Bukan Sekedar Profit !

Tak hanya K-Pop dan Alay yang merajai anak muda Indonesia era post-modern dalam kurun 5 tahun terakhir, namun juga merambah ke bidang wirausaha, atau entrepreneur, istilah kerennya. Seakan menjadi sebuah euforia, berbagai perguruan tinggi berlomba mengklaim institusinya berbasiskan wirausaha.

“Antara tren dan kebutuhan, beberapa memang mencoba untuk mencicipi dunia wirausaha hanya sebagai ajang coba-coba, tapi jangan lupakan perspektif lainnya, yaitu saat wirausaha menjadi sebuah kebutuhan masyarakat Indonesia terutama di usia produktif. Persaingan industri yang semakin ketat menjadikan ini sebuah “the power of kepepet” untuk kita”, ujar Mbak Djati, salah satu staf pengajar mata kuliah Kewirausahaan di AKINDO Yogyakarta.

Wanita yang akrab dengan para mahasiswanya ini menambahkan, bahwa tolak ukur keberhasilan wirausaha adalah Ekonomi, Sosial, dan Spiritual. Tiga perpaduan apik yang mengokohkan para entrepreneurmuda, sebagai kunci sukses. Tanpa spirit sosial dan spiritual, profit hanya sekedar pemanis yang justru bisa menghancurkan usaha dari para wirausahawan.  

“Kaya itu wajib, karena dengan kaya kita bisa berbuat kebaikan”, tambah Mbak Djati menegaskan. Ketika kita mapan secara ekonomi, maka kita bisa mengajak orang lain yang kurang beruntung, dengan cara memberikan pekerjaan yang akan menyediakan penghasilan untuk masing-masing dari mereka. “Jangan lihat usaha lain sebagai saingan, kompetitor adalah hal wajar saat kita mempunyai usaha yang menjanjikan, tapi jangan arogan dalam menyikapinya”, papar ibu 2 anak ini dengan lugas.

Sense wirausaha adalah besar bersama, di tengah gempuran isu MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) yang dikabarkan mulai diterapkan 2015 nanti, waktu yang tak lama dalam hitungan hari. Ketika para personal entrepreneur saling bersatu untuk membesarkan usahanya, membentuk aliansi dan kongsi, maka euforia wirausaha sebagai sebuah tren, brand, dan keterdesakan tadi akan melebur menjadi amunisi untuk melawan industrialisasi.


Swasta agresif, ke mana larinya pemerintah ?

Pencitraan yang makin populer sejak era SBY -Susilo Bambang Yudhoyono-, mantan orang nomor satu RI, merambah ke semua sektor termasuk wirausaha. Banyak perusahaan swasta yang menargetkan strategi Public Relations untuk membuat citra positif. Tak tanggung-tanggung, Bank Mandiri dan PT. Djarum, dua perusahaan terkemuka yang berbeda segmen ini pun ikut menyemarakkan gegap gempita entrepreneur. Mereka dengan konsisten menggelontorkan dana untuk para wirausahawan muda dan unit pengembangan Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM).

Sejak 2007 lalu, Bank Mandiri secara konsisten tiap tahun mengadakan Program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) yang bertujuan untuk memberikan apresiasi sekaligus dorongan bagi pengusaha muda untuk bisa lebih mandiri. Tak hanya merasa puas dengan menjadi pekerja, tetapi juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan, sehingga dapat mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan.

 Ajang WMM ini mendapatsambutan yang baik dari Prof. Rhenald Kasali, PH.D.,. Menurut beliau, program ini sangat terpadu, fokus serta serius didukung dengan komitmen yang baik, dari segi pendanaan, juga keterlibatan seluruh pemimpin. WMM memberikan kepada para pemenang dan finalis Wirausaha Muda Mandiri dan Mandiri Young Technopreneur Publikasi.

 Pesertanya terbuka dengan syarat ketentuan 2 kategori. Pertama, Untuk Mahasiswa program Diploma dan Sarjana dengan usia maksimun 28 tahun pada saat mendaftar. Kedua, Mahasiswa Pascasarjana dan alumni dengan usia maksimum 35 tahun pada saat pendaftaran. Selain itu dari jenis bidang usaha yang dilombakan diantaranya: Wirausaha Industri dan jasa, Wirausaha Boga, dan Wirausaha kreatif.

Tak mau kalah, pemerintah pun melalui DIKTI telah menyumbangkan apresiasinya lewat dana hingga Rp 40 juta rupiah, yang disalurkan lewat institusi perguruan tinggi untuk mahasiswa atau kelompok dosen dan mahasiswa. Diharapkan, dengan adanya berbagai usaha ini, baik pihak pemerintah maupun swasta, maka stigma masyarakat tentang entreprenur sebagai ajang coba-coba, bisa terbantahkan.


Entreprenur University, Brand atau Pembaruan Sistem ?

Menurut Dr. Kintoko, S.F., M.Sc., Apt., (Dosen Kewirausahaan Farmasi UAD dan Doktor Alumnus dari Guangxi Medical University, China), pendidikan entrepreneurship bagi generasi muda merupakan solusi untuk merubah pola pikirnya dari konsumtif menjadi produktif, dari bangsa importer menjadi bangsa eksporter. Pendidikan entrepreneurship sudah semestinya diberikan di tingkat pendidikan tinggi dan dimasukkan dalam kurikulum wajib untuk mencetak para entrepreneur dari kalangan mahasiswa. Kurikulum ini sekurang-kurangnya mencakup 5 aspek, yaitu kreativitas & inovasi, karakter produk, potensi pasar, business plan dan business start up.

Entrepreneurship bukan sekedar pengetahuan, tetapi juga keterampilan. Karenanya, menjadi entrepreneur perlu latihan dalam inkubator yang disebut business start up. Tujuannya untuk merubah mindset dari zona aman dan nyaman menuju zona ketidakpastian, berani untuk mengambil resiko dan memunculkan the power of kepepet. Program business start up dimulai dari making money without money, bisnis kecil-kecilan atau bisnis dengan modal patungan.

Akhirnya, Indonesia bisa segera bangkit menjadi bangsa yang mandiri dengan menyiapkan para mahasiswa menjadi entrepreneur muda berkarakter mampu mengubah sampah dan rongsokan menjadi emas dan berlian. Hal itu bisa dimulai dengan memasukkan pendidikan kewirausahaan secara terpadu sebagai mata kuliah wajib di setiap perguruan tinggi.

Perguruan tinggi sudah mengarahkan mahasiswanya menjadi entrepreneur, namun persoalannya selama ini PT tidak mampu melatihkan teori ke dalam konsep nyata. Hal itu dikarenakan kurangnya praktek dalam kurikulum PT. Penekanan praktek dan teori belum seimbang. Untuk itu perguruan tinggi seharusnya melatih dan mengubah mindset mahasiswanya agar lebih berkotribusi bagi lingkungan sekitar. Lulus kuliah bukan mencari kerja namun menciptakankesempatan bagiorang lain untuk bekerja.

Pemerintah melalui DIKTI pun sudah merancang berbagai metode dan strategi yang mendorong mahasiswa agar tertarik untuk berwirausaha. Sedikitnya ada enam usaha/cara  yang penulis temukan dalam meningkatkan gema kewirausahaan bagi mahasiswa, diantaranya adalah pendirian pusat kewirausahaan kampus, entrepreneurship priority, pengembangan program mahasiswa wirausaha, program wirausaha mandiri untuk mahasiswa, program peningkatan kompetensi tenaga kerja dan produktivitas bagi mahasiswa, serta program pemberian modal usaha untuk mahasiswa.

Sedangkan beberapa gagasan sederhana yang bisa diimplementasikan ke dalam kurikulum perguruan tinggi dalam menumbuhkan geliat entrepreneurship diantaranya adalah menyusun kurikulum, peningkatan SDM dosen, membentuk entrepreneurship center(baik institusi kampus ataupun berupa organisasi kemahasiswaan), kerjasama dengan dunia usaha, membentuk unit usaha untuk mahasiswa, kerjasama dengan institusi keuangan (perbankan/non perbankan), serta entrepreneurship awards.


Pilih Kuliah atau Wirausaha ?

Stigma masyarakat yang menganggap mahasiswa yang berwirausaha hanyalah sebuah ajang euforia dan tren terbantahkan oleh penuturan mahasiswa dan mahasiswi berbakat yang sanggup memanajemen waktunya dengan baik. Menurut penuturan Syaiful, mahasiswa tahun kedua jurusan Public Relations AKINDO, Ia sudah mulai berwirausaha sejak SMK. Berawal dari passion-nya saat SMP, akhirnya tersalurkan karena terdesak kebutuhan biaya, setelah migrasi dari Demak menuju Jogja untuk melanjutkan studi di tingkat sekolah menengah atas. Kini Ia mempunyai usaha “Roti Kimcil” yang distribusinya menyasar ke mahasiswa seperti di AKINDO, UNRIYO, UIN SUKA, YKPN, AMPTA, STIPRAM.

 Lain halnya dengan Wurandika, yang mempunyai “Garmen Nagoya” berbahan dasar kain-kain motif khas Indonesia. Bersama satu teman baiknya, wanita yang akrab disapa Wika ini sudah memulai usahanya sejak pertengahan tahun lalu.

 Berbicara mengenai sebuah pilihan, mereka berdua  (Syaiful dan Wika) sepakat menjawab bahwa kuliah dan wirausaha menjadi satu kesatuan dalam hidup mereka. Kuliah adalah sebuah wadah dimana mereka menuntut ilmu, belajar bersosialisasi, dan membentuk pola pikir yang nantinya diaplikasikan ke dalam usaha yang mereka geluti. Mereka keukeuh untuk memilih kedua pilihan yang diajukan, yaitu kuliah sambil usaha. Pengorbanan memang sudah menjadi konsekuensi dari pilihan yang diambil, seperti kurangnya waktu istirahat dan bermain. Namun ketika mereka sudah memiliki visi mulia, yaitu membuat satu pekerjaan yang bisa memberdayakan orang-orang sekitar, maka semua pengorbanan tadi akhirnya tergantikan oleh rasa kepuasan yang tidak bisa dikalkulasikan dengan nominal apapun.

 Maka, pada akhirnya, esensi dari wirausaha yang sebenarnya bukan semata-mata mencari keuntungan finansial saja. Namun, dibalik sebuah profit, ada misi sosial dan spiritual yang mengiringi para wirausahawan. Ketika misi tersebut selalu dipegang, maka kesuksesan yang nantinya menjemput mereka.

Tim Penyusun : Ayu Khalimatus Sa’diah | Nadia Sellynda Januarita | Yopi Widianto | Zamhuriansyah Azhari

Postingan ini juga bisa dilihat di  cheryladora.wordpress.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s