Kisruh KPK vs POLRI : Melemahnya “Public Darling” atau Bangkitnya Para Koruptor ?

sumber gambar : Tempo.co

Kita pasti sudah tidak asing lagi dengan Kisruh “Kriminalisasi” antar KPK vs POLRI, bukan ? Banyaknya kesimpang siuran plus ketidakjelasan jalan ceritnya membuat publik seakan dibuat kebingunan. Siapa Pihak yang benar ? (Menurutku) Penekanananya ada pada “public power”, ya, kekuatan publik. Secara de jure KPK mungkin saja bersalah, tapi sebagian besar publik Indonesia punya interpretasi lain. Apa yang sudah dipredikisi sejak awal dari kisruh KPK vs Polri ini ialah bukti atau timbulnya reaksi publik yang merasa “sakit hati” karena KPK terancam bubar. Mengapa saya katakan “sakit hati” ? jawabannya ialah, KPK adalah “Public Darling”.

Tapi, para elite politik menilai bahwa KPK layak di”bubar”kan karena secara hukum para petinggi KPK dinilai bersalah oleh hukum (Hakim). Namun kembali, publik menginterpretasikan hal yang berbeda dari apa yang ditafsirkan oleh para elite politik (sosok-sosok elite itu bisa disearch sendiri ya!?).  Apakah KPK terancam bubar karena reputasinya dilemahkan oleh hasil praperadilan itu ? Namun, kita bisa melihat bagaimana respon publik saat ini ? tidak ada tanda-tanda atau sinyal bahwa publik kecewa dengan KPK. Lalu, citra, kredibilitas dan reputasi pihak mana yang terancam ? – Anda sendiri tahu dan bisa melihat bahkan bisa secara yakin merasakannya sendiri, bukan ? Yup, para aktor-aktris yang “kontra” KPK bisa dijadikan jawaban.

“Persepsi publik ditentukan bagaimana publik menilai sebuah fakta yang terjadi berdasarkan tafsiran individunya. Kadang publik menilai sesuatu dengan pertimbangan rasional dan kadang hanya atas dasar belas kasih yang kemudian bermetamorfosis menjadi simpati dan dukungan yang luar biasa.” Demikian apa yang disampaikan Firsan Nova dalam bukunya “Republic Relations”.

Lalu, Bagaimana dengan Interpretasi publik terhadap aksi Polri ? Saya rasa ini sudah bukan sekedar interpretasi umum masyarakat lagi, tapi sudah jadi reaksi publik yang mengecam kisruh yang dinilai sebagai pelemahan KPK ini, hal itu terbukti dari munculnya #SaveKPK. KPK sudah menjadi “Public Darling” yang sudah terlihat jelas dengan dukungan dan simpati publik yang mengalir ke arah KPK, walaupun masalah praperadilan yang menyebut KPK “bersalah” masih berlanjut. Justru publik melihat “KPK Terancam Bubar” lebih tepatnya “Mencoba dibubarkan”. Mudahnya, “Publik tidak menginginkan KPK dibubarkan”.

Sekali lagi, mengapa saya menyebut KPK sebagai “Public Darling” ? Yup, KPK dinilai telah menjalankan kinerja dan memenuhi ekspektasi publik yaitu Berantas Korupsi yang sudah menjadi agenda kolektif bangsa. Tidak heran simpati dan dukungan publik terus mengalir pada KPK. Walaupun secara de jure KPK dinilai salah dalam penetapan BG sebagai tersangka. Tidak berlebihan jika dalam kasus itu publik menilai bahwa peristiwa itu mengindikasikan bahwa “Kebangkitannya para Koruptor dan Kematian Pemberantasan Korupsi”. Itu merupakan salah satu interpretasi dan respon dari publik.

Dibalik ketidakinginan publik supaya KPK dibubarkan, kebencian publik terhadap pihak-pihak tertentu juga pasti ada. Siapa pihak-pihak itu ? Anda pasti tahu jawabannya, bukan (jika mengikuti perkembangan kasusnya) ? Artinya, kasus tersebut berimplikasi pada citra dari pihak-pihak yang dianggap terlibat dan menjadi dalang leburnya KPK. Bahkan berpotensi mendapat kecaman hingga memculkan kebencian dari publik.

#CMIIW

Advertisements

2 thoughts on “Kisruh KPK vs POLRI : Melemahnya “Public Darling” atau Bangkitnya Para Koruptor ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s