanya merokok, wong tiap beli bungkus selalu memberikan “nasihat” kok. Tapi, dengan pengetahuannya itu apakah perokok akan berkemauan untuk berhenti ? Sebagian iya, sebagiannya lagi enggan.


Hidayah

Para perokok aktif tentunya memiliki keterikatan alias candu dengan rokok. Nah, keterikatan inilah yang membuat perokok sulit memilih berhenti “berpelukan” dengan rokok. Kita para perokok tentunya memerlukan hidayah agar tergerak menjauh dari rokok, bukan ? Jadi, jika kampanye yang dilakukan terus-terusan untuk mempertegas bahwa “Rokok Itu Berbahaya Bagi Kesehatan” baik bagi diri sendiri (perokok aktif) maupun bagi orang lain (perokok pasif), para perokok sudah (bosan) tahu itu.

Lalu apa yang membuat perokok mau berhenti ? Jawabannya adalah HIDAYAH. Ya, Perokok akan sulit atau enggan untuk menjauhi rokok jika tidak dibarengi dengan kesadaran mereka sendiri. Karena sudah terikat dengan “addicted” akibat pesona rokok, jalur untuk hidayah itu terus menyempit seiring dengan tingkat level loyalitasnya dengan rokok. Ketika semakin loyalnya mereka terhadap rokok, tentunya akan sulit memuluskan hidayah masuk ke hati mereka. Kita bisa dan boleh saja berasumsi bahwa perokok sudah mengetahui bahaya rokok tersebut, namun hidayah-lah yang membuat mereka tersadar dan bergerak menjauh dari rokok.

Apa yang membuat orang menjadi berkenan untuk berhenti ? Apakah “gambar seram” pada bungkus rokok yang terus-terusan disiasati perokok ? Apakah menyertakan rentetan kalimat yang berisi dampak negatif rokok bagi kesehatan di bungkus rokok ? Apakah iklan terbaru “Bahaya Rokok” dengan menampilkan perokok pasif ? Ya, menyadarkan perokok memang butuh komitmen dan kerja keras.


Regenerasi Perokok

sumber gambar : Solopos.com

Nah, karena itulah segmen manakah yang “jalur hidayah”-nya masih lebar ? Yup, para perokok pemula, atau orang-orang yang berpotensi “mencoba-coba” berkenalan dengan rokok. Mungkin, sebaiknya kampanye atau upaya-upaya dalam mengurangi “prestasi” rokok ini juga menyasar pada individu-individu yang memiliki “jalur hidayah” yang masih lebar. Ya, Remaja adalah segmen potensial sebagai regenerasi perokok.

Menurut penelitian Institute for Health Metrics and Evaluation University of Washington, jumlah perokok secara keseluruhan meningkat dalam 30 tahun terakhir disebabkan karena meningkatnya jumlah penduduk dunia. Namun Apakah pertumbuhan penduduk menjadi penyebab utama pertumbuhan jumlah perokok ? Penulis rasa, tidak langsung. Jika kita mencermatinya lebih jauh, titik persoalan sebenarnya bukan pada tingkat pertumbuhan penduduk yang meningkat, bukan ? Akan tetapi jumlah penduduk yang berpotensi menjadi sosok generasi baru yang meneruskan budaya merokok itu yang bertambah.

Berdasarkan survei anak perokok jumlahnya terus naik, 45 persen remaja berusia 13-19 adalah perokok, sementara data Global Youth Tobacco Survey menyebutkan Indonesia merupakan negara dengan jumlah remaja perokok terbesar di Asia,” kata Direktur Eksekutif Lentera Anak Indonesia Herry Chariansyah di Jakarta (Liputan6.com, 05 Des 2014).

Regenerasi inilah yang saya rasa harus menjadi prioritas juga agar jumlah perokok bisa berkurang. Jika upaya yang dilakukan hanya terus-terusan “membuat (memaksa) orang berhenti merokok” saja, menurut saya belum cukup. Selain efektifitasnya sulit dijangkau, ada faktor lain yang memang membuat jumlah perokok kian bertambah, yakni faktor regenerasi perokok. Jadi, varian upayanya perlu ditambah dengan “membuat orang agar tidak mau mencoba merokok”.


Namun yang jelas, jangan sampai komitmen mengalahkan rokok terus-terusan terganggu dengan potensi komoditas industri rokok yang menggiurkan. Jangan terus-terusan “stuck” di posisi dilematis akibat adanya tarik-ulur kepentingan persoalan rokok. Komitmen ialah komitmen, bukan ?

#CMIIW 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Hidayah dan Regenerasi Perokok

  1. Saya sendiri seorang perokok aktif. Sebenarnya tidak merasa apa2 jika tidak merokok. Tapi hasil akhirnya tetap sama. Rasanya kurang afdol jika tidak merokok. Entahlah perasaan jadi lebih aneh saja ketika tidak merokok

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s