Intimidasi yang Memaksa atau Persuasi yang Edukatif ?

Baru-baru ini, ada kabar berita tentang salah satu anggota DPRD suatu daerah yang mengusulkan bahwa “Keperawanan atau Keperjakaan” menjadi salah satu syarat kelulusan sekolah. Nah, ini dilatarbelakangi oleh keprihatinannya atas angka… ya IRONIS, tahu sendirilah namanya juga zamn sekarang. Bagaimana menurut ente perihal usulan ini ?

Komisi Nasional Perlindungan Anak merilis data bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Hal tersebut diakibatkan besarnya rasa keingintahuan remaja SMP terhadap seks. Hasil lain dari survei itu, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film porno. Komnas memperkirakan, dengan semakin banyaknya peredaran video mesum seperti sekarang, angka itu semakin meningkat lagi. (Kompas.com, 13 Juni 2010).

“Kami yakin hal tersebut akan lebih meningkat lagi dengan adanya video yang sekarang ini beredar,” kata Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam konferensi pers di Sekretariat Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (12/6/2010). (Kompas.com, 13 Juni 2010).

Komnas memperkirakan, dengan semakin banyaknya peredaran video mesum seperti sekarang, angka itu semakin meningkat lagi. “Kami yakin hal tersebut akan lebih meningkat lagi dengan adanya video yang sekarang ini beredar,” kata Sekretaris Jenderal Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait dalam konferensi pers di Sekretariat Komnas Perlindungan Anak, Sabtu (12/6/2010).

Komisi Nasional Perlindungan Anak merilis data bahwa 62,7 persen remaja SMP di Indonesia sudah tidak perawan. Hal tersebut diakibatkan besarnya rasa keingintahuan remaja SMP terhadap seks. Hasil lain dari survei itu, ternyata 93,7 persen siswa SMP dan SMA pernah melakukan ciuman, 21,2 persen remaja SMP mengaku pernah aborsi, dan 97 persen remaja SMP dan SMA pernah melihat film porno. (Kompas.com, 13 Juni 2010).

Ane sih cukup setuju dengan wacana “Keperawanan atau Keperjakaan” menjadi salah satu syarat kelulusan. Hanya saja, Kalo ane cermati, wacana ini terlihat intimidatif yg lebih terkesan “memaksa”. Hal ini mengindikasikan bahwa “pihak-pihak terkait” kehabisan stok cara-cara yang bersifat persuasif untuk mengedukasi para siswa agar tidak “kebablasan” terlalu jauh.

Letak (poros) persoalannya adalah, dari wacana tersebut membentuk sebuah keterpaksaan,  bukannya pemahaman bahwa hal itu tidak baik. Harusnya siswa ditreatment untuk mengerti bahwa hal itu (pergaulan bebas) tidak baik baginya. Simplenya, “kamu harus ! karena hal itu tidak baik,” Bukannya “kamu harus ! jika tidak kamu dihukum”.

Bicara soal keefektifannya, tentu wacana ini cukup potensial dalam memenuhi ekspektasi. Yup, ane rasa akan cukup efektif. Namun kembali lagi, efektifitas itu dikarenakan para siswa merasa “terpaksa” atau “takut” dengan konsekuensinya. Alangkah baiknya jika, cara-cara persuasif-nan edukatif yang dimasifkan. Tentunya dengan opsi ini akan memunculkan para siswa yg benar-benar memahami bahwa hal tersebut tidak baik, bukan karena doktrin apalagi intimidasi seperti ini.


Nah, menurut ane opsinya ada dua, yaitu :  (1) Efektifitas yg Intimidatif atau (2) Efektifitas “kecil” yang edukatif.

CMIIW 😀
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s