Perang Persepsi Pasca Peristiwa “Charlie Hebdo”

Perang Persepsi Pasca Peristiwa 'Charlie Hebdo' - 19 Januari 2015.jpg
Kantor Majalah Charlie Hebdo, Perancis. (sumber gambar: cnn.com)

Awal tahun baru 2015, masyarakat dunia dikejutkan oleh sebuah peristiwa penyerangan sebuah kantor majalah satir Perancis, Charlie Hebdo di Paris. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 7 Januari 2015 lalu. Dua orang yang disinyalir sebagai pelaku serangan dikabarkan sudah tertangkap. Namun, dikabarkan bahwa sebanyak 12 orang dan 10 orang mengalami luka serius.

Peristiwa itu akhirnya mendapat sorotan publik dunia bahkan menimbulkan reaksi keras, ada pihak yang membela Charlie Hebdo dan tidak sedikit juga yang menyalahkan Charlie Hebdo. Khusus publik perancis, jelas mereka mengecam keras penyerangan tersebut. Mereka menyatakan solidaritas terhadap Charlie Hebdo. Para tokoh dan pemimpin dunia juga ikut ambil bagian dalam mengecam aksi serangan itu karena dinilai menyerang sebuah “Kebebasan Berekspresi”. Benarkah? Mengapa peristiwa semacam ini bisa terjadi? Tapi yang jelas, tidak ada asap jika tidak ada api, bukan? Dengan kata lain, setiap peristiwa pasti ada pemicunya.


Penyebab Terjadinya Penyerangan

Peristiwa serangan ke kantor majalah satir perancis Charlie Hebdo yang berbasis di Paris, Perancis ini diserang oleh dua orang yang mengaku sebagai ekstrimis Islam pada tanggal 7 januari lalu. Sebanyak 12 orang tewas dalam serangan itu.

Salah satu isu yang muncul terkait serangan terhadap Charlie Hebdo itu, ialah karena kenekatan majalah tersebut membuat kartun satire Nabi Muhamad dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu sempat membuat gerang sejumlah umat muslim, terutama kaum ekstrimis yang disinyalir sebagai penyebab serangan yang terjadi pada majalah itu.

Majalah Charlie Hebdo sudah beberapa kali memuat kartun yang terkesan menistakan Islam. Buktinya, Charlie Hebdo pernah menerbitkan edisi kartun Nabi Muhamad yang bertelanjang dan sampul bergambar Nabi Muhammad naik kursi roda yang didorong oleh seorang Yahudi Ortodoks. Edisi tersebut diterbitkan saat terjadi kecaman global atas film yang berjudul “Innocence of Muslims”. Imbas dari penerbitan tersebut ialah kecaman serta kemarahan umat Islam secara global hampir diseluruh bumi kepada Manajemen Charlie Hebdo.

Kelompok Muslim di Perancis mengajukan kegiatan yang dilakukan majalah (memuat karikatur yang dinilai menistakan akidah agama Islam) tersebut ke pengadilan Perancis. Namun, Mantan Presiden Perancis, Nicholas Sarkozy justru mendukung Charlie Hebdo. Dia membenarkan tindakan majalah itu sebagai bagian dari “kebebasan berekspresi” dan berbicara. Lalu, Pada 22 Maret 2007, Pengadilan Perancis menyatakan Charlie Hebdo tidak bersalah atas apa yang dituduhkan oleh kelompok Muslim di Perancis. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Selain lolos dari dakwaan, Charlie Hebdo juga mendapat banyak dukungan dari para tokoh eropa atas alasan “Kebebasan Berekspresi” mereka. Lalu Pertanyaannya, siapa yang harusnya disalahkan atas serangan yang terjadi? Hanya menyalahkan pelaku serangan itu tentu tidak adil, bukan? Karena ada alasan yang melatarbelakanginya. Dengan kata lain, tragedi itu bukan berdiri sendiri, (mungkin saja) serangan itu murni dilatarbelakangi aksi provokatif Charlie Hebdo berupa penistaan terhadap islam. Jika, hal itu memang penyebab terjadinya serangan itu, maka bisa dipastikan serangan itu tidak akan terjadi jika Charlie Hebdo tidak melakukan hal yang bisa memancing emosi publik khususnya umat Muslim.


Analisis Kasus “Penyerangan Charlie Hebdo

Imbas dari apa yang terjadi di kota yang terkenal dengan suasana romantisnya itu ialah kerusakan infrastruktur, dan mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Sekali lagi, siapa yang harusnya bertanggung jawab atas peristiwa yang terjadi ini? Pihak Charlie Hebdo ataukah pelaku penyerangan yang ditengarai sebagai ekstrimis beragama Islam?

Charlie Hebdo memuat karikatur Nabi Muhamma saw. Tentu hal ini berpotensi besar menimbulkan kecaman keras dari kalangan Muslim dunia terhadap Charlie Hebdo itu sendiri. Apakah Charlie Hebdo sudah mengatisipasinya? Sebelum majalah itu menjalankan program “nekat” itu, harusnya manajemen Charlie Hebdo sudah siap dengan konsekuensi-konsekuensi yang akan terjadi, bukan? Tapi, mengapa programnya terus dijalankan? Itu sebabnya saya sebut program Charlie Hebdo itu “nekat” karena sudah jelas-jelas akan menimbulkan kontroversi. Apakah hal ini memang murni untuk meprovokasi Islam?

Jika saya boleh berasumsi, Charlie Hebdo yakin dengan kenekatannya itu karena sudah berada di zona aman atau “safe zone”. Itu terbukti dengan lolosnya mereka atas dakwaan, banyak pihak yang mendeklarasikan dukungan atas tindakan mereka, tak tanggung-tanggung tokoh-tokoh penting eropa bersuara lantang mendukung “kebebasan berekspresi” versi Charlie Hebdo pasca tragedi penembakan itu.

Sebanyak empat puluh orang tokoh dan pemimpin Negara ikut ambil bagian dalam aksi dukungan itu. Kanselir Jerman, Angela Merkel mengatakan serangan terhadap Charlie Hebdo sangat mengerikan. Merkel juga menambahkan bahwa penembakan di Perancis bukan hanya serangan terhadap rakyat di Perancis, tetapi juga serangan terhadap kebebasan pers dan kebabasan berpendapat. “Kebebasan” apakah yang dimaksud? Bebas berekspresi untuk menyinggung perasaan dan membuat ketersinggungan yang menyakiti hati?

Terlepas dari itu semua, Media massa sangat berperan penting dalam memblow up “kebebasan berekspresi” itu. Nah, hal itu mengindikasikan bahwa media sendiri berada pada pihak Charlie Hebdo. Lalu Bagaimana dengan latar belakang penyebab terjadinya penyerangan itu? Mengapa penyebab yang diasumsikan itu seakan disembunyikan? Apakah ini termasuk strategi komunikasi pihak mereka dalam membentuk opini dan persepsi publik bahwa penyerangan ini murni terorisme yang katanya menyerang “Kebebasan Berekspresi?”

Berkaca pada Charlie Hebdo yang mampu menguasai pemberitaan “Kebebasan Berekspresi” mereka melalui media. Hal itu mengindikasikan bahwa majalah itu menganggap “the media is powerfull” seperti yang disebut oleh Firsan Nova dalam bukunya “Republic Relations”, “Media tidak hanya sanggup mempengaruhi opini publik, tapi juga tindakan publik”. Maka, tidak heran jika aliran simpati publik mengalir deras kearah mereka (Charlie Hebdo).

Dari pemberitaan “Kebebasan Berekspresi” itu, pihak Charlie Hebdo dapat mengontrol, dengan kata lain bisa memanipulasi opini publik sehingga majalah itu bisa sedikit melonggarkan lilitan respon negatif public (terutama Muslim) tentang penistaaan agama. Ketika tuduhan penistaan Islam itu bisa tertutupi, Lalu bagaimana dengan para pelaku penyerangan itu? Adakah perubahan yang mereka ciptakan dari apa yang mereka lakukan?

Beralih pada sisi lainya, apa yang menjadi alasan pelaku menyerang majalah Charlie Hebdo? Apakah memang murni karena hal yang telah diasumsikan dan tertulis di awal? Jika Memang iya, Mengapa harus menggunakan cara kekerasan? Sama seperti Charlie Hebdo seharusnya mereka (pelaku) harus siap dengan konsekuensinya. Iya, saya pribadi mengerti bahwa timbulnya penyerangan itu merupakan salah satu reaksi dari seseorang penganut agama ketika akidahnya dilecehkan. Tapi, pasti ada cara yang lebih baik dari itu. Karena apa yang dilakukan oleh pelaku akan berdampak buruk baik untuk dirinya sendiri maupun pada orang banyak, dalam hal ini nama baik umat Islam-lah yang terancam.


Charlie Hebdo dan Tindakan Pelaku

Charli Hebdo, Majalah yang berbasis di Paris, Perancis ini seringkali memuat beberapa karikatur Nabi Muhammad saw yang kemudian menimbulkan kemarahan publik khususnya umat Islam karena dianggap menistakan akidah Islam. Hal itu, mengindikaskan bahwa Charlie Hebdo tidak mempertimbangkan efek yang ditimbulkan dari ulah mereka sendiri.

Diluar dari sengaja atau tidaknya Charlie Hebdo memuat hal itu, mereka haruslah belajar dari peristiwa yang terjadi. Karena kebijakan mereka sudah menyinggung hati publik terutama umat Islam. Walaupun apa yang dilakukan mereka atas alasan “Kebebasan Berekspresi”.

“Persepsi Publik ditentukan tergantung dari  bagaimana publik menilai sebuah fakta yang terjadi berdasarkan interpretasi individunya. Kadang publik menilai sesuatu dengan pertimbangan rasional dan terkadang hanya atas dasar perasaan belas kasih yang kemudian bermetamorfosis menjadi simpati dan dukungan yang luar biasa.” Demikian kata Firsan Nova : 2012 dalam bukunya, Republic Relations.

Seringkali dengungan “Islamfobia” masih bisa kita rasakan hingga saat ini. Istilah kontroversial yang merujuk pada diskriminasi terhadap islam. Runnymede Trust seorang berkebangsaan inggris mendefinisikan islamfobia sebagai “rasa takut” dan kebencian terhadap islam termasuk semua Muslim. Istilah itu muncul karena Islam diduga seringkali memiliki keterkaitan dengan banyaknya kejadian terorisme yang terjadi, terutama pasca peristiwa 11 september 2001.

Nah, Jika kita mengkaitkan metode penyerangan yang digunakan oleh pelaku dengan istilah “islamfobia” di atas. Maka saya berpendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pelaku penyerangan itu akan mempertegas stempel bahwa “Islam adalah Teroris”, otomatis istilah “Islamfobia” akan menjadi stigma negatif yang akan melekat pada Islam. Lalu bagaimana jika pelakunya bukan orang islam? Menurut saya akan sama lagi yaitu “stigma baru”. Tapi, itu kambali lagi pada pemberitaan media, apakah pelaku yang bukan beragama islam akan di-blow-up atau tidak. Namun, dari pengamatan saya, Media “pro barat” cendrung memblow-up tragedi terorisme jika dalangnya diduga berkaitan dengan Islam. Akibatnya, image atau citra Islam-lah yang terserang.


Perang Merebut Simpati Publik

“Jika perang pemasaran adalah bagaimana merebut pangsa pasar (market share), maka perang public relations adalah pertarungan merebut hati, empati, dan simpati publik. Mereka yang dapat meraih hati public akan memenangkan pertempuran.” Demikian juga ungkapan dari Firsan Nova dalam bukunya “Republic Relations”. So, Welcome to the era of public power.

“Ini bukan hanya serangan terhadap rakyat perancis, ini serangan terhadap nilai-nilai dasar yang kita anut di Negara ini – Kebebasan berbicara, kebebasan berekspresi dan kebabsan pers.” Ungkap Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest kepada CNN, ia mengecam keras serangan itu.

Sedangkan, Marsudi yang menyandang gelar Doktor bidang Ekonomi Islam tersebut coba menganalisa, aksi serangan ke Charlie Hebdo dipicu oleh kegemaran memuat karya jurnalistik yang tidak mengindahkan kaidah toleransi. Tidak hanya karikatur Nabi Muhammad sebagai ikon Islam, di beberapa edisi lainnya Charlie Hebdo juga kedapatan menjadikan Paus sebagai pemimpin tertinggi umat Katolik sebagai muatan medianya dengan nada ejekan. (Republika.co.id, 12/1).

Pihak pro Charlie Hebdo berusaha untuk membentuk persepsi publik bahwa penyerangan yang terjadi itu ialah penyerangan yang bukan hanya serangan terhadap rakyat perancis tapi juga serangan terhadap “Kebebasan Berekspresi” sebagai nilai-nilai dasar yang dianut. Sebaliknya, pihak yang kontra terhadap “Kebebasan Berekspresi” versi Charlie Hebdo akan berusaha mendapatkan dukungan publik atas dakwaan bahwa Charlie Hebdo telah melakukan penistaan agama. Mudahnya seperti ini, Charlie Hebdo berusaha membentuk opini bahwa Penyerangan itu adalah penyerangan terhadap “Kebebasan Berekspresi”, sedangkan lawannya berusaha membentuk opini bahwa penyerangan itu diakibatkan oleh “Kebebasan Berekspresi” yang kebablasan.

Menurut saya kedua belah pihak yang berseteru ini seperti melakukan pertaruhan. Jika, Charlie Hebdo kalah dalam pertarungan ini, reputasi dari majalah ini terancam memburuk alias memunculkan atau bahkan memasifkan berlakunya stigma bahwa majalah ini ialah majalah yang gemar “mengejek” agama. Sementara itu, jika pihak yang kontra terhadap Charlie Hebdo kalah dalam pertempuran ini, maka persepsi publik dunia akan menganggap penistaan yang dituduhkan kepada majalah Charlie Hebdo itu termasuk dalam bagian “Kebebasan Berekspresi”. Artinya, penistaan yang dilakukan majalah itu masih wajar (benar) dimata publik.

Dibalik pertempuran itu, nama Islam-lah sedang berada dibawah tekanan, karena pelaku serangan tersebut mengaku sebagai ekstrimis “Islam”. Maka, bisa kita prediksi bahwa “Islamfobia” akan semakin melekat jelas pada umat Muslim. Serangan itu berefek pada menguatkan kebencian publik dunia terhadap Islam. Sangat saya sayangkan pelaku penyerangan itu “make ngaku” dirinya sebagai ekstrimis Islam.


Komparasi Kekuatan

Dari penguasaan media dan dukungan dari banyak tokoh penting, saya rasa Charlie Hebdo menjadi pihak yang diuntungkan dalam konteks perang persepsi ini. Jika dibandingkan dengan pihak musuh (kontra Charlie Hebdo), kekuatannya tidak sebanding. Ibarat, “Pistol melawan Tank, terlebih lagi pelaku penyerangan “pake ngaku” sebagai ekstrimis “Islam”.

Pertama, Charlie Hebdo menguasai media, hal itu mengindikasikan bahwa publisitas “Kebebasan Berekspresi” versi Charlie Hebdo dapat menutup dakwaan bahwa majalah itu telah melakukan penistaan terhadap Islam. Teori Agenda Setting sedang berjalan dan tentunya memberi keuntungan pada pihak majalah tersebut. Karena, intensitas pemberitaan tentang penyerangan itu ialah penyerangan terhadap “Kebebasan Berekspresi” yang tentunya sangat efektif dalam pertarungan ini. Lalu bagaimana dengan pihak lawannya? Ya, mungkin kita masih sibuk dengan ancaman istilah “Islamfobia” itu.

Kedua, simpati yang terus mengalir pada Charlie Hebdo juga disebabkan oleh para tokoh penting yang mendukung Charlie Hebdo dengan alasan “Kebebasan Berekspresi”. Dukungan itu tentunya berdampak positif pada Charlie Hebdo, karena dukungan itu adalah alat seperti magnet yang dapat menyedot simpati publik dengan efektif.

Silih Agung Wasesa dalam bukunya yang berjudul “Strategi Public Relations” (Membangun Pencitraan Berbiaya Minimal dengan Hasil Maksimal), Bila iklan bertindak sebagai pihak pertama (manajemen) yang memuji-muji diri sendiri, maka PR harus mampu memanfaatkan pihak ketiga untuk memuji pihak pertama.

Maka saya rasa bahwa Charlie Hebdo, telah berhasil memanfaatkan pihak ketiga yaitu para tokoh penting seperti Presiden Perancis, Menteri Dalam Negeri Perancis, Kanselir Jerman, bahkan Presiden AS ikut memihak pada majalah tersebut, dengan alasan “Kebebasan Berekspresi”.

Lalu, bagaimana dengan pihak lawannya? Adakah tokoh-tokoh besar terutama penguasa Muslim yang bersuara berkaitan dengan peristiwa ini? Seperti sembunyi, enggan bersuara, atau bahkan takut “bekoar”? Atau mungkin dukungan itu tidak terekspose media? atau medialah yang dengan sengaja menutupi dukungan itu dan tidak dipublikasikan, demi menghambat perlawanan? Timbulah pertanyaan dibenak saya, kemanakah media-media yang independen itu? Media sekarang seakan larut dengan seni propaganda akut, Ironis.

Jika peristiwa ini dibiarkan begitu saja, itu artinya sama saja dengan membenarkan “Kebebasan Berekspresi” versi Charlie Hebdo itu sehingga hal itu akan menguatkan stigma “Islamfobia” itu. Tapi, harus bagaimana lagi? “Amunisi”-nya seakan tak mampu intens melawan “Infantri” Charlie Hebdo.

Jadi, dari banyak keunggulan yang ada pada pihak Charlie Hebdo itu, kita bisa melihat kekuatan yang dimilikinya dalam battle of opinions dengan pihak yang kontra terhadap “Kebebasan Berekspresi” mereka. Charlie Hebdo, menguasai point penting yaitu : Publisitas Media dan Dukungan (yang terekspose media) dari banyak tokoh-tokoh penting eropa bahkan dunia.


Segera Berubah!

Semuanya harus segera berubah, tidak ada lagi “Kebebasan Berekspresi” ala Charlie Hebdo yang menyakiti perasaan atau menimbulkan ketersinggungan pada suatu pihak. Tidak adalagi reaksi berlebihan seperti mengambil aksi “sok” kuat yang bersifat merusak apalagi sampai menelan korban jiwa. Selain dikenai ancaman hukum, pelaku juga telah mencoreng nama Islam, karena pelaku sendiri menggunakan topeng Islam dalam melancarkan serangan itu. Entah, berita itu benar atau tidak, The Current Image-nya adalah Islamfobia akan semakin menggema.

Tidak ada lagi aksi provokatif berupa penistaan terhadap agama seperti “Kebebasan Berekspresi” versi Charlie Hebdo yang justru didukung oleh pemerintah Perancis dan dibenarkan oleh Mahkamah Agung Perancis, Aksi itu sudah jelas-jelas bisa memicu kemarahan pada diri seorang pemeluk agama jika merasa akidahnya dilecehkan.

Kemana media yang memberitakan dengan berimbang? Kenapa hal yang diasumsikan sebagai penyebab terjadinya penyerangan itu seakan disembunyikan? Atau mungkin saya yang tidak mendengar pemberitaannya? entahlah. Tapi yang jelas, pemberitaannya terkesan menonjolkan sisi bahwa penyerangan itu adalah penyerangan yang tidak hanya pada rakyat tapi juga terhadap “Kebebasan Berkespresi” entah kebebasan apa yang dimaksudkan oleh mereka. Mestinya aksi-aksi provokatif Charlie Hebdo pantas dipertanyakan juga, karena aksi tersebut disinyalir sebagai penyebab terjadinya penyerangan yang terjadi di Perancis itu. [ara]

Advertisements

One thought on “Perang Persepsi Pasca Peristiwa “Charlie Hebdo”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s