“Bahaya Narkoba” Harus Terdengar Publik Dunia

sumber gambar (suryaonline.co/images)

Akhir-akhir ini kita bisa merasakan gejolak pro-kontra tentang hukuman mati yang tengah (masih) diterapkan Indonesia. Banyak Pro-Kontra yang terjadi di dalam negeri, terlebih lagi kecaman reaksi kontra Hukuman Mati oleh publik dunia. Kemudian, gejolak ini menjadi sorotan media, bukan hanya media nasional melainkan media internasional.

Keputusan Indonesia untuk mengeksekusi mati terpidana narkoba pada 18 Januari lalu menimbulkan pro dan kontra di tengah komunitas dunia. Pemerintah Indonesia bersikeras akan tetap melaksanakan eksekusi mati kasus narkoba gelombang kedua. Namun konsekuensinya adalah, aliran protes dari masyarakat internasional dalam beberapa waktu terakhir akan kembali deras.

Untuk media lokal di indonesia, dominan pemberitaan kemudaratan Narkoba sudah terdengar serta menyentuh opini publik indonesia secara umum. Namun, sisanya ialah kampanye Indonesia ke media-media internasional untuk bisa memberi pemahaman publik dunia, karena kita tahu sendiri bahwa media-media internasional (masih) lebih cenderung memasifkan pemberitaan terkait “kontra Hukuman Mati” secara aspek HAM.

Ironis memang, pesan kita yang seharusnya lebih bisa tersebar ke publik dunia bahwa Indonesia mengkategorikan masalah Narkoba berada pada sebuah PRIORITAS, ini justru terlihat sepi. Kita bisa melihat itu dari ketimpangan antara dukungan publik indonesia dan publik dunia. Dengan kata lain, pemahaman publik indonesia tentang kebencian terhadap narkoba tidak sejalan dengan pemikiran publik dunia. Apakah ini hanya soal berbeda kepentingan saja ? Antara Indonesia dengan masalah narkobanya dan pihak luar yang berkeinginan membebaskan warga negaranya dari jerat hukuman ? Atau mungkin dampak negatif Narkoba beradu dengan dikaitkaannya aspek HAM yang dicederai oleh hukuman mati ? Entahlah.

Saya tidak terlalu kaget ketika muncul pemberitaan bahwa salah seorang artis indonesia-pun (yang menetap di eropa) ikut menyoroti Hukuman Mati yang diterapkan Indonesia, bahkan menyurati bapak Joko Widodo selaku Presiden RI. Karena mungkin saja “menu” pemberitaan yang ia konsumsi ialah suguhan khas media-media internasional. Artinya bahwa setiap individu bisa saja menempatkan diri pada sudut Pro ataupun sudut oposisi hukuman mati tergantung dari “menu suguhan” yang dominana dinikmatinya.

Ada hal menarik dari fenomena ini. Publik indonesia mengerti dengan kebencian mereka terhadap dampak Narkoba, namun hal itu belum tentu (justru seakan tidak) berlaku bagi publik dunia yang melihat Hukuman Mati dari sudut Aspek HAM. Jelasnya kita (publik Indonesia) harus memberikan pengertian terhadap publik dunia agar mereka mengerti sebarapa bencinya sebagian besar masyarakat Indonesia terhadap Narkoba.

Nah, mungkin alangkah baiknya jika kita semua sebagai stakeholder yang berkepentingan mendukung agenda “Berantas Narkoba” mulai bersuara dan membantu Pemerintah dalam meyakinkan publik dunia. Kita coba mengesampingkan dulu masalah “benar atau salahnya” Hukuman Mati itu, karena yang menjadi masalah disini ialah “Bahaya Narkoba” versi Indonesia tidak begitu terdengar ke telinga Publik Dunia. Masih mau Indonesia terus-terusan disudutkan ?

Pertanyaan terakhirnya adalah, masihkah pantas Hukuman Mati diterapkan ? Daripada terjebak di posisi yang dilematis, sama seperti postingan saya sebelumnya, jawaban saya adalah memfokuskan diri pada tindakan preventif untuk meredam gempuran “pesona” Narkoba itu.

#CMIIW

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s