DPR, Krisis “Public Trust” Kepercayaan Publik

Gedung DPR-RI (sumber gambar : eramuslim.com)

Dewan Perwakilan Rakyat kembali berencana membangun gedung baru mulai Mei, mendatang di Kompleks Parlemen, Senayan. Wacana ini dimunculkan kembali dengan alasan demi tersedianya perpustakaan, museum, pusat riset, dan ruang kerja untuk tenaga ahli dan staf anggota DPR yang jumlahnya bertambah. DPR menganggap pembangunan ini merupakan kebutuhan untuk menjadikan gedung parlemen sebagai ikon nasional.

Rencana itu mulai mengemuka saat diumumkan Ketua DPR Setya Novanto pada rapat paripurna penutupan masa sidang ketiga DPR, Jumat (24/4/2015). Saat itu, Setya mengumumkan dibentuknya tim kerja pembangunan gedung baru DPR. (Kompas.com, 3 Mei 2015).

Namun, rencana tersebut justru menimbulkan banyak respon negatif publik. Hal itu terlihat dari beberapa tanggapan yang menyudutkan DPR sebagai pihak yang mengajukan pembangunan gedung baru. Sebenarnya apa yang salah dengan wacana ini ? Mengapa DPR selalu mendapatkan reaksi yang cenderung tidak memihak mereka (DPR) ? Bahkan beberapa pengamat menilai wacana ini terlalu dipaksakan dan justru mencederai hati rakyat.

“DPR tidak perlu membuat gedung baru atau merenovasinya, karena itu sama saja mencederai hati rakyat. Apalagi DPR saat ini sedang berkonflik, sehingga tidak kerja-kerja,” kata Anggota DPD RI, Abdul Azis Khafia kepada Harian Terbit, Minggu (2/11/2014). (Harianterbit.com, 3/11/2014).

Entah apakah rencana ini termasuk rencana yang benar-benar dibutuhan atau hanya sekedar keinginan saja, yang jelas DPR masih belum berhasil mengambil hati publik agar diberi dukungan alias restu sehingga rencana ini berpeluang untuk terealisasi tanpa dihiasi polemik. Saya melihat situasi yang dihadapi DPR saat ini adalah situasi krisis. Ya, krisis kepercayaan publik.

“DPR menganggap penampilan fisik melalui gedung parlemen megah merupakan sesuatu yang penting. Padahal, yang paling mendesak bagi DPR saat ini adalah kerja, kerja, dan kerja, bukan sebaliknya, ruang kerja,” ujar Lucius di Jakarta, Selasa (28/4). (Beritasatu.com, 28/4/2015)

Publik masih menilai kinerja dari para wakil rakyat masih dibawah ekspektasi. Bagaiamana ingin diberi dukungan jika kinerja yang diperlihatkan tidak sama dengan apa yang diekspektasikan oleh publik. Menurut saya, hal utama yang harus dilakukan oleh DPR ialah membuat publik percaya dengan eksistensi dari lembaga legislator itu sendiri. Caranya ? Perlihatkan dulu kinerja serta prestasi nyata kepada publik.

Pendek kata, Sebelum DPR menginginkan “hadiah”, DPR harus memperlihat sebuah value atau bukti yang dapat memenuhi harapan masyarakat Indonesia. Publik menuntut DPR untuk memberikan sebuah kinerja yang baik bukannya konflik kepentingan politik yang tidak ada kaitannya dengan kepentingan rakyat. Dengan kata lain, DPR harus menjalankan fungsi sang Legislator yang sebenarnya. Rapor DPR tidak boleh merah lagi.

Membuat publik percaya tidak cukup dengan hanya sekedar mensosialisasikan hitung-hitungan logis saja. Apa yang terjadi Jika DPR masih betah berada pada posisi krisis ini ? Otomatis, posisi itulah yang memicu wacana gedung baru ini akan terus diiringi oleh gelombang penolakan dari masyarakat. Sekali lagi, satu-satunya cara membalikan “krisis kepercayaan publik” ini ialah dengan mempertunjukkan kinerja yang representatif atau seirama bagi kepentingan dan ekspektasi publik.

Advertisements

10 thoughts on “DPR, Krisis “Public Trust” Kepercayaan Publik

    1. itu mungkin udah jadi rahasia publik. Selama DPR belum mau bergerak jadi sosok representasi rakyat, kepercayaan publik akan tetap sulit terjaring, T_T

      Like

  1. Kepercayaan publik adalah elemen utama. Kepercayaan publik menjadi modal yang berharga untuk kepentingan DPR dalam hal menentukan kebijakan publik ataupun dalam menilai kinerja. Selama kinerja masih buruk dalam artian banyak kebijakan yang bertentangan dengan kepentingan publik besar kemungkinan kepercayaan publik masih belum bisa didapatkan dalam waktu dekat.

    Ada dua elemen disini. Institution Image yang masih negatif dan personal image dari para anggota DPR yang masih banyak terindikasi korupsi dan banyak skandal termasuk skandal-skandal tidak penting.

    Liked by 1 person

    1. Wah… iya Bang… Image DPR baik secara institusi maupun individu masih belum belum bagus. Tapi jusru mereka seperti enggan (minim) aksi untuk memperbaiki image tersebut.

      Like

  2. yubs setuju bang dengan opini diatas, tp menurut saya sudah terlalu sulit untuk membangun kepercayaan terhadap DPR, dengan image buruk yang sudah tertanam dalam benak rakyat selama bertahun”. 😀

    Liked by 1 person

    1. Image Recovery itu emang cukup sulit, bang… tapi bukan tidak mungkin… selama DPR mau berubah menjadi lebih baik lagi, pasti ada secercah harapan.

      Tapi… ya, saya setuju ama bang Prakosa, sudah terlalu sulit.

      Liked by 1 person

      1. hihihi mungkin sudah saatnya bang wajah-wajah lama yang demen banget nongkrong di gedung pantat senayan yang hobinya cuman nonton bokep pas sidang tp sering nuntut fasilitas macem” di ganti dengan generasi yang baru yang seger dan punya etos kerja jempolan. 😀

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s