Kontes Karikatur Nabi, Provokasi yang (Tidak) Sukses

American Freedom Defense Initiative (AFDI), penggelar lomba menggambar karikatur Nabi Muhammad di AS. (sumber gambar : Sindonews.com)

Setelah peristiwa penyerangan majalah satire Charlie Hebdo di Paris, Perancis terjadi pada tanggal 7/1 lalu. Kini peristiwa yang hampir serupa terjadi lagi, Jika di Paris majalah Charlie Hebdo berdalih menerbitkan kartun Nabi Muhammad sebagai sebuah bentuk “Kebebasan Berekspresi”, maka di AS, sebuah organisasi kontroversial, American Freedom Defense Initiative (AFDI) juga berdalih sama. AFDI mencoba meniru apa yang dilakukan Charlie Hebdo dengan menyelenggarakan sebuah pameran dan kontes perlombaan menggambar kartun Nabi Muhammad SAW di Curtis Culwell Center, Garland, Texas, Amerika Serikat, yang berlangsung Minggu (3/5) kemarin.

Perlu diketahui bahwa, Lomba menggambar kartun Nabi Muhammad SAW diselenggarakan oleh American Freedom Defense Initiative (AFDI), yaitu sebuah organisasi yang dikenal secara aktif terus menyebarkan kebencian terhadap Muslim di Amerika Serikat. Presiden lembaga tersebut, Pamela Geller, mengatakan kegiatan yang diadakannya bertujuan kebebasan berpendapat sebagai respons dari kekerasan ketika menggambar Nabi Muhammad di Charlie Hebdo. Gambar terbaik dari loma tersebut diganjar hadiah sebesar 10 ribu US Dollar. (Tribunnews.com, 4/5/2015)

Reuters mengabarkan bahwa pelaku penyerangan itu dilakukan oleh dua orang bersenjata serta membawa bahan peledak, 2 orang tewas akibat dari aksi penyerangan tersebut. Kedua pelaku penyerangan yang bernama Elton Simpson dan Nadir Soofi itu tewas setelah ditembak mati pasukan SWAT.


Timbulkan Kecaman

Bagi umat muslim sendiri, penggambaran Nabi Muhammad SAW adalah hal yang dilarang. Tentu wajar jika event ini dianggap telah menyinggung hati umat muslim, bukan hanya umat Muslim di Amerika saja, melainkan juga Muslim dunia. Apakah “Kebebasan Berekspresi” itu harus menimbulkan ketersinggungan dan sakit hati ? Tapi yang jelas bahwa tindakan ini adalah aksi provokatif yang mencoba memprovokasi Islam. Umat Muslim-pun kembali dihentakkan oleh aksi ini.

Sekretaris Umum MUI Jawa Barat HM Rafani Akhyar mengatakan lomba berhadiah Rp130 juta itu merupakan penghinaan terhadap umat Islam. “Apapun dalihnya, tindakan tersebut tidak bisa diterima. Mereka mengatakan ini (perlombaan karikatur) cermin kebebasan berekspresi. Kami tidak bisa menerima,” kata Rafani di kantor MUI, Jalan RE Martadinata, Nomor 105, Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (5/5/2015). (Jabar.metrotvnews.com, 5/5/2015).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak menilai kontes tersebut ialah kebebasan yang selalu menjadi kata kunci demokrasi, seringkali mengabaikan etika menjaga rasa dan perasaan antar umat beragama. Padahal tidak ada kebebasan yang diisi dengan hinaan dan kealpaan memahami “nilai” yang dipahami masyarakat. (Jpnn.com, 5/5/2015).

Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj menyesalkan adanya acara itu, karena acara seperti itu merupakan bentuk pelecehan terhadap agama (islam). “Jelas kami sangat menyesalkan adanya acara itu, karena itu bentuk pelecehan terhadap agama (Islam),” ujarnya di Jakarta, Senin (4/5/2015). (Tribunnews.com, 4/5/2015).


Provokasi yang (Tidak) Sukses

Dari kontes tersebut kita bisa menilai bahwa acara itu berhasil alias berhasil memprovokasi pelaku penyerangan untuk menyerang acara yang katanya “Kebebasan Berekspresi”. Mungkin hal itulah tujuan mereka, yaitu memprovokasi. Lalu, dari tindakan provokatif itu akhirnya menimbulkan sebuah tragedi yang menewaskan korban jiwa. Yang timbul di otak saya adalah sebuah pertanyaan. Apa tujuan utama mereka ? Apakah murni tindakan mengapresiasi sebuah Kebebasan ? Atau justru tujuan utama dari acara itu adalah untuk memprovokasi ? Tapi yang jelas, acara itu sukses terlaksana sekaligus juga sukses memprovokasi pelaku penyerangan.

Namun di lain sisi, kita juga bisa menilai acara kontes provokatif itu tidak sukses, ya tidak sesukses pendahulunya, yaitu Charlie Hebdo. Dalam hal ini AFDI gagal menyedot perhatian dunia yang kemudian bermetamorfosis menjadi dukungan. Media juga tidak terlalu “heboh” memberitakan “Kebebasan Berekspresi” versi AFDI ini. Tokoh-tokoh dunia juga tak terlihat “unjuk gigi” seperti seruan-seruan yang ada pasca peristiwa Charlie Hebdo sebelumnya. Kesimpulannya ialah, AFDI gagal meniru kesuksesan Charlie Hebdo dalam hal menarik simpati dan dukungan publik. Mungkinkah publik dunia sudah mulai bosan untuk bersikap dengan peristiwa provokatif semacam ini ? Saya tidak mendengar demonstrasi besar seperti “Je Suis Charlie” untuk acara “Kebebasan Bereskpresi” ala AFDI ini.

Ya, AFDI berhasil memprovokasi, tapi tidak untuk menarik dukungan seperti yang didapat kakak”-nya. Dukungan dari publik seperti tidak terdengar sama sekali. Pemberitaan media yang “pro” dengan aksi provokasi juga terlihat minim. Mudahnya, “Kebebasan Berekspresi” ala AFDI ini tidak menimbulkan dukungan dari pihak ketiga, bandingkan dengan Charlie Hebdo yang bisa menjaring simpati publik perancis beserta menguasai publisitas media. Tidak ada pihak ketiga yang mencoba (terdengar) bersuara membenarkan aksi AFDI ini. Nah, saya rasa kecil kemungkinanan wabah “Islamfobia” tumbuh akibat dari Provokasi ala Pamela Geller ini. Artinya, efeknya tidak sekuat Charlie Hebdo, mesikupan acara itu turut mengundang seorang politikus anti-Islam asal Belanda, Geert Wilders. Acara tersebut tetap saja terlihat “sepi”.


Disia-siakan

Sukses atau tidaknya acara tersebut, mari kita kesampingkan hal tersebut. Justru yang saya rasakan adalah sebuah ketersia-siaan yang ditimbulkan dari acara itu. Secara tidak langsung acara itu telah menyia-nyiakan sesuatu. Lihat dua orang korban yang tewas akibat penyerangan tersebut, jika acara provokatif ini tidak terlaksana mungkin dua orang korban yang tewas tersebut mungkin masih menikmati kopi pagi keesokan harinya. Lihat para karikaturis yang tenaga dan kreatifitasnya coba dieksploitasi demi terwujudnya acara provokasi yang mengarah pada penistaan Agama, sungguh disayangkan. Alangkah sia-sianya sebuah karya yang dinilai indah secara seni tapi justru mengejek dan menyinggung hati. Apakah arti sebuah hadiah uang, jika hal yang dilakukan demi sebuah hadiah tersebut menyebabkan sakit hati bagi orang lain ?

Tentu, teragedi itu harus dipandang dan dicermati secara menyeluruh, termasuk dari sisi aksi dan reaksi. Tidak ada asap, jika tidak ada api. Peristiwa peyerangan itu tidak muncul sendirinya, bukan ? Andai jika acara provokatif ini tidak ada, penyerangan itu mungkin saja tidak terjadi. Hanya menyalahkan pelaku penyerangan itu jelas tidak adil, bukan ? AFDI sebaga penyelenggara patut juga dipertanyakan, entah acara yang dibuat organisasi ini murni sebagai bentuk provokasi atau tidak, yang jelas Pamela Geller dan organisasinya ini secara tidak langsung telah menciptakan kesia-siaan yang sangat tidak perlu. Apakah Kebebasan berekspresi itu harus menimbulkan ketersinggungan dan sakit hati ? Jawabannya ialah “Kebebasan Berekspresi” tidak harus menyinggung apalagi menyinggung hati banyak  orang.

Tapi, mengapa AFDI tetap melaksanakan aksi provokatif yang sudah jelas-jelas bisa memicu kemarahan pada diri seorang pemeluk agama jika merasa akidahnya dilecehkan ? Sengaja atau tidaknya AFDI melaksanakan acara pameran tersebut, yang jelas mereka telah menyinggung hati publik khususnya umat Muslim. Seharusnya mereka tidak “nekad” untuk melakukan hal yang tidak seirama dengan “public interest” khususnya umat Muslim.


Yah, semoga saja aksi-aksi semacam ini tidak lagi terjadi. Supaya tidak ada lagi yang merasa tersakiti, sehingga tidak ada lagi aksi “sok” kuat yang bersifat desdruktif hingga menimbulkan korban jiwa. Mungkin pernyataan dari Sosiolog Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Musni Umar bisa menjadi salah satu solusi agar aksi provokatif seperti ini bisa terhenti.

“cara yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan berdialog. Dialog yang bisa dilakukan, lanjut dia, antara lain dialog peradaban, yaitu berupa dialog untuk membangun saling pengertian dan saling memahami antar satu sama lain.” (Republika.co.id, 6/5/2015)

#CMIIW | Related Post : Perang Persepsi Pasca Peristiwa “Charlie Hebdo

Advertisements

2 thoughts on “Kontes Karikatur Nabi, Provokasi yang (Tidak) Sukses

    1. Iya, itu juga yang saya pikirkan… Saya pikir mereka sudah jelas memahami dampak atas aksi mereka itu. Aksi itu jelas menyakiti hati seorang muslim, mereka tahu itu. Sudah jelas, aksi mereka murni untuk memprovokasi daripada (bukan sebagai) bentuk apresiasi.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s