Angkringan : Tenda Keakraban

290416432p
Angkringan. (sumber gambar: Kontan.co.id)

AKINDO Yogyakarta – Yogyakarta merupakan salah satu kota yang berpredikat istimewa yang dimiliki oleh Indonesia. Budaya dan kuliner yang beragam sangat identik dengan kota yang dijuluki sebagai kota pelajar ini. Namun, Tidak semua kalangan masyarakat kota Yogyakarta selalu menginginkan kemewahan nan mahal. Sesuatu yang bernuansa merakyat dan sederhana justru menjadi salah satu daya tarik sendiri dari Daerah Istimewa Yogyakarta.

Angkringan, merupakan tempat makan yang identik dengan kesederhanaannya ini banyak kita dapati di pinggiran jalan kota Yogyakarta, mulai dari pinggir jalan hingga gang sempit, dari tempat kawasan perkotaan hingga perkampungan dan bahkan Angkringan bisa kita dapati letaknya berdampingan dengan restoran-restoran elite. Warung sederhana yang hanya beratapkan terpal atau tenda yang berukuran 3×4 meter ini merupakan salah satu tempat favorite bagi masyarakat, sehingga tidak takut untuk berdampingan dengan restoran, hotel ataupun mall yang memiliki aura kemewahan.

“Selain terjangkau, suasana kebersamaannya itu yang bikin betah. Untuk Mahasiswa seperti saya, Angkringan merupakan tempat favorit,” terang Vanda (19) salah satu mahasiswa Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) Yogyakarta saat ditemui sedang bergelut dengan laptopnya di perpustakaan kampus, pada Kamis (30/10/2014) lalu.

Nasi Kucing, gorengan, aneka macam sate, serta berbagai minuman seperti kopi joss, dan es teh menjadi menu khas yang disuguhkan Angkringan yang rata-rata dibanderol dengan harga yang sangat ramah dikantong yaitu Rp 1000,- hingga Rp 3000,-. Tidak hanya itu, Angkringan juga khas dengan penerangannya yang hanya mengandalkan sebuah lampu yang disebut “senthir” dan dukungan lampu kota. Namun, walapun dengan cahaya yang minim di malam hari, tentunya tidak akan mengganggu selera makan anda karena dari anggapan masyarakat pada umumnya, disitulah letak keunikannya.

“Ciri khas angkringan ya seperti ini, nasi kucing, gorengan, aneka sate-satean dan wedang ,” ujar Bu Marni (38) salah satu pedagang Angkringan yang berjualan disekitar kawasan Maguwoharjo, tepatnya di depan kantor Disnakertrans, Yogyakarta. Pada Senin (27/10/2014) lalu.

Nama Angkringan sendiri berasal dari bahasa jawa yaitu “Angkring” yang berarti duduk santau atau nongkrong, hal tersebut sesuai dengan tampilan Angkringan yang cocok untuk duduk santai sembari menikmati suguhan khasnya. Para pedagang Angkringan sendiri biasanya menggelar tendanya mulai pukul 09.00 pagi hingga sore hari pukul 16.00, namun ada juga yang memilih menggelar jualannya pada sore hari dan mulai tutup pada sekitar 01.30 dini hari.

Uniknya lagi, mayoritas pedagang berasal dari daerah kecamatan Wonosari (Gunung Kidul, Yogyakarta) dan Bayat (Klaten). Para wara pedgang Angkringan yang dominan berasal dari kedua kota tersebut tidak hanya menyebar di beberapa wilayah Yogyakarta saja, melainkan juga menyebar di wilayah lain seperti Klaten, Solo, hingga Semarang.

Walaupun sederhana, banyak kalangan yang berkumpul santai meramaikan suasana khas dari gerobak yang ditutupi terpal ini mulai dari kalangan sederhana hingga Kalangan eksekutif turut berbaur menikmati suguhan sederhana yang khas Angkringan.

“Yang paling sering itu sih, para tukang becak dan tukang parkir. Tapi juga para mahasiswa dan pegawai kantor juga sering datang mampir. semuanya jadi akrab ngobrol-ngobrol, saya juga jadi seneng ngeliatnya.” Terang Pak Yanto (42). Pedagang Angkringan yang berjualan disekitaran Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta. Senin (30/10) lalu.

Selain Mengakrabkan, Para penjual angkringan juga selalu semangat dalam melayani para pelanggan. Terbukti, hampir semua angkringan yang saya datangi, para penjualnya selalu melebarkan senyum dan terkadang juga mengajak para pelanggannya berdiskusi sekaligus sebagai “moderator” untuk membahas topik-topik seru terutama politik.

Hal itu dibenarkan oleh Setyo, mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY) yang berasal dari Cilacap, Jawa Tengah ini menganggap Angkringan sebagai tempat diskusinya para pengamat politik.

“Kalo mau ngobrol seru khas para politikus, angkringan gak kalah sama gedung yang di senayan sana (gedung DPR-RI).” ujar Setyo yang ditemui saat sedang duduk santai dengan segelas es jeruknya di Angkringan yang berada di sekitaran Ngebel, Bantul, Yogyakarta.Kamis, (30/10/2014) lalu.

Maka tak heran jika Angkringan memiliki daya tarik tersendiri di hati masyarakat Yogyakarta. Selain memberi pengaruh pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, Angkringan juga mampu bertransformasi menjadi wadah yang mengakrabkan pelanggannya yang hampir menjangkau semua segmen. Jadi, Tidak ada salahnya anda sekali-sekali mendatangi tenda yang memang juga sudah menjadi identitas dari kota Yogyakarta nan Istimewa ini. Z.A-(h)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s